news
LIGA INGGRIS
Davinson Sanchez Tumbuh di Lingkungan yang Buruk di Kolombia: Sejak Usia 10 Tahun Saya Sudah Naik Bus Sendirian
26 October 2020 20:12 WIB
berita
Bek Tottenham Hotspur, Davinson Sanchez -Topskor.id/Marca
LONDON - Bek tengah Tottenham Hotspur, Davinson Sanchez, punya kisah pahit ketika dirinya masih kecil. Pemain 24 tahun ini menyatakan bahwa kehidupannya saat itu berada di lingkungan yang sangat keras.

Kolombia, negeri asal dan kelahiran Sanchez memang sudah dikenal sebagai negeri di mana kekerasan bisa terjadi setiap hari. Baik itu obat-obatan terlarang, perampokan, hingga dirinya melihat teman-temannya yang tewas.




Baca Juga :
- Siaran Langsung Liga Champions, SCTV: Rennes vs Chelsea, Rabu (25/11) Pukul 00.55 WIB
- Faktor Benteng Anfield yang Kokoh Kunci Sukses Liverpool Merangkak Naik ke Papan Atas Klasemen


"Saya banyak melihat hal-hal buruk seperti peredaran obat terlarang hingga orang-orang banyak yang mencuri," kata Sanchez kepada salah satu tabloid terkenal Inggris, The Sun.

Bahkan, pada masa lalunya saat itu dia sudah mengenal teman-temannya yang terjerumus ke dalam dunia hitam. "Ya, saya mengenal mereka, teman-teman saya yang bisa saya sebut sebagai mereka yang "memilih jalan mudah'. Beberapa di antara mereka sudah tewas dan beberapa lainnya ada di penjara, karena mereka terlibat dengan hal-hal yang buruk," kata pemain 24 tahun ini.


Baca Juga :
- Manchester City Tidak Jadi Datangkan Lionel Messi, Tutup Pintu Transfer, Ini Alasannya
- Dominic Carvert-Lewin bagai Magnet, Cetak 10 Gol dari 9 Laga Liga Primer, Menyamai Rekor Les Ferdinand


Sanchez yang lahir di Caloto membenarkan bahwa di negerinya identik dengan kemiskinan, gangs, perkelahian, dan saling tembak dengan senjata api. Di tempat atau lingkungan seperti itulah Sanchez tumbuh.

Namun, dia bersyukur bahwa dirinya tidak masuk ke dalam dunia tersebut. "Itu tergantung apa yang Anda pilih. Memilih 'jalan yang mudah' bukanlah pilihan bagi saya," kata Sanchez lagi.

Semua itu karena dia mendapatkan pertolongan yaitu ketertarikannya yang kuat terhadap sepak bola dan satu lagi adalah faktor keluarga. "Dua hal inilah yang membuat saya memilih jalan yang benar," kata Sanchez lagi.

Tapi, upayanya untuk menjadi pemain profesional tidaklah mudah. Keluarganya seperti yang lainnya di lingkungan tempat tinggalnya mengalami masalah keuangan yang sulit.

"Ayah saya yang selalu membawa dan mendampingi saya untuk berlatih, namun rutinitas itu menjadi sangat sulit karena dia pun harus bekerja, mencari nafkah untuk kami, memberikan makanan kepada kami," kata Sanchez bercerita.

Jarak sekolah dan latihan sepak bola Sanchez membutuhkan tiga kali perjalanan bus yang lamanya sekitar dua jam. "Tiket bus saat itu sangat mahal sekali untuk keluarga kami yang tidak mampu," kata Sanchez.

Apalagi dengan melakukan perjalanan tiga kali bus bersama ayahnya yang berarti bertambah biaya tiket bus. Karena itulah, dia memutuskan untuk pergi sendiri tanpa ditemani ayahnya dengan harapan akan mengurangi biaya transport.

"Jadi, untuk menghemat biaya, saya putuskan untuk pergi sendiri tanpa ditemani ayah. Saat saya masih berusia 10 atau 11 tahun, saya mengatakan kepada orangtua saya 'Lebih baik uangnya disimpan. Saya akan berangkat sendiri, saya tahu di mana bus berhenti, sekarang saya sudah cukup dewasa untuk berangkat sendirian'" kata Sanchez bercerita.

Dengan pengalamannya di masa kecil, Sanchez mengakui semua itu membuat dirinya menjadi lebih kuat dan dewasa, dia lebih berani menghadapi tantangan yang ada dalam kehidupannya.

Jika dia mau, dirinya bisa bergabung ke Barcelona. Namun, dia menolak karena Barca tidak dapat memberikannya jaminan di starter. Momen tawaran dari Barcelona itu terjadi pda 2016 lalu.

"Saya ingin ada kesepakatan bahwa saya ingin selalu menjadi pemain utama. Saya memperingatkan mereka (Barca), tapi mereka tidak bisa menerima syarat saya. Jadi, ketika itu saya katakan bahwa rencana ini bukan untuk saya," kata Sanchez lagi, mengenang.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat