news
OPINI
Persahabatan Tanpa Batas, Kemana Aja Loe Doel
16 August 2020 10:48 WIB
berita
"MAU kemana Doel, temanin gue dulu sini," kata Sam Lantang meminta saya menemaninya di lobi hotel di Chiang Mai pada 1995.

"Sebentar bang, saya mau cari makan dulu," jawab saya. 




Baca Juga :
- Menpora Zainudin Amali Akan Pimpin Peringatan Haornas Ke-37, Rabu (9/9)
- Jas Merah Bung Karno


Saya masih ingat ketika itu meliput SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand. Bang Sam tak pernah memanggil nama asli saya. Wartawan senior olahraga itu punya alasan kenapa memanggil saya Si Doel. 

"Mah...kenalin nih Si Doel. Dia anak betawi, wartawan olahraga. Namanya sebenarnya Suryansyah. Tapi, saya lebih suka panggil dia Si Doel. Ada satu lagi 'tesennya', Aba Mardjani, anak Betawi juga," tutur Bang Sam memperkenalkan saya dengan istrinya, saat menjenguknya di Rumah Sakit Hermina Depok, beberapa bulan yang lalu. 


Baca Juga :
- Ada Tamu Istimewa di 70 Tahun Sam Lantang
- Grand Design Olahraga Digodok, Menpora: Tidak Boleh Sepotong-sepotong


Saya tak bisa berkelit. Apalagi protes. Saya menghormati senior ini. Bang Sam- begitu saya menyapa-- sosok yang humoris. Caranya bicara yang khas acap membius saya. Suka ceplas-ceplos, apa adanya. Bisa habis berbatang-batang rokok jika Bang Sam bercerita. 

Bang Sam tak ragu berbagi pengalaman kepada wartawan yunior. Tak ada batas atau sekat. Itu yang membuat saya salut. Bang Sam guru buat saya secara tidak langsung. Meski kita berada di media berbeda.

Sami Leo Lantang – dia lahir di Manado, 15 Agustus 1950. Sabtu kemarin, genap berusia 70 tahun. Pencapaian yang luar biasa. Perayaan Ultah Bang Sam digelar di Aula Dewan Pers Jakarta.

Bang Sam sangat bersyukur menerima kehadiran Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Saputra Pane, Suryopratomo, yang segera memangku jabatan duta besar di Singapura, dan Steven Setiabudi Musa, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta.

Hadir pula para wartawan senior seperti, Jimmy S Harianto (harian umum Kompas), Rajab Ritonga (kantor berita nasional Antara) yang kini bergelar Profesor, Mahfudin Nigara mantan Pemred Tabloid Gema Olahraga (GO) yang kini Staf Khusus Menpora Zainuddin Amali, Nelson Siahaan, Dirham Sobirin (Poskota), Raja Pane (mantan Ketua Siwo Pusat), dan tokoh sepak bola nasional Andi Darussalam. 

Profesor Carolyn Aldwin dari Universitas Oregon mengatakan: secara umum, kehidupan menjadi lebih baik ketika Anda bertambah umur dengan pertimbangan semakin dewasa, semakin sedikit gangguan dan respon yang muncul lebih baik dibandingkan pria yang lebih muda.

Berdasarkan penelitian, seseorang akan merasakan indahnya hidup ketika berusia sekitar 70 tahun. Analisis ini dilakukan majalah British Airways Business Life yang menemukan bahwa 70 tahun adalah usia yang ideal untuk merasakan sempurnanya kehidupan.

Saya yakini Bang Sam merasakan kebahagian. Sayangnya, saya tak bisa ikut merayakan hari istimewa itu. Tapi, saya bisa bayangkan Bang Sam sangat bahagia. Saya melihatnya dari foto-foto yang beredar di Grup WAG's wartawan Arusderas 90.

Sehari sebelumnya, senior sekaligus guru saya, Yon Moeis, menelpon untuk kumpul kangen di rumah Bang Sam. Kebetulan kami sama-sama tinggal di Depok. Tapi, saya mohon maaf tak bisa memenuhinya. Saya berada di Pandeglang, Banten, untuk mendampingi pernikahan putra saya yang jatuh pada hari ulang tahun ke-70 Bang Sam.

"Kemane aje lo Doel baru kelihatan," tanya Bam Sam di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta 4 Juli lalu. Ketika itu, Bang Sam hadir pada acara Pertiwi Indonesia berbagi peduli dengan mantan atlet yang terdampak Covid-19. 

Meski pernah terserang stroke, bang Sam masih bisa bercanda. Salutnya lagi, meski berusia 70, memorinya masih tajam. Bang Sam sangat detail mengupas sepak terjang Ellyas Pical (tinju), Simson Rumahpasal (sepak bola), Nurfitriyana Saiman (panahan), Loudry Maspaitella (bola voli), Martha Kse (atletik) dan Syahbudin (pencak silat). 

"Gue sangat dekat dengan mereka Doel, makanya gue tahu persis perjalanan mereka sebagai atlet," tutur Bang Sam.

Ini bukti Bang Sam begitu mendarahi olahraga. Ketika aktif di Tabloid Bola, Bang Sam juga menjadi Ketua Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Jaya pada 1983-1987, 1987-1991 sebelum digantikan Atal S. Depari yang kini Ketua Umum PWI Pusat. 

Di tangan Bang Sam, Siwo DKI Jaya punya kekuatan luar biasa dalam mendorong pembinaan olahraga nasional. Bang Sam mampu menjembati hubungan atlet dengan stake holder maupun wartawan. 

”Terus terang Siwo Jaya di bawah kepemimpinan Bang Sam sangat disegani oleh pihak luar terutama dengan para stake holder olahraga nasional,” kata Atal yang kini menjadi orang nomor satu di PWI Pusat ini.

Satu hal yang menonjol pada diri Bang Sam adalah Siwo dibuat menjadi organisasi yang sangat demokratis. Tak ada sekat dan batas dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis.

Di kalangan para pewarta olahraga di Senayan, Bang Sam bukan hanya senior juga guru. Ia banyak memberikan kesempatan kepada para pewarta muda (yunior) bersaing dalam memburu berita.

Persahabatan tak kenal batas. Tak lekang oleh waktu. Meski di usia senja, Bang Sam tetap bersahaja. Selamat ulang tahun Bang. Perjalanan Doel masih jauh untuk menapakimu Bang.

Salam Olahraga!*

news
Penulis
Suryansyah