news
LIGA INTERNASIONAL
“Saya Hitam, Putra dari Orang Kulit Hitam, dan Saya Bangga!" Neymar Terus Serang Bek Marseille yang Menyebutnya "Monyet"
16 September 2020 17:37 WIB
berita
Neymar Junior dan Alvaro Gonzalez - TopSkor/Istimewa
PARIS – Bintang Paris Saint Germain, Neymar Junior, terus melancarkan kecaman terhadap bek Alvaro Gonzalez, yang dituding telah melontarkan makian rasialisme terhadap dirinya.

Insiden ini terjadi dalam laga Ligue 1 di Parc Des Princes, Minggu (13/9), lalu saat Les Parisiens kalah 0-1 dari Les Pocheens. Benturan antara Leandro Paredes dan Dario Benedetto di menit terakhir memicu keributan antarpemain dari kedua tim.




Baca Juga :
- Dibayar Rp 440 Miliar per Tahun oleh Puma, Neymar Catat Rekor Kontrak Sponsorship Individu Termahal
- Hanya Kalah Tipis dari Persik Kediri, Pelatih PSG Tetap Puas


Buntutnya, wasit mengeluarkan lima kartu merah, tiga buat PSG (Paredes, Layvin Kurzawa, dan Neymar Junior) dan dua buat Marseille (Benedetto dan Jordan Amavi).

Neymar diusir wasit setelah VAR menangkap ulahnya menjitak kepala Gonzalez. Bintang asal Brasil itu berkilah bahwa tindakan itu dilakukan lantaran bek asal Spanyol itu menyebut dirinya “monyet keparat”, makian yang dianggap bernada rasialisme.


Baca Juga :
- "Dia Hanya Tahu Taktik Oper Bola ke Neymar!" Pelatih Thomas Tuchel Mulai Tak Dipercaya Pemain PSG
- Neymar Diskorsing Dua Pertandingan, Ligue 1 Menyelidiki Klaim Rasisme PSG vs Marseille


Tudingan itu dilontarkan Neymar di akun media sosial seusai pertandingan. Tapi, Gonzalez membantah tudingan tersebut, juga melalui media sosial. Dia juga mendapatkan dukungan dari pelatihnya, Andre Villas-Boas.

Tapi, Neymar bergeming dengan tuduhannya dan menyampaikan semua itu dalam sebuah pernyataan yang cukup panjang di Instagram. Dalam pernyataan itu pemain termahal di dunia itu mengakui telah bertindak bodoh, tapi dia juga tidak akan diam melihat praktik-praktik rasialisme.

“Kemarin saya hanya melakukan perlawanan. Saya dihukum kartu merah karena ingin memukul seseorang yang menyinggung saya. Saat itu saya berpikir saya tidak bisa membiarkan dia tanpa melakukan sesuatu yang karena saya menyadari pihak berwenang tidak akan melakukan apa-apa, tidak tahu, atau mengabaikan fakta,” tulis Neymar di halaman Instagram pribadinya.

“Saat pertandingan berlangsung, saya selalu ingin menjawab lewat permainan sepak bola. Fakta menunjukkan saya tidak sukses sehingga saya memberontak.

“Dalam olahraga kita, sikap agresif, hinaan, sumpah serapah adalah bagian dari pertandingan, dari pertarungan. Kita tidak bisa jadi penyayang. Saya memahami orang ini sebagian. Semua itu bagian dari permainan, tapi rasialisme dan intoleransi tidak bisa diterima.

“Saya berkulit hitam, putra dari orang kulit hitam, cucu dan buyut dari orang kulit hitam. Saya bangga dan saya tidak melihat diri saya berbeda dengan siapapun. Kemarin, saya ingin mereka yang berwenang (wasit, asisten wasit) untuk memposisikan diri mereka secara netral dan mengerti bahwa tidak ada lagi tempat buat sikap penuh prasangka.

“Merenungkan dan melihat semua yang telah terjadi, saya sedih oleh adanya kebencian yang bisa muncul dalam sebuah momen yang panas.

“Haruskah saya mengabaikannya? Saya belum tahu... Hari ini, dengan kepala dingin, saya bilang ya. Tapi, saya dan rekan-rekan saya sudah meminta bantuan dari wasit dan kami tak dipedulikan. Itu intinya!

“Kami yang terlibat di bidang hiburan harus merenungkan. Sebuah aksi akan memicu reaksi. Saya menerima hukuman saya karena saya harus mengikuti jalur sepak bola bersih.

“Rasialisme itu ada. Tapi, kita harus menghentikannya. Jangan ada lagi, cukup!

“Orang itu bodoh. Saya juga bertindak seperti orang bodoh dengan membiarkan diri terlibat dalam insiden itu. Saya masih beruntung bisa menjaga kepala tetap tegak. Tapi, kita semua harus merenungkan bahwa tidak semua orang kulit hitam dan kulit putih berada dalam posisi setara.

“Kerusakan yang ditimbukan konflik ini ini bisa jadi bencana buat kedua pihak. Tak peduli kita berkulit hitam atau putih. Saya tidak mau dan kita tidak boleh mencampuradukkan masalah.

“Bukan kita yang memilih warna kulit. Di hadapan Tuhan kita semua sama.

“Kemarin, saya kalah dalam pertandingan dan kalah bijaksana. Berada di tengah situasi ini atau mengabaikan seorang rasialis tidak akan membantu apa-apa, saya tahu itu.

“Tapi, mendukung gerakan anti-rasialisme adalah kewajiban kita sehingga mereka yang kurang beruntung bisa mendapatkan perlindungan. 

“Kita akan bertemu lagi dan pertemuan itu terjadi dengan cara saya, bermain sepak bola. Tetap damai! Tetap damai! 

“Kamu tahu apa yang sudah kamu katakan... Saya tahu apa yang sudah saya lakukan. Lebih banyak cinta untuk dunia. #noracism #saynotoracism

R
Penulis
Rijal Al Furqon