news
LIGA INGGRIS
Tangisan Pjanic Kecil Membuat Ayahnya Diizinkan Pindah ke Luksemburg, "Saya Melakukannya untuk Anak Kamu"
25 September 2020 16:13 WIB
berita
Fahrudin (kiri) bersama anaknya, Miralem Pjanic, dan cucunya ketika masih di Juventus -Topskor.id/Elmundo
BARCELONA - Sepak bola memberikan jalan tidak hanya kepada Fahrudin tapi juga bagi anaknya saat ini, Miralem Pjanic. Karena sepak bola, keluarganya termasuk Pjanic terhindar dari situasi sulit ketika terjadi perang Balkan pada 1990-an.

Pjanic memang kelahiran Bosnia Herzegovina, tepatnya di Kota Tuzla pada 1990 silam. Bagi setiap pemain yang berasal dari Bosnia, bukan hal yang aneh lagi selalu dikatikan dengan momen sulit negeri tersebut karena perang yang berkepanjangan.




Baca Juga :
- Makin Jarang Dimainkan sebagai Starter, Isco Alarcon sampai Hafal Kapan Zidane Menurunkan dan Menggantikannya
- Pertahanan Barcelona Kerap Melakukan Kesalahan yang Tidak Perlu, Krisis jelang Tandang lawan Juventus


Fahrudin adalah ayah dari Pjanic yang bermain sepak bola di klub FK Drina Zvornik, sebuah klub yang saat itu bermain di Divisi Tiga liga Yugoslavia. Namun, Fahrudin kemudian meninggalkan klub tersebut dan pindah memulai kehidupan Luksemburg tepatnya di Schifflange.

Fahrudin membawa keluarganya yaitu istrinya, Fatima, dan anaknya, Panic yang ketika itu masih kecil. Meski demikian, tidak mudah bagi Fahrudin untuk membawa istri dan anaknya ke Luksemburg.


Baca Juga :
- Mantan Bintang Timnas Prancis Ini Menilai Masalah Antoine Griezmann Sudah Kritis dan Menyarankan Secepatnya Meninggalkan Barcelona
- Pirlo Geram Juventus Ditahan Verona, Begini Reaksinya


Bahkan, Fahrudin ingat momen ketika dirinya meminta izin meninggalkan FK Drina untuk pindah ke Luksemburg. Permintaannya Fahrudin sempat ditolak, tapi tangis Pjanic di gendongan Fatima ketika itu membuat sekretaris klub Yugoslavia tersebut melunak. "Saya lakukan untuk anak kamu," demikian yang disampaikan pengurus klub tersebut.

Setelah dia, istri, dan anaknya Pjanic pindah ke Luksemburg, setahun kemudian perang pun pecah di negeri kelahirannya tersebut. Karena itulah, Pjanic pun tumbuh dengan aman di Schifflange bersama kedua orangtuanya.

Sepak bola telah menghindarkan Pjanic dari perang yang tragis di negeri kelahirannya. Fahrudin pun sangat bersyukur, karena Pjanic yang saat itu berusia 6 tahun, sudah memiliki bakat dalam sepak bola. "Ya, dia bermain bola dan kami juga berharap dia dapat melakukannya di sini dengan anak-anak di Barcelona," kata Fahrudin.

Pjanic sendiri mengakui sangat bahagia bisa sampai ke titik ini. "Kisah hidup saya memang sulit karena saya berasal dari negeri yang berperang, tapi saya sudah berada di sini, di Barcelona dan orang-orang di sini menyambut saya dengan sangat baik," kata Pjanic.

Meski tumbuh di Luksemburg, namun Pjanic tetap memilih sebagai pemain timnas Bosnia Herzegovina, negeri kelahirannya.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat