news
UMUM
McGregor (1) Vs Poirier: Kamp Pelatihan dan Proses Transformasi Itu Berawal di Lagos
22 January 2021 09:30 WIB
berita
KONDISI TERBAIK - Bintang MMA, Conor McGregor, memperlihatkan transformasi tubuh yang oleh sebagian orang dibilang merupakan tampilan terbaiknya (topskor.co.id/Twitter/ConorMcGregor).
CONOR McGregor berbaring di atas karpet oktagon, kedua tangannya terlipat di belakang kepala. Saat itu tanggal 5 Maret 2016, dan dadanya naik turun, menghembuskan napas dalam-dalam dan kuat.

Bintang seni bela diri campuran (MMA) itu baru saja mengalami kekalahan UFC pertamanya, melawan Nate Diaz. Saat menatap lampu di MGM Grand Garden Arena di Las Vegas, McGregor tahu mengapa dia kalah.




Baca Juga :
- Pacquiao Tegas, Tidak Tertarik Lagi Lawan McGregor setelah Pincang Ditendang Dustin Poirier
- Conor McGregor vs Floyd Mayweather Jilid  2 Digelar di Kapal Pesiar Mewah di Arab Saudi


Tepat tiga minggu kemudian, seperti dikisahkan oleh ESPN, McGregor mengirimkan pesan Facebook ke seorang teman lama, mantan pembalap sepeda profesional Colin Byrne.

Pada 26 Maret 2016, McGregor bertanya kepada Byrne apakah ia bisa membantunya untuk melatih daya tahan dan staminanya, menuliskan, "Saya pikir saya kesulitan dalam pertarungan itu karena kardio."


Baca Juga :
- Biarkan Aku Pukul Pantatmu yang Bohay!' Bintang UFC Mike Perry Melatih Tinju Pacarnya
- Momen Emosional, McGregor Dipeluk Tunangannya yang Hamil Dee Devlin Setelah Dihajar KO Poirier


Byrne merekomendasikan mantan juara bersepeda Irlandia, Julian Dalby, ahli fisiologi olahraga, lalu mengundang McGregor dan timnya ke Akademi MMA Shinobi miliknya di Lagos, Portugal. Ide pelatihan untuk seminggu pun berlanjut.

Hampir lima tahun kemudian, grup itu masih bersama. Dan saat Conor McGregor bersiap untuk duel utamanya UFC 257 melawan Dustin Poirier pada hari Sabtu (23/1) di Abu Dhabi, sebagian besar kamp pelatihannya itu berlangsung di Shinobi, lebih dari 1.000 mil jauhnya dari tanah air McGregor di Irlandia.

Seluruh tim McGregor meliputi pelatih MMA, pelatih pengkondisian, rekan tanding, ahli gizi, fotografer, dan banyak lainnya, turun ke Lagos di pantai Atlantik yang megah di Portugal.

Tidak ada turis di sekitar karena Covid-19, kata Byrne. Tidak ada penggemar yang mencoba melihat McGregor sekilas atau berkeliaran untuk selfie. Orang-orang di kota kecil itu, kata Byrne, hanya "bangga dia ada di sana".

Saat McGregor, mantan juara dua divisi, mencoba untuk kembali mengejar gelar ringan yang pernah ia pegang, gym Shinobi yang luas dengan view indah itu menjadi komponen kunci dalam pelatihannya - sekarang dan untuk masa depan.

"Inilah mengapa saya menginginkan tempat seperti ini," kata Byrne. "Sekarang itu salah satu dari sedikit tempat di mana Conor bisa pergi dan menjauh dari segalanya."

McGregor tidak berbasa-basi tentang persiapannya yang berbasis di Portugal untuk pertarungan Poirier, yang akan menjadi pertarungan ketiganya dengan berat 155 pound di UFC.

"Itu kamp terhebat, transisi berat terbesar yang pernah saya alami," kata McGregor dalam wawancara dengan Ariel Helwani dari ESPN. “Ini lebih dari sekadar latihan ketahanan. Dan, saya menerimanya."

Mei 2016, dua bulan setelah kekalahan dari Nate Diaz itu, Conor McGregor bersiap untuk terbang ke Lagos bersama pelatihnya John Kavanagh dan mitra tandingnya, Artem Lobov serta Lee Hammond.

Sebelum mereka meninggalkan Irlandia, Dalby terlebih dulu membawa McGregor ke laboratorium di Dublin untuk tes metabolisme dan membawa datanya ke Portugal.

Selama seminggu pertama, McGregor banyak bersepeda bersama Byrne dan Dalby, alih-alih berlari karena cedera pada lututnya cukup merepotkan.

Byrne dan Dalby kemudian menunjukkan pada Conor McGregor bagaimana membagi rutinitas, membagi latihan selama beberapa jam atau beberapa hari.

Byrne mengatakan masalah terbesar McGregor - akar dari masalah kardio yang dulu ia keluhkan - adalah bahwa bintang MMA asal Irlandia tersebut "overtrained".

"MMA cocok untuk orang-orang yang terlalu kompetitif," kata Byrne. "Mereka bersaing tentang 'orang pertama di gym, orang terakhir yang keluar dari gym'. Itu overtraining. Begitu Anda jatuh ke dalamnya, sulit untuk keluar dari itu."

Selama pelatihan minggu itu, Byrne dan Dalby meminta McGregor melakukan sprint lima kali per 30 detik di atas mesin dayung. Tetapi McGregor merasa itu tidaklah cukup.

"Ketika dia selesai, dia mulai melakukan chin-up dan ingin melakukan hal-hal lain," kata Byrne. "Saya berkata, 'Tidak, we’re done. Sekarang pulanglah, makan, tidur siang dan datang lagi nanti untuk sesi kedua.' Begitulah cara kerjanya."

Ketika McGregor dan tim akan meninggalkan Shinobi, ia mengajukan proposal untuk Byrne: Ikutlah denganku. McGregor sedang menuju ke Islandia dan kemudian Las Vegas untuk kamp pelatihannya untuk mempersiapkan pertarungan keduanya lawan Diaz, di UFC 202 pada 4 Agustus 2016. Byrne setuju.

Tiga bulan kemudian, kardio Conor McGregor kembali diuji di ronde kedua dan ketiga dari pertandingan ulangnya melawan Nate Diaz, tapi ia memenangkan ronde keempat dengan kemenangan keputusan mayoritas.

"Kndisinya telah meningkat pesat sejak awal, sejak pertarungan Nate Diaz 2," kata Colin Byrne. "Ini sesuatu yang tidak hanya dapat kami katakan lewat observasi, tetapi kami dapat mendukungnya dengan data fisik dan bilangan nyata." (Bersambung)

N
Penulis
Nurul Ika Hidayati