news
LIGA INGGRIS
Liverpool Memiliki Problem yang Sama dengan Real Madrid, PSG, Bayern Munchen, dan Juventus
13 January 2021 11:06 WIB
berita
AWAL LAGI - Pelatih Jurgen Klopp dan skuat Liverpool menghadapi sorotan terkait performa mereka dalam tiga pertandingan terakhir di Liga Premier: dua kali seri dan sekali kalah. Akhir pekan ini, The Reds akan menghadapi Manchester United dan itu bisa jadi awal kebangkitan mereka.
BAGI sebagian orang, performa Liverpool baru-baru ini sudah cukup untuk membuat mereka khawatir.

The Reds, tanpa kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir di Liga Premier, telah membuang peluang yang tersaji dengan rapi untuk mempertahankan gelar yang menjadi hak mereka dari para pemburu takhta mana pun dalam beberapa pekan terakhir.




Baca Juga :
- Spurs Launching Akun Twitter Berbahasa Korea, Son Dapat Lima Emoji Khusus
- Catatkan Rasio Gol Terburuk di PSG, Taktik Mbappe agar Dilepas ke Real Madrid?


Setelah melewati musim gugur yang berselimut cedera dan jadwal padat, Liverpool tampaknya akan benar-benar memulai menggebrak lagi pada 19 Desember saat mengalahkan Crystal Palace 7-0.

Kemenangan yang memecahkan rekor di bawah kepelatihan Jurgen Klopp itu cukup untuk membawa mereka unggul lima poin dari tempat kedua Everton di puncak klasemen.


Baca Juga :
- Tujuh dari Empat Pemain Real Madrid Diragukan Tak Dapat Perpanjangan Kontrak, Sergio Ramos?
- Dele Alli Ditunggu Pochettino di PSG, Christian Eriksen Bisa Kembali ke Tottenham


Itu, pada saat itu, seakan sebuah peringatan yang tidak menyenangkan bagi semua orang yang menganggap diri mereka penantang nyata untuk gelar Liverpool.

Bukan itu yang terjadi. Hasil imbang yang mengecewakan lawan West Brom dan Newcastle United, diperparah dengan kekalahan kedua musim ini di pertandingan pertama The Reds pada tahun 2021, di Southampton.

Tiga hasil buruk dalam delapan hari itu menghentikan momentum positif Liverpool dan memungkinkan para rival seperti Manchester United dan Man City untuk kembali mengejar ketertinggalan.

Kemenangan di masing-masing pertandingan di tangan untuk kedua klub Manchester tersebut akan membuat Liverpool turun ke posisi ketiga.

Kekalahan di St Mary's – markas Southampton - adalah yang kedua bagi Liverpool dalam 17 pertandingan yang dimainkan sejauh ini di divisi teratas.

Meskipun statistik itu sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan, butuh 32 pertandingan bagi skuat The Reds untuk menderita jumlah yang sama musim lalu.

Gelar Liga Premier juga telah dimenangkan Mohamed Salah dan kawan-kawan saat Manchester City berjaya di Etihad pada 2 Juli.

Jadi, apakah pasukan Jurgen Klopp akan menetapkan ekspektasi yang tidak realistis ke depannya?

Lalu, apa yang bisa dipelajari dari juara sepak bola Eropa lainnya di tengah-tengah kampanye yang sama?

Sementara Liverpool memenangkan gelar dengan 18 poin kekalahan (enam laga) musim lalu, Bayern Munchen adalah yang paling dominan kedua di lima liga top Eropa.

Juara Liga Champions 2019/20 itu seharusnya bisa memuncaki klasemen di Jerman dengan keunggulan 13 poin, tetapi sejauh ini tergelincir hal-hal kecil di tanah air sendiri.

Mereka memimpin di puncak di Bundesliga dengan unggul dua poin di depan lawan Liverpool di Liga Champions, RB Leipzig, 33 poin berbanding 31.

Di Italia, juara abadi Juventus menghadapi pertarungan mereka sendiri, Mereka baru mengumpulkan 33 poin dari 16 pertandingan, tertinggal dari AS Roma, Inter Milan, dan AC Milan, yang semuanya telah memainkan satu pertandingan lebih banyak.

Meskipun mampu memenangkan satu pertandingan di tangan, itu tidak akan cukup untuk Juventus naik ke posisi ketiga, dengan kedua klub Milan masih kokoh berurutan di puncak Serie A.

Jumlah poin per pertandingan (PPG) Juve 2.06 musim ini turun 0,12 dari apa yang mereka raih tahun lalu dalam perjalanan menuju Scudetto kesembilan berturut-turut.

Di La Liga, juara bertahan Real Madrid berada di belakang rival sekotanya, Atletico dengan selisih satu poin, tetapi yang terpenting, Los Blancos telah bermain tiga pertandingan lebih banyak.

Poin 38 sejauh ini akan cukup untuk membawa mereka ke puncak Liga Premier, tapi Atletico yang terinspirasi oleh Luis Suarez terus mengumpulkan tantangan paling menjanjikan sejak mereka memenangkannya pada tahun 2014.

Jarak point per game (PPG) Madrid melorot dari 2,28 menjadi 2,06 kali ini dengan skuat Zinedine Zidane menghadapi tugas berat jika Diego Simeone dan Atletico mampu mengambil poin maksimum dari setiap permainan mereka.

Bahkan di Prancis musim ini Paris Saint-Germain (PSG) menghadapi tantangan luar biasa untuk mempertahankan mahkota Ligue 1 daripada yang diantisipasi banyak orang.

Kompetisi papan atas Prancis agak dibatasi musim lalu karena pandemi Covid-19 gelar Ligue 1 diberikan kepada PSG yang memimpin liga pada saat itu.

Masalahnya, empat kekalahan yang dialami PSG musim ini telah berkontribusi pada kemampuan Lyon untuk mencapai posisi teratas Ligue 1.

Lyon, yang musim ini ditangani pelatih Rudi Garcia, berdiri satu poin di depan sang juara Ligue 1 2019/20.

Penghitungan poin per pertandingan PSG sebesar 2,05 turun drastis pada 2,51 yang mereka kumpulkan sebelum musim mereka berakhir pada Mei.

Dari lima liga teratas, hanya Liverpool yang nilai PPG-nya turun ke angka 2 menjadi 1,94, tetapi itu dapat dijelaskan secara ringkas dengan betapa dominannya The Reds selama musim perebutan gelar ke-19 ketika mereka meraup total 99 poin.

Akhir pekan ini, Liverpool akan menghadapi musuh terbesar mereka, Manchester United, dalam lanjutan Liga Premier, dan itu bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki performa yang sedang negatif ini.

Bagaimanapun situasinya, satu hal tampaknya paling pasti; mempertahankan gelar liga - di negara mana pun - akan menjadi tantangan yang lebih besar daripada memenangkannya tahun ini.

N
Penulis
Nurul Ika Hidayati