news
LIGA SPANYOL
Mengenal Sosok Mágico González, Pemain Paling Dicintai dalam Sejarah Cadiz
29 September 2020 00:03 WIB
berita
Jorge Alberto ‘Magico’ González adalah pemain yang berbeda.-TopSkor.Id/LaLiga-
CADIZ - Jorge Alberto ‘Magico’ González adalah pemain yang berbeda: Ia merupakan pesepak bola profesional yang benar-benar tidak peduli jika timnya menang atau kalah. Dia tetap menjadi pemain yang paling dicintai dalam sejarah klub Cádiz hanya karena alasan itu. Bagi Magico, kesenangan dan perayaan dalam bermain sepak bola adalah hal yang terpenting.

González merupakan tipikal pemain yang akan ditampilkan di YouTube, jauh sebelum YouTube ada. Ia pernah mencetak gol dari sisi lapangan timnya bersama Cádiz melawan Barcelona di Camp Nou tahun 1984, dalam pertandingan tersebut ia juga menggocek bintang blaugrana, Diego Maradona.




Baca Juga :
- Debutan dari Arsenal Ini Buat Serangan Atletico Madrid dari Tengah Lebih Cepat, Simeone Memujinya, Modal Lawan Bayern Munich
- Sevilla Sindir dan Ajarkan Chelsea Cara Belanja Pemain yang Lebih Cerdas


Ia juga pernah membawa bola melewati tiga pemain bertahan yang diakhiri dengan tendangan kejutan melewati kiper saat melawan Racing Santander pada tahun 1986.

Kemudian, Ia pernah melakukan tendangan bebas yang bersarang di ujung atas gawang Atlético de Madrid. Gol-gol tersebut memiliki perbedaan dalam eksekusinya, namun seluruh golnya akan jarang dilakukan oleh seorang pemain, apalagi dieksekusi sesempurna itu.


Baca Juga :
- Ikuti Jejak Madrid, Barcelona Juga Telan Kekalahan
- Konyol! Tragedi 1991 Terulang, Real Madrid Dikalahkan Tim Promosi di Kandang Sendiri


Lahir pada tahun 1958 di lingkungan sederhana San Salvador, Ibu Kota El Salvador, González merupakan talenta alami yang paling dicintai dan paling sukses dalam sejarah negaranya, bahkan sebelum Ia membawa negaranya untuk mendapat kesempatan langka tampil di Piala Dunia tahun 1982. Setelah turnamen yang diadakan di Spanyol itu, Ia bisa saja bergabung dengan Paris Saint Germain atau Atlético de Madrid. Namun, godaan Cádiz – baik klub serta kotanya – sulit untuk ditolak.

Selama delapan musim setengah bersama Cádiz, kemenangan bukanlah sesuatu yang pasti dalam setiap pertandingan, tapi hiburan sudah pasti muncul. Musim terbaiknya adalah pada musim 1983-84, dengan 14 gol di LaLiga, tetapi sayangnya klub tersebut tetap terdegradasi ke LaLiga SmartBank.

Anda tidak pernah mengira apa yang akan dilakukan Mágico, selain menghemat tenaga dengan tidak membantu pertahanan atau instruksi taktis, Ia juga siap untuk melakukan trik istimewa atau mencetak gol ajaib saat Ia diberi kesempatan bermain. Selama membela klub, Cádiz terdegradasi dua kali, tetapi promosi dengan jumlah yang serupa pula.

Mereka juga mencapai finis tertinggi mereka di LaLiga dengan menempati posisi 12 pada tahun 1988 serta mencapai babak semi-final Copa del Rey pada tahun 1990, satu-satunya dalam sejarah klub.

Sementara itu, kehidupan di luar lapangan juga banyak hal tak terduga. Cádiz merupakan kota di mana konstitusi demokratis pertama Spanyol dibuat, serta tempat karnival megah yang diadakan setiap tahun, Cádiz juga menjadi tempat di mana aturan ketat dalam masyarakat Spanyol tidak selalu berlaku.

Pada era 1980-an, tempat tersebut merupakan favorit dari penyanyi flamenco legendaris, Camaron de la Isla dan gitaris Paco de Lucia. Mágico masuk ke dalam kehidupan malam kota tersebut, terutama saat diadakannya turnamen ‘Trofeo Carranza’ yang berlangsung pada musim panas sebagai tempat bagi Mágico untuk menunjukan keahliannya.

Direktur klub dan para pelatihnya tidak selalu melihat sisi menghibur dari sikap Mágico baik di dalam maupun luar lapangan, tetapi Ia tetap melanjutkan menikmati kehidupan di kota tersebut sampai Ia pergi pada tahun 1993 saat berusia 33 tahun.

“Saya menyadari bahwa saya bukanlah seorang alim dan bahkan ibu saya sendri pun tidak mampu menahan keinginan saya untuk berpesta,” ujar González kepada El Diario de Cádiz.

“Saya juga menyadari bahwa saya kurang baik dalam pekerjaan, namun saya tidak mengganggap sepakbola sebagai sebuah pekerjaan. Jika saya berpikir demikian, saya tidak akan menjadi diri sendiri. Saya bermain sepakbola hanya untuk menyenangkan diri saya.”

Setelah meninggalkan LaLiga, Ia kembali ke mantan klub FAS di negara asalnya, di mana ia bermain hingga gantung sepatu pada tahun 2000. Baru-baru ini, Ia melatih Tim Nasional Junior El Salvador, terdaftar dalam Hall of Fame FIFA, dan tampil bersama bintang Barcelona saat ini, Lionel Messi, dalam iklan merek minuman ringan terkenal.

Sementara itu, Cádiz terus mengalami naik turun kasta, turun hingga ke kasta ketiga sebelum naik kembali selama satu dekade terakhir. Tim saat ini tidak seflamboyan skuad Mágico, tetapi mereka masih menghibur pendukung dengan promosi ke LaLiga Santander pada musim lalu untuk pertama kalinya sejak 14 tahun. Beberapa bulan terakhir juga menunjukan dorongan dari pendukung untuk mengganti nama Stadion Caranza menjadi ‘Mágico’, tempat di mana warisannya hidup di klub serta kotanya.

I
Penulis
Igor Hakim