news
UMUM
Pemerintah Harus Serahkan Pengelolaan Stadion kepada Klub, Agar Bisnis Sepak Bola Bertumbuh
23 October 2020 10:10 WIB
berita
Stadion Manahan Solo/Foto Sri Nugroho
STADION adalah jiwa dan raga klub. Stadion telah menjadi jati diri, ruh, dan identitas klub sepak bola.

Dengan memiliki stadion, klub bisa menghasilkan banyak uang. Karena itu masalah stadion harus dipikirkan dengan serius oleh klub, federasi, dan pemerintah.




Baca Juga :
- Resmi! Bhayangkara FC Ganti nama Menjadi Bhayangkara Solo FC
- Resep Agar Tidak Dicoret Shin Tae-yong dari Timnas U-19


“Saya menyarankan agar semua stadion dikelola oleh klub, bisa lima tahun atau 10 tahun,” ucap pengamat sepak bola Erwiyantoro alias Mbah Cocomeo dalam program Bola Jumat Keramat di channel youtube TopSkor.id. “Nanti, perawatannya dibebankan kepada klub. Lalu, dibuat aturannya (oleh pemerintah). Aturannya juga harus dipermudah.”

Selama ini, sebagian besar klub di Indonesia masih menyewa stadion milik pemerintah setiap pertandingan. Biaya yang dikeluarkan klub untuk sewa stadion pun tidaklah sedikit. Butuh ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk menyewa stadion.


Baca Juga :
- Kenang Ricky Yacobi, Presiden FIFA Kirim Pesan Duka Mendalam
- Nova Arianto: "Timnas seperti Dibuat Main-main, Padahal Mereka Dibiayai Uang Rakyat"


“Jadi (sebaiknya) klub tidak perlu lagi sewa stadion. Dengan begitu, bisnis klub bisa tumbuh.”

Sekarang bisnis klub sepak bola tidak bisa jalan, sebab biaya produksi klub setiap pertandingan terlalu besar.

“Klub bangkrut. Keluar terus (dana), tidak ada pemasukan. Sampai sekarang tidak ada satupun klub yang untung.”

Menurut Mbah Coco, banyak keuntungan kalau stadion dikelola oleh klub.

“Pertama, klub bisa mem-branding stadion dengan sebuah produk atau corporate besar. Presiden harus bisa memberikan wejangan kepada departemen dalam negeri dan seluruh kepala daerah, kalau nama stadion diizinkan untuk ganti nama produk. Ini yang diuntungkan pertama klub, kedua pemda karena dapat pemasukan dari pajak. Jadi bisnisnya jalan.”

Keuntungan lainnya, pemerintah daerah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya pemeliharaan stadion. Anggaran tersebut bisa dialihkan pemerintah daerah untuk sektor lain.

“Nanti buat aturan dan sanksinya. Kalau klub bisa membuat bagus stadion selama lima tahun, boleh direkomendasikan untuk pengelolaan lanjutan. Kalau sebaliknya, kasih sanksi. Misal stadion jadi rusak, kasih waktu satu tahun untuk perbaikan, kalau tidak bisa biar kelola stadion dikembalikan lagi ke pemda.”

“Jadi kasih kemudahan kepada klub. Apalagi sudah ada Inpres (Nomor 3 Tahun 2019 terkait Percepatan Pembangunan Pesepakbolaan Indonesia).”

Mbah Cocomeo berharap PSSI bisa mempresentasikan hal ini kepada Presiden Joko Widodo, Mendagri, dan Polri.

“Karena urusan dalam negeri cukup yang buat keputusan Mendagri, kalau kurang kuat ya ke Presiden langsung.”

Rata-rata stadion di Eropa, tanah dan pembangunan awalnya didirikan pemerintah daerah. Namun, kemudian dikontrak bangun oleh klub.

“Stadion itu jiwa raga klub. Karena di situ bisa menghasilkan banyak duit untuk klub. Lapak dia itu lapangan bola. Mereka bisa branding dan kasih nama stadion,” kata Mbah Cocomeo.

“Seluruh nama susunan pemain ada di ruang ganti, kamera tidak pernah diubah, AC dingin terus karena yang memelihara  klub. Jadi jangan selesai pertandingan klub harus bongkar pasang peralatan di stadion (karena masih sewa).”

 

 

 

 

 

R
Penulis
Rizki Haerullah