news
UMUM
Cerita Widodo C Putro yang Rela Jadi Cadangan Abadi Persija Demi Orbitkan Trio BBG pada 2001
23 October 2020 21:38 WIB
berita
Widodo Cahyono Putro -- Topskor / Sri Nugroho
JAKARTA – Persija Jakarta nyaris tidak pernah kehabisan pemain-pemain berkualitas pada setiap musimnya saat tampil dalam kompetisi resmi.

Macan Kemayoran, sebutan Persija, selalu saja diperkuat pemain-pemain berkualitas, baik asing maupun lokal dari lini pertahanan hingga lini serang.




Baca Juga :
- Leonard Tupamahu Ungkap Makna di Balik Permainan Golf yang Disukainya
- Di Penang FC, Ryuji Utomo Akan Bermain di Lini Tengah


Sejumlah pemain, utamanya pemain lokal, kerap menjadi andalan Persija di lini depan. Bahkan, striker-striker itu tak jarang berlabel timnas Indonesia

Saat Persija mengarungi Liga Indonesia 2001, total ada empat striker lokal yang dimiliki Persija. Menariknya, keempatnya sama-sama pemain bintang.


Baca Juga :
- Marko Simic Ingin Bertahan Hingga 100 tahun Persija
- Persib Buka Akademi di Pati, Berharap Dapat Talenta Baru untuk Liga 1


Keempat striker yang dimaksud tersebut adalah Widodo Cahyono Putro, Gendut Doni, Budi Sudarsono, dan Bambang Pamungkas sebagai yang paling muda.

Menariknya, dengan hadirnya pemain-pemain dengan status bintang tersebut, tak membuat Widodo merasa tersaingi atau akan kalah bersaing dengan yang lebih muda.

Sebaliknya, ketika itu Widodo malah ingin memberi kesempatan lebih banyak kepada striker muda, Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, dan Gendut Doni.

Untuk diketahui, pada musim 2001 tersebut, usia Widodo sudah 31 tahun, sedangkan Gendut 23 tahun, Budi 22 tahun, dan Bambang 21 tahun.

Tak jadi striker utama, sama sekali tak membuat pemain dengan nomor punggung 7 ini terganggu. Widodo malah ingin trio BBG (Bepe, Budi, Gendut) makin matang.

“Saya kala itu di tahun 2001 harus realistis. Masa saya sudah habis dan mendekati masa pensiun. Bagaimana kontribusi saya memunculkan bibit pemain bagus,” kata Widodo.

“Kebetulan ada tiga striker muda di Persija kala itu harus dibimbing. Nantinya mereka akan menggantikan peran saya baik itu di klub maupun di timnas,” ia menambahkan.

Bahkan, pada saat itu Widodo mengaku sering bertukar pikiran dengan Gendut, Budi, dan Bambang. Baik itu soal gaya di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

 “Walaupun saya jarang main tidak masalah. Saya sangat senang untuk membimbing mereka untuk bisa mengembangkan karier mereka,” Widodo mengungkapkan.

Kontribusi Widodo berbuah. Persija menjadi juara Liga Indonesia 2001, berkat kombinasi Bambang, Budi, dan Gendut, sedang Widodo menjadi pelapis.

Dalam hal ini Bambang dan Budi jadi andalan pelatih Sofyan Hadi. Dalam semusim, keduanya mengoleksi 31 gol atau jadi salah satu duet paling tajam.

Rinciannya, Piton, julukan Budi Sudarsono, mengoleksi 16 gol, sedangkan Bepe, sapaan Bambang Pamungkas, melesakkan 15 gol.*Nizar Galang Gandhimar/05

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id