news
LIGA 1
Shin Tae-yong Angkat Bicara soal Kompetisi Liga 1 yang Tidak Dapat Izin Polri
21 October 2020 08:43 WIB
berita
Pelatih Timnas U-19 Indonesia Shin Tae-yong/Foto TopSkor
TIMNAS U-19 Indonesia akan pulang ke Tanah Air pada hari Rabu 28 Oktober 2020 mendatang. Kemudian pemain akan dikembalikan ke klub masing-masing untuk mengikuti kompetisi Liga 1 dan Liga 2.

Namun, karena pihak Kepolisian belum memberikan izin untuk lanjutan Liga 1 dan Liga 2, kompetisi akhirnya ditunda dan belum tahu kapan kapan akan dilanjutkan.




Baca Juga :
- Resep Agar Tidak Dicoret Shin Tae-yong dari Timnas U-19
- Kenang Ricky Yacobi, Presiden FIFA Kirim Pesan Duka Mendalam


''Ujung dari sebuah timnas itu kompetisi. Karena di kompetisi resmi, pemain akan mendapatkan atmosfer pertandingan sesungguhnya. Ini beda dengan kalau hanya training camp dan latih tanding dengan timnas negara lain atau klub,'' ujar pelatih timnas U-19 Indonesia Shin Tae-yong.

Itu sebabnya pelatih asal Korea Selatan ini menginginkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 kembali digelar. ''Anda tidak bisa menunda-nunda kompetisi. Karena ini menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah timnas. Lebih cepat kompetisi digelar lagi akan semakin bagus.''


Baca Juga :
- Nova Arianto: "Timnas seperti Dibuat Main-main, Padahal Mereka Dibiayai Uang Rakyat"
- Menghadap Kabaharkam Polri, LIB Dapat Dukungan Menggulirkan Liga 1 2020-2021


Polri tidak mengizinkan kompetisi digelar saat ini lantaran menjaga kondusifitas dan keamanan Pilkada yang digelar pada Desember 2020 di 270 daerah dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Selain itu, Polri dan sejumlah pihak terkait masih fokus menangani pandemi virus corona.

“Saya membutuhkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 diputar lagi untuk bisa memantau secara langsung perkembangan pemain di klubnya masing-masing. Itu juga sekaligus, saya bisa memantau jika ada pemain yang bisa dipanggil untuk memperkuat timnas U-20. Kalau tidak ada kompetisi Liga 1 dan Liga 2 bagaimana saya bisa memantau pelaksanaan program yang sudah saya siapkan,'' kata Shin Tae-yong.

''Itu sebabnya kami memohon kepada Kepolisian untuk mengizinkan agar Liga 1 dan Liga 2 kembali berputar. Sebab kompetisi ini penting bagi timnas dan tentu PSSI,'' Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi menambahkan.

Permasalahan perizinan tak boleh terus-menerus menjadi hambatan roda bisnis dan industri sepak bola Indonesia, yang terulang dari tahun ke tahun. Sebagai sebuah industri, sepak bola juga butuh kepastian.

Pengamat sepak bola nasional Erwiyantoro alias Mbah Cocomeo dalam program Bola Jumat Keramat  di channel youtube TopSkor.id, memberikan saran kepada PSSI untuk mengakhiri permasalahan terkait perizinan kompetisi.

“Sebenarnya dari dulu saya ingin berbicara dengan setiap calon Ketua Umum PSSI sebelum mereka terpilih. Jadi setelah mereka menjabat hal pertama yang harus mereka lakukan yaitu menghadap ke Presiden, saat ini Presidennya Jokowi,” kata pria yang telah menjadi jurnalis sepak bola Indonesia sejak 1985 itu.

“Jadi PSSI harus minta jadwal dengan Jokowi. Dengan catatan Jokowi juga memanggil Kapolri dan Mendagri (dalam rapat itu). Sebelum pertemuan tersebut, tim Ketua Umum PSSI sudah menyiapkan beberapa draf MoU.”

“Nanti, saat presentasi itu PSSI harus bisa meyakinkan Jokowi. Khususnya dalam (permasalahan) memutar Liga Indonesia. (Kasusnya ini) sama dengan ketika Jokowi memerintahkan kepada menteri-menterinya terkait bisnis-bisnis di Kementrian. Contoh UMKM.”

“Karena sepak bola ini juga industri professional, (PSSI yakinkan) bahwa presiden harus beri rekomendasi kepada Kapolri (terkait izin).”

“Apapun yang dilakukan PSSI dalam memutar Liga 1 dan Liga 2 tidak boleh dibatalkan atau ditunda.”

Setelah itu, Presiden Jokowi, Kapolri, Mendagri, dan PSSI menandatangani MoU perizinan kompetisi sepak bola “selama-lamanya”. Sehingga, setiap tahun menjelang musim baru, PSSI atau klub tak perlu lagi khawatir soal perizinan kompetisi. PSSI dan klub cukup berkoordinasi dengan kepolisian terkait rencana pengamanan kompetisi atau pertandingan, bukan meminta perizinan menjalankan liga.

“Alasannya, turunannya Liga 1 dan Liga 2 itu kan berhubungan dengan pendapatan Indonesia. Beli tiket, jersi, gaji pemain, sponsor utama, sponsor klub, semua ada pajaknya, menghasilkan devisa negara. Sama kayak UMKM,” kata Mbah Cocomeo.

“Jokowi pasti punya pemikiran jenius, kenapa dia sampai mengeluarkan Inpres (Inpres No.3 Tahun 2019 Percepatan Pembangunan Persepak Bola Nasional). Ini Presiden Indonesia pertama yang memberi kail dan umpan. Tapi, PSSI tidak tahu cara gunakan kail bagaimana,dan gunakan pancing itu, seperti apa?”

“Seharusnya , (Inpres) itu diterjemahkan PSSI seperti itu.”

Kedua, menurut Mbah Cocomeo, PSSI harus mempresentasikan kepada Jokowi agar klub-klub tidak dibebankan anggaran keamanan yang tinggi setiap pertandingan.

“Bisa dibayangkan, Persija main di GBK. Keamanan untuk membayar polisi, dengan 3000-5000 personel sekitar RP500 juta. Sewa GBK Rp500-700 juta, Persija juga harus beri jaminan ke pengelola GBK Rp1 miliar (untuk perbaikan jika ada kerusakan setelah pertandingan). Berarti satu pertandingan Persija harus mengeluarkan Rp2 miliar.”

“Pertanyaaannya, apakah Persija dalam satu pertandingan bisa dapat Rp4 milyar, kan belum pasti. Kalau dapat Rp1 miliar berarti rugi.”

“Pemerintah harus jamin agar klub-klub tidak rugi. Salah satu solusinya perintahkan kepada Kapolri tolong untuk menilai biaya keamanan untuk kepolisian diminimalkan.”

R
Penulis
Rizki Haerullah