news
LIGA INGGRIS
Edinson Cavani Memilih Menjadi Orang Biasa, Naik Bus dalam 6 Jam Perjalanan, atau Makan dan Berbicara dengan Petugas Kebersihan Klub
13 November 2020 16:23 WIB
berita
Penyerang asal Uruguay yang kini menjadi bintang Manchester United, Edinson Cavani -Topskor.id/asdiario
MANCHESTER - Edinson Cavani ternyata memang sosok yang ramah dan mudah untuk diajak bicara oleh siapapun. Sebaliknya, dia pun bisa dengan mudah berbicara atau sekadar menyapa dengan siapa saja, tanpa terkecuali petugas kebersihan dan pengurus rumah tangga di klub.

Dalam buku biografinya yang berjudul El Matador, yang mengambil dari nama panggilannya (julukan), perjalanan karier Cavani diungkap termasuk momen-momen di luar lapangan.




Baca Juga :
- PSG Tumbangkan MU di Old Trafford, Persaingan Lolos ke Fase 16 Besar Kian Ketat
- Lampard Bocorkan Rencana Chelsea untuk hadapi Sevilla


Di dalam buku tersebut ada sejumlah kesaksian tentang bagaimana karakter pemain yang kini memperkuat Manchester United (MU) tersebut. Sikapnya yang ramah dan tidak pernah memilih dengan siapa dirinya bergaul.

Bagian tersebut salah satu yang menarik dalam bukunya, khususnya ketika salah satu sumber dalam buku yang ditulis oleh Romain Molina itu bercerita tentang sosok Cavani ketika masih di Paris Saint Germain (PSG).


Baca Juga :
- PSG Siap Menjawab Setiap Pertanyaan Manchester United
- Anthony Martial Hanya 11 Menit di Tempat Latihan Manchester United karena Sakit


"Dia biasa pergi makan bersama justru dengan para karyawan klub, bukan dengan rekan setimnya, para bintang dunia itu. Dia selalu berbicara dan menyapa dengan wanita petugas kebersihan, dengan para pengurus rumah tangga klub," kata sumber dalam buku itu.

Sikap layaknya orang biasa atau ordinary people juga terefleksi dari kebiasaannya dalam memanfaatkan waktu libur kompetisi.

Ketimbang melakukan perjalanan dengan pesawat sewaan ke pantai-pantai yang eksotif, Cavani justru lebih memilih menggunakan waktu tersebut bersama keluarganya hanya di rumah.

Bahkan, kalau pun dia pergi, dia akan memanfaatkan untuk berkunjung ke kota kelahirannya di Salto, Uruguay.

"Apakah kalian tahu bahwa dia melewatkan sebulan liburannya di Salto, dan dia tiba dengan bus biasa. Enam jam perjalanan dengan menumpang bus! Dia pemain yang memiliki pendapatan sekitar 16 juta euro (sekitar Rp268 miliar) per tahun, namun dia menggunakan bus, luar biasa," kata sumber lain lagi di buku tersebut.

Di PSG, Cavani dalam masanya di tim asal Paris tersebut memang salah satu pemain yang sangat disukai oleh fan. Bahkan, suatu ketika saat momen mereka mengetahui bahwa Cavani akan pergi, stadion (sebelum wabah corona) dipenuhi oleh lilin dan mereka memanggil-manggil nama Cavani.

Cavani adalah sosok yang dicintai oleh kebanyakan suporter dan karyawan di PSG. "Pada akhir musim, Cavani bertanya kepada kami saran toko untuk sebuah merek pakaian yang dia sukai. Lalu, karyawan klub tersebut mengatakan kepadanya dia bisa mengambilnya secara gratis, bahkan manager dari merek tersebut sudah menyetujuinya," kata seorang karyawan yang menjadi sumber di buku El Matador itu.

"Namun, Cavani menolak dengan sangat sopan dan dia mengatakan dia tidak ingin hadiah, dia ingin membeli karena dia sudah bekerja menghasilkan uang. Dia pun membeli dua. Ya, itu kali pertama seorang pemain PSG melakukan hal itu. Itu sebuah perilaku yang kecil, tapi hanya Cavani yang melakukannya," kata karyawan itu.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat