news
LIGA INTERNASIONAL
Defensa Juara Copa Sudamericana, Hernan Crespo Menangis dan Memeluk Ketiga Putrinya: Saya Tidak Melihat Mereka Selama Setahun
24 January 2021 10:40 WIB
berita
BANGGA - Hernan Crespo, mantan striker Chelsea, Parma, dan AC Milan, tampak bangga ketika memamerkan medali dan trofi Copa Sudamericana 2020 yang baru saja diraihnya bersama tim Defensa y Justicia. Klub Primera Division Argentina itu mengalahkan rival mereka, Lanus di laga final dengan skor 3-0 (topskor.co.ia/Twitter/CONMEBOLSudamericana).
PELATIH Defensa y Justicia menceritakan alasan mengapa ia mengambil tantangan bekerja jauh dari keluarganya dan menghargai kinerja timnya di final Copa Sudamericana 2020.

Setelah wasit Jesús Valenzuela mengakhiri pertandingan dan menetapkan Defensa y Justicia juara Copa Sudamerica 2020, Hernan Crespo seketika berlari ke pinggir lapangan dan langsung memeluk Nicole, Sofia, dan Martina.




Baca Juga :
- “Zlatan Ibrahimovic Rasis? Dia Bahkan Sangat Mencintaiku”
- 'Juara Whoah?': Thomas Tuchel Menegaskan Peluang Chelsea Sudah Hilang


Sang pelatih memegang erat ketiga putrinya tersebut, lalu menangis, tidak memperdulikan kamera para wartawan yang memutari mereka, mencari angle yang pas untuk mengabadikan momen yang bersejarah tersebut.

Maklum, sudah lebih dari satu tahun sejak mereka berempat, bapak anak, berangkulan seperti ini. Emosi berhamburan tanpa henti keluar dari dada Hernan Crespo. “Saya tidak melihat putri saya selama setahun,” katanya pada awal konferensi pers setelah timnya menang 3-0 atas Lanus.


Baca Juga :
- Ibrahimovic Buka Suara: Romelu Lukaku, di Dunia Zlatan Tidak Ada Tempat Untuk Rasis
- Manager Liverpool Jurgen Klopp Sebut Pemilik Chelsea Bukan Orang yang Paling Sabar di Dunia


Valdanito – julukan untuk Crespo - mengambil tantangan untuk tinggal di Argentina dan berada jauh dari keluarganya, yang tinggal di kota Modena, Italia, untuk menangani El Halcon atau The Falcon atau Si Rajawali.

Itulah sebabnya, kala menjelaskan alasan mengapa memutuskan untuk membuat komitmen seperti itu, Crespo berkata, “Bertaruh pada kelompok kerja ini dan kelompok pemain ini, mengetahui bahwa dalam hidup Anda harus berkorban, tetapi Anda tidak harus melakukannya. Anda harus percaya pada diri sendiri, pada ide dan juga pada para pemain. Ada alasan mengapa pilihan pribadi itu punya rezeki.”

“Pada hari ini putri-putri saya melihat tanpa ragu pertandingan terbaik dalam sejarah Defensa y Justicia, itu akan menjadi final yang sangat dikenang karena performa mereka.”

“Permainan yang dimainkan oleh para pemain saya adalah kerapian yang luar biasa, teliti, disiplin, tertib, berani, bernyali, percaya dengan sebuah cara, dan menerjemahkannya dengan otoritas yang mereka bentuk secara bersama.”

“Tak ada kesenangan yang lebih besar daripada bermain dengan cara kami bermain dan mendapatkan hasil yang kami dapatkan,” kata pelatih Defensa itu dengan senyum lebar.

Mei tahun lalu, mantan pemain Parma, Chelsea, dan AC Milan itu mengakui dalam wawancara dengan Infobae bahwa yang paling membuatnya khawatir tentang karantina adalah ketidakpastian dia akan bisa bertemu keluarganya lagi.

"Hal yang paling buruk adalah rasa sakit karena tidak tahu kapan saya akan bertemu dengan putri-putri saya lagi," Hernan Crespo mengakuinya.

Namun, pada hari Sabtu (23/1) malam, konsekrasi para pemain Defensa y Justicia itu pun mengakhiri kerinduan yang dirasakan Crespo. Ia mempersembahkan trofi pertama untuk klub asal Florencio Varela, Buenos Aires, sejak 1935, sekaligus juga menandai trofi pertamanya setelah lima tahun lalu memutuskan untuk memilih karier sebagai pelatih. 

Setelah itu Hernan Crespo melayangkan penghargaan yang tertinggi atas dedikasi seluruh pemain Defensa y Justicia: “Mereka memainkan pertandingan yang luar biasa, yang hampir tidak terlihat di final kontinental.”

“Saya meletakkan ide di atas meja, mereka menyimpannya, mendemonstrasikannya di lapangan. Saya akan berterima kasih kepada seluruh pemain atas apa yang telah mereka lakukan selama ini.

“Kami semua akan mengingat foto bersama trofi Copa Sudamerica dan medali ini, tetapi tanpa grup yang kuat, begitu Bersatu, saya sangat yakin ini tidak akan mungkin terjadi.”

Selanjutnya Hernan Crespo tidak lantas melupakan para pesaingnya, lalu seakan menunjukkan kerendahan hatinya, dia memberikan selamat kepada pelatih Lanus.

“Hari ini sebagai pelatih saya harus menang, tapi saya tidak ingin mengabaikan apa yang dilakukan oleh Luis Zubeldia, yang telah memberi ruang bagi banyak pemainnya.”

“Saya bukan pelatih yang lebih baik dari dia, hari ini tim saya harus menang, tetapi Anda harus menghormati saingan Anda dan hargai dia karena itu membuat Anda lebih besar.”

“Keindahan yang ditinggalkan para pemain ini adalah jika Anda mengabdikan diri, jika Anda memiliki disiplin, kekuatan untuk melakukannya setiap hari, agar tidak menurunkan lengan Anda melampaui ketidaknyamanan, untuk berpikir bahwa Anda tidak harus memotong jalannya.”  

“Kami tidak pernah memiliki masalah, kami menghormati wasit dan lawan."

"Tim ini memberi bukti bahwa Anda bisa menjadi bagian dari tempat kecil dan menjadi hebat. Ini bukan sekadar pesan olahraga, tapi juga pesan sosial,” ujar Hernan Crespo, yang mendadak terharu mengingat momen ketika tahu kabar kematian Diego Armando Maradona, yang dia definisikan sebagai “idola sepak bola terhebat”.

N
Penulis
Nurul Ika Hidayati