news
TOP FEATURE OLIMPYC
Mengeksekusi Mati Seorang Atlet Gulat, Pemerintah Iran Menuai Kecaman dari IOC, FIFA, UFC, dan Presiden Donald Trump
15 September 2020 00:18 WIB
berita
Unjuk rasa mendukung Navid Afkari - TopSkor/Istimewa
TEHERAN – Atlet gulat Iran, Navid Afkari, telah menjalani hukum gantung, Sabtu (12/9), setelah divonis mati dalam kasus pembunuhan terhadap seorang pegawai negeri sipil bernama Hassan Turkman.

“Afkari dieksekusi pagi ini setelah menjalani proses hukum atas tuntutan orang tua dan keluarga korban,” kata Kazem Mousavi, Kepala Departemen Kehakiman Provinsi Fars.




Baca Juga :
- Sahabat Sejiwa! Lionel Messi dan Luis Suarez Lakukan Gaya Selebrasi yang Sama Saat Cetak Gol buat Timnya Masing-Masing
- Klub-klub Pesaing Liverpool dalam Perburuan Gelar Liga Premier, Menurut Jurgen Klopp


Pihak berwajib menuduh pegulat 27 tahun itu telah menikam seorang karyawan perusahaan air minum di Kota Shiraz. Stasiun televisi Iran pun telah menayangkan pengakuan langsung dari mulut Afkari.

Tapi, menurut keluarga Afkari dan aktivis hak-hak asasi manusia, atlet itu terpaksa membuat pengakuan tersebut lantaran tidak tahan disiksa.


Baca Juga :
- Berapa Gol yang Akan Dicetak Luis Suarez buat Atletico Madrid? Ini Prediksinya Menggunakan Teknologi Kecerdasan Artifisial
- Gila! Bayern München Bantai Schalke Delapan Gol Tanpa Balas


Afkari dan kedua saudaranya adalah pekerja bangunan di Shiraz yang terletak sekitar 680 km dari Ibu Kota Iran, Teheran. Mereka bertiga divonis terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut.

Kedua saudara Afkari, Vahid dan Habib, masing-masing dijatuhi vonis 54 dan 27 tahun penjara.

Pengacara Afkari menuding pihak berwajib tidak mengizinkan kliennya bertemua dengan keluarganya sebelum menjalani eksekusi.

“Kenapa kalian begitu terburu-buru untuk mengeksekusi sehingga mengabaikan hak Navid bertemu dengan keluarganya untuk kali terakhir?” tulis pengacara Hassan Younesi di Twitter.

Eksekusi terhadap Afkari juga menuai kecaman dari dunia internasional termasuk dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo.

“Eksekusi yang dilakukan rezim Iran terhadap Navid Afkari adalah tindakan yang keji dan jahat. Kami mengutuk keras eksekusi itu. Itu adalah serangan biadab terhadap kehormatan manusia, bahkan dilihat dari standar buruk rezim ini sekalipun. Suara rakyat Iran tidak akan bisa dibungkam,” tulis Pompeo di Twitter.

Reporter stasiun televisi Al Jazeera, Assed Baig, yang melaporkan dari Teheran, mengatakan bahwa ada dua veris yang sangat berbeda terkait kasus pembunuhan yang dilakukan Afkari.

“Di luar Iran kita mendengar cerita bahwa Navid Afkari ditangkap karena aksi unjuk rasa yang digelar pada 2018 dan dia dituduh membunuh seorang petugas keamanan,” kata Baig.

“Di Iran, ceritanya sangat berbeda. Navid Afkari ditangkap oleh polisi yang mengidentifikasi dia lewat CCTV saat tengah melakukan pembunuhan terhadap seorang karyawan. Pihak pengadilan sendiri menegaskan bahwa penangkapan dan persidangannya tidak ada hubungannya dengan unjuk rasa.”

Komite Olimpiade Internasional (OIC) mengatakan bahwa eksekusi terhadap Afkari adalah berita yang sangat menyedihkan. Sebelumnya, Presiden IOC, Thomas Bach, telah mengirimkan surat kepada pemimpin Iran agar mengampuni Afkari.

Kecaman serupa juga dilontarkan Presiden UFC, Dana White, FIFA, dan World Players Asociation, organisasi yang beranggotakan 85 ribu atlet dari seluruh dunia. 

Presiden AS, Donald Trump, juga sempat menyerukan agar pemerintah Iran membatalkan eksekusi terhadap Afkari.

“Kepada para pemimpin Iran, saya akan sangat menghargai jika Anda bisa menyelamatkan nyawa anak muda ini dan tidak mengeksekusinya. Terima Kasih!” tulis Trump awal September lalu.

Tapi, pihak Iran malah merespons cuitan Trump dengan menayangkan kisah seputar kasus di televisi pemerintah dengan durasi 11 menit termasuk gambar orang tua korban yang menangis.

Dalam tayangan itu ditampilkan rekonstruksi pembunuhan yang dilakukan Afkari yang mengendarai sepeda motor dan dia mengaku menikam korban dari belakang. Tapi, tidak dijelaskan apa motif dari pembunuhan itu. Tayangan itu hanya menampilkan dokumen dari kepolisian yang disamarkan yang menjelaskan bahwa pembunuhan itu dilakukan karena “masalah pribadi.”

Kantor berita Iran, Tasnim, merespons cuitan yang dibuat Trump dengan mengatakan bahwa pihak AS justru telah melakukan tindakan yang lebih kejam dengan menjatuhkan sanksi terhadap Iran yang menyulitkan rumah sakit di negara pada masa pandemi Covid-19.

“Trump mengkhawatirkan nyawa seorang pembunuh sementara dia telah membuat banyak nyawa pasien Iran dalam bahaya dengan menjatuhkan sanksi yang kejam,” tulis Tasnim.

Stasiun televisi pemerintah Iran juga menayangkan wawancara dengan kedua orang tua korban. Keduanya mengatakan putra mereka telah dibunuh dan kini mereka berhak menuntut balas.

“Media-media asing bahkan tidak berpikir untuk mewawancarai orang tua korban soal putranya yang dibunuh dan meninggalkan tiga orang anak. Jadi, ada dua versi cerita yang sangat berbeda," kata Baig.

R
Penulis
Rijal Al Furqon