news
UMUM
CEO PSIS Yoyok Sukawi: Klub-klub Liga 1 Remuk Redam, Hancur bagaikan Debu yang Kecil-kecil
23 October 2020 21:52 WIB
berita
CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi - Media PSIS
SEMARANG – Status Liga 1 2020 yang mengalami penundaan secara mendadak membuat klub kelimpungan karena kerugian mencapai milyaran rupiah.

Salah satunya PSIS Semarang. Hal itu diungkap PSIS dalam acara diskusi Kompetisi, Bisnis dan Kemanusian saat webinar dengan kanal YouTube PSS Sleman.




Baca Juga :
- Ketimbang Tarkam, Winger PSS Sleman Ini Pilih Memancing untuk Tambah Penghasilan dan Latihan
- Borneo FC Siap Tandang ke Johor Darul Takzim


CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, mengibaratkan kehancuran klub Liga 1 2020 akibat ketidakjelasan kompetisi, sudah mencapai butiran debu.

Pasalnya, PSIS sudah mengeluarkan biaya besar sejak awal musim. Yoyok mencontohkan, ketika adanya pengumuman kompetisi dilanjutkan pada Oktober.


Baca Juga :
- Gelandang Persebaya Mengadopsi Kucing Gara-gara Film Upin Ipin
- Persita Sukses Meraih Dua Penghargaan di Tengah Pandemi Covid-19


Menurut Yoyok, manajemen mengeluarkan biaya sedikitnya tiga sampai empat miliar rupiah, karena harus membuka kontrak apartemen maupun fasilitas lain.

Belum lagi biaya transportasi pemain asing ke Semarang, karena sebelumnya pulang ke negara masing-masing setelah kompetisi dihentikan pada Maret 2020.

“Saya rasa semua klub Liga 1 hampir sama, merasakan tahun ini seperti remuk redam, jadi hancur," kata Yoyok Sukawi dalam webinar tersebut.

"Hancurnya sudah seperti debu yang kecil-kecil. Kerugian kami sampai hari ini sudah mencapai Rp 7,5 miliar,” Yoyok menambahkan.

Pengeluaran sebanyak itu tak berbanding dengan subsidi yang diberikan PT LIB. Seperti diketahui, klub baru tiga kali menerima subsidi dari operator kompetisi.

Subsidi pertama sebesar Rp 520 juta, sedangkan termin kedua Rp 520 juta, dan yang ketiga Rp 800 juta. Artinya subsidi yang cair baru Rp 1,8 miliar.

Adapun besaran subsidi yang dijanjikan PT LIB dalam semusim adalah Rp 5,2 miliar. Jika Liga 1 2020 tak dilanjutkan, sisa subsidi tak akan dicairkan.

“Awal musim kami sudah mengeluarkan Rp 4 miliar, karena biasanya pemain suka minta DP (uang muka), persiapan tim, kontrak rumah, fasilitas, dan lainnya," ucap Yoyok.

 “Lalu, bulan Agustus dapat kabar kompetisi dilanjutkan kembali. Itu habisnya sekitar Rp 3 sampai 3,5 miliar,” Yoyok menambahkan.

Terakhir Liga 1 2020 kembali terpaksa diundur karena tidak mendapatkan izin keramaian dari Kepolisian Republik Indonesia.

Lanjutan kompetisi Liga 1 2020 kini masih diprediksi baru akan kembali bergulir dengan beberapa opsi yaitu pada 1 November, 1 Desember, atau awal tahun 2021.

“Kemudian kami mendapat kabar lagi, liga tidak boleh berjalan. Semua pemilik klub pasti sekarang berhitung, kapan memulai persiapan," ujar Yoyok.

"Artinya harus menjamin lagi ada uang sekitar Rp 3 sampai 4 miliar," lelaki yang juga menjadi anggota DPR RI tersebut menambahkan.*Nizar Galang Gandhimar/05

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id