news
OPINI
Jas Merah Bung Karno
19 August 2020 15:03 WIB
berita
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah
JAS Merah. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Begitu Presiden pertama Indonesia Bung Karno mengingatkan.

17 Agustus 2020, genap 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Usia yang sangat matang. Hasil perjuangan yang mengorbankan segalanya. Jiwa, raga, darah. Bahkan nyawa.




Baca Juga :
- Menpora Zainudin Amali Akan Pimpin Peringatan Haornas Ke-37, Rabu (9/9)
- Barcelona Besar Bukan hanya karena Messi


Kemerdekaan tidak jatuh begitu saja dari langit. Saya tidak perlu menjabarkan berapa juta rakyat berkorban. Pastinya tidak sedikit yang menjadi syuhada demi membela Tanah Air. 

Dalam 75 tahun perjalananya, bangsa ini menapaki tiga fase. Orde lama, orde baru, dan reformasi. Penuh gejolak di dalamnya. Kita hanya bisa berteriak...Merdeka..! Dari tahun ke tahun. Selalu begitu. Tiap 17 Agustus.


Baca Juga :
- Persahabatan Tanpa Batas, Kemana Aja Loe Doel
- Grand Design Olahraga Digodok, Menpora: Tidak Boleh Sepotong-sepotong


Apa cita-cita kemerdekaan itu?  
Ada empat poin penting. Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Terakhir, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 

Kita bisa melihat mulianya cita-citanya kemerdakaan. Tapi, bagaimana mewujudkannya? Jawabnya: kembali pada diri kita masing-masing. 

Ada pesan bijak dari John F.Kennedy. "Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!"

Kalimat mantan presiden AS itu membuat kita teringiang-ngiang. Mempertahankan kemerdekaan itu banyak cara. Tidak harus angkat senjata. Tidak melulu di medan perang. 

Saya yakini olahraga bisa, Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa-- bagian dari cita-cita kemerdekaan. Dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Otomatis membentuk pikiran yang sehat dan cerdas. 

Masa depan bangsa cerdas ditentukan dengan anak bangsa yang sehat dan gembira. Karena itu pentingnya olahraga dijadikan gaya hidup. Kesadaran masyarakat perlu terus ditumbuhkan. Jangan pernah bosan. Kita tentu berharap bangsa ini melahirkan generasi emas. Generasi cerdas bukan generasi mecin.

Kesadaran masyarakat untuk berolahraga memberikan kontribusi dalam pembangunan individu dan masyarakat yang cerdas, sehat, terampil, tangguh, kompetitif, sejahtera, dan bermartabat. Kemenpora lewat Deputi 3 telah menggembar-gemborkannya. Lewat berbagai program.

Patut dicatat. Bung Karno bukan hanya sang proklamator. Bung Karno juga peletak dasar olahraga. Dikatakan olahraga sebagai sarana pemersatu bangsa Indonesia. 

Bung Karno- presiden pertama Indonesia- kharismatik. Bukan hanya piawai berpolitik. Berorasi berapi-api. Bung Karno juga peka terhadap olahraga.

Kebijakan politik pemimpin di Indonesia berpengaruh besar terhadap kebijakan olahraga yang terjadi. Kebijakan politik, termasuk dalam bidang olahraga, yang diambil sebuah negara sangat tergantung pada siapa yang menjadi pemimpin. 

Bung Karno memiliki kebijakan yang kuat pada olahraga sebagai pembangunan karakter bangsa (nation building). Pada 17 Agustus 1957 Bung Karno mengatakan pentingnya pendidikan jasmani dan olahraga dalam rangka nation building. 

Semua pimpinan pergerakan maupun olahraga memusatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menciptakan kondisi sosial politik dalam negeri yang stabil.  

Bung Karno pada periode 1945-1966, memiliki kebijakan yang kuat pada olahraga sebagai pembangunan karakter bangsa (nation building).

Olahraga sebagai jalan menuju tegaknya harkat dan martabat bangsa. Sejumlah pakar membenarkan pendapat ini, antara lain Alain Bairner (1996:19-20) yang mengatakan bahwa:

”Olahraga berkontribusi pada integrasi nasional sebab memberikan kesempatan kepada mereka-mereka yang berbeda kelas sosial, etnis, ras, dan agama untuk mengharumkan bangsa lewat prestasi olahraga. Namun, perbedaan yang terjadi menjadi problem tersendiri bagi negara untuk menyatukan menjadi sebuah kekuatan solid.”

Bung Karno --tokoh utama- peletak dasar olahraga sebagai sarana pemersatu bangsa Indonesia. Dengan jeli dia bagaimana nasionalisme bangsa yang baru saja merdeka digelorakan lewat olahraga. 

Maka Bung Karno menetapkan 9 September pada 1948 sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas). Penetapan Haornas berdasarkan tanggal penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Stadion Sriwedari, Solo, 9-12 Septeber 1948. 

Selepas PON pertama, prestasi Indonesia di bidang olahraga terus meningkat. Itulah yang melatarbelakangi dilahirkannya Keppres No. 67 tahun 1985 tentang Hari Olah Raga Nasional.

Harga diri dan martabat bangsa yang baru merdeka dipertaruhkan Bung Karno untuk sukses PON pertama itu. Gelaran itu  menjadi catatan penting yang melegenda bagi dunia olahraga kita.

Tanpa Bung Karno, kita tak punya Stadion Utama Senayan yang sekarang bernama GBK (Gelora Bung Karno). Menelan biaya 12,5 juta dolar AS pada 1962, GBK menjelma menjadi stadion termegah di Asia. 

Pada 1964, Bung Karno punya mimpi besar proyeksi olahraga di Indonesia. Bung Karno menyerukan bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun mendatang akan menduduki tempat paling tinggi di lapangan olahraga. 

Sayangnya cita-cita itu tidak terwujud. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970. Mari kita teruskan mimpi besar itu. Saatnya kita ciptakan visi olahraga dengan ragam dimensinya. 

Merdeka!*
 

news
Penulis
Suryansyah