news
TOP FEATURE FOOTBALL
Papat Yunisal Pernah Menggertak SSB Pria karena Serobot Lapangan Latihan
28 September 2020 08:29 WIB
berita
Papat Yunisal sosok penting yang berjuang memajukan sepak bola wanita Indonesia -Topskor.id/PSSI
NAMA Papat Yunisal tidak asing di dunia sepakbola. Khususnya, sepak bola wanita. Semasa muda namanya melejit sebagai pemain nasional yang diawalinya sejak 1979.

Begitu pun sekarang, setelah pensiun hidupnya dihabiskan untuk membangun sepak bola wanita.




Baca Juga :
- Miris! Badak Lampung FC Sudah Pakai 90 Persen Anggaran Musim Ini Tanpa Ada Hasil, PSSI Segera Ambil Keputusan
- Timnas U-19 Batal Ikut Toulon Tournament, Begini Rencana Dirtek PSSI


Wanita kelahiran 11 Juni 1963, ini menjadi ikon sepak bola wanita. Tak ada lagi sosok selain Papat yang mau mengurusi persepakbolaan wanita di Tanah Air.

Sebagai pelatih SSB Sepak Bola Wanita Queen's di Bandung membuat ia dikenal hingga mengantarkannya  ke federasi tertinggi sepak bola Tanah Air, PSSI.


Baca Juga :
- Bagus Kahfi Tolak Gabung Timnas U-19, Alasannya Bisa Dimaklumi
- Pemerintah Harus Serahkan Pengelolaan Stadion kepada Klub, Agar Bisnis Sepak Bola Bertumbuh


Tentu saja, banyak suka duka yang dihadapi selama ini. Terutama ketika harus berhadapan dengan kaum pria dengan berbagai persoalannya.

Yang paling menarik ketika harus berebut lapangan. Ketika itu, Papat menuturkan, SSB asuhannya harus disingkirkan oleh SSB garapan kaum pria.

"Persoalannya sih sepele, hanya gegara masalah jadwal latihan," kata Papat mulai mengisahkan kepada Topskor.id.

Saat itu, Queen's punya jadwal latihan sore hari, tetapi menurtnya, tiba-tiba jadwalnya digeser ke tengah hari, rupanya ada SSB pria yang sengaja menembus ke pengelola lapangan agar SSB saya dialihkan ke siang dan mereka menginginkan sore hari.

"Tetapi saya tak tinggal diam, jangan mentang-mentang kami wanita yang harus mengalah dan dianggap lemah, saya pun meminta lagi kepada pengelola lapangan dan saya hadapi SSB yang merebut jadwal saya, akhirnya SSB sepak bola pria itu mengakui dan meminta maaf setelah saya gertak," ujar Papat.

Keseriusannya dalam mencurahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk sepak bola wanita, Papat pun mendapat kepercayaan para  pengurus PSSI.

Dimulai sejak PSSI diketuai Nurdin Halid hingga Mohammad Iriawan, Papat masih tetap dipercaya untuk mengelola departemen sepak bola kaum hawa itu.

Jabatan tertinggi yang pernah diembannya adalah sebagai Exco (Komite Eksekutif) di era kepengurusan Eddy Rachmayadi. Tentu saja, tugasnya menangani olahraga yang membesarkan namanya itu.

Diwajibkannya setiap klub agar memiliki tim wanita dan dikompetisikan secara profesional  adalah berkat perjuangannya semasa menjabat Exco.

Setelah tak lagi masuk jajaran Exco di era kepengurusan Mohammad Iriawan, tidak mengurangi aktivitas Papat di dunia persepakbolaan wanita.

Justru selain menjadi dosen di STKIP, Papat kini sibuk menjalankan program FIFA, federasi sepak bola dunia itu.

"Di dalamnya ada Indra Syafri bidang teknik, Yeyen Tumena pengembangan, Mundari Karya untuk pembinaan usia muda, Aldi untuk grassroot dan saya untuk mengurusi sepak bola wanita," kata Papat mengungkapkan.

Banyak jabatan dan padatnya aktivitas sedikit pun tidak pernah merasa lelah di usianya yang ke-57.

Tugas, tantangan dan cobaan bahkan hobi baru sekalipun ia nikmati dengan semangat. Termasuk mengejar ilmu. Gelar Strata 3 (S3) ia raih untuk kelengkapannya sebagai dosen di sela-sela sebagai pengurus sepak bola.

Kendati begitu, bukan berarti tidak pernah berhadapan dengan yang namanya cobaan.

Cobaan sekaligus ujian terberatnya adalah ketika harus menghadapi kasus match fixing di tahun 2019 yang melibatkan namanya dalam skandal Persibar Banjarnegara.

Lantaran tidak merasa bersalah dan tidak terlibat sama sekali bahkan tidak terbukti maka namanya pun tidak masuk dalam nama-nama yang divonis.

"Allah memang maha adil, karena saya tidak merasa maka hasilnya pun kita bisa ketahui, apakah ada nama saya yang kena vonis. Kalau saya mau menuntut balik saya bisa karena itu sudah pembunuhan karakter," kata Papat mengenang.

Meski demikian, dia imemilih untuk memaafkan mereka yang menjatuhkan namanya. "Alhamdulillah sampai sekarang saya masih tetap mendapat kepercayaan," katanya menuturkan.

Memasuki masa pandemi Covid -19 yang memaksa dunia persepakbolaan harus vakum, Papat pun harus kembali ke barak, tinggal sementara waktu di Kota Kembang Bandung.

Namun baginya, ia tak merasakan terpukul. Sebab, kegiatan di Bandung sama padatnya dengan di Jakarta, kota yang menyita waktu ketika kondisi masih normal.

"Selama PSBB di Jakarta berlangsung saya putuskan untuk kembali dulu ke Bandung, karena di Bandung juga banyak tugas yang harus dikerjakan," katanya menambahkan.

Uniknya, di waktu senggang ia sempat menekuni aktivitas yang tak ada hubungannya dengan  dunia yang ia geluti selama ini.

"Bermain kendang. Coba lihat saja di youtube gimana saya main kendang. Semua yang kenal saya mengomentari, kok bisa, kok bisa, ya bisa meski belajarnya secepat kilat," katanya.

Segudang gelar dan penghargaan selama perjalanannya ia raih. Di bidang olahraga ia pemegang lisensi kepelatihan C AFC.

Sementara di bidang akademika gelar Dr, MPd dan SPd serta Ketua Umum Sepak Bola Wanita Indonesia yang membawahi 33 provinsi.

Sementara karirnya sebagai pemain  klub Putri Priangan (1979) dan tampil di Kartini Cup dan Galanita.  

Bergabung bersama timnas Indonesia pada kejuraan ASEAN. Ia menjadi pahlawan dengan golnya untuk mengantarkan Indonesia ke final ASEAN Women's Championship 1982.* Arief NK/01

A
Penulis
Arief N K