news
UMUM
Grand Design Olahraga Digodok, Menpora: Tidak Boleh Sepotong-sepotong
13 August 2020 20:52 WIB
berita
Kemenpora bahas Uji Publik Penyusunan Grand Design Keolahragaan di Bogor, Kamis (13/8)
BOGOR - Tidak ada prestasi tanpa proses. Tidak ada yang instan. Perlu kerja keras dan perjuangan. Terutama dalam menyongsong persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Olympic dan Paralympic Games 2032.

Untuk itu pentingnya sebuah pondasi pembinaan atlet. Pondasi itu menurut Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, harus benar-benar kuat. Karena itu perlu adanya Grand Design Keolahragaan. 




Baca Juga :
- Tak Ada Lagi Atraksi Presiden Jokowi di Pembukaan Piala Dunia U-20 2021 di Indonesia
- Menpora: Grand Design Pembinaan Olahraga Harus Jadi Pabrik Prestasi Atlet


"Sejauh ini belum ada grand design. Makanya kami mengundang para  KONI, KOI, FORMI, pimpinan cabang olahraga, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, pemerhati olahraga, Seksi Wartawan Olahraga Indonesia (Siwo) Pusat, dan lembaga pemerintahan. Jika sudah terumuskan harus dilakukan uji publik," kata Raden Isnanta dalam acara Uji Publik Penyusunan Grand Design Keolahragaan di Bogor, Kamis (13/8). 

Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang dibahas. Mulai dari misi dan visi, sistem pembinaan, sumber daya manusia (SDM), pemanfaatkan teknologi dan lainnya. 


Baca Juga :
- Kemenpora Berjuang Agar Pencak Silat Masuk Olimpiade
- Menpora Targetkan Pencak Silat Jadi Cabang Ekshibisi pada Olimpiade 2024 di Paris


Selain Raden Isnanta, tampil sebagai pembicara pada acara di Aston Bogor Hotel & Resort, itu adalah Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga, Chandra Bhakti dan Staf Khusus Kemenpora Mahfudin Nigara.

Menurut Raden Isnanta grand design olahraga nasional yang saat ini tengah digodok difokuskan pada pembinaaan untuk lima cabang Olimpiade. Kelima cabor tersebut, bulutangkis, angkat besi, panahan, tinju dan panjat tebing.

"Bukan berarti cabang olahraga lain tidak digarap. Tapi karena ini bicara fokus dan target jadi tidak mungkin semua ditargetkan," jelas Raden Isnanta. 

Lebih lanjut Raden Isnanta menutur, proses pembinaan akan dimulai secepatnya pada tahun depan. Targetnya para atlet usia muda yang dipusatkan di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) maupun Sekolah Khusus Ragunan (SKO). 

Sementara itu, Chandra Bhakti menyoroti kualitas dan kuantitas SDM yang diakui masih rendah. Perlu dilakukan pembinaan khusus dan berkesinambungan. 

"Prestasi tinggi akan dicapai melalui proses panjang minimal 8 tahun. Dimulai dari penelusuran bakat pada usia dini 12-13 tahun. Lalu dibina hingga mencapai prestasi usia emas (23 tahun)," ujar Chandra Bhakti. 

Dia juga mengatakan sejauh ini Sport Science masih sebatas retorika. Belum terimplementasi secara optimal. Kemenpora punya tapi sudah tidak update. Manajemen dan tata kelola organisasi olahraga juga belum profesional. 

"Jadi banyak hal yang harus kita benahi bersama. Sarana dan prasarana masih terbatas. Lingkungan latihan kurang kondusif. Dan yang tak kalah penting, bagaimana atlet mendapat suplemen atau gizi/nutrisi yang layak untuk menunjang prestasi," katanya. 

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengapresiasi acara ini. Menurutnya grand design olahraga  dijadikan prioritas untuk segera dituntaskan. 

"Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga dan semua  pihak yang terlerlibat di acara ini. Kami sadar bahwa jalannya  pembinaan olahraga kita  selama ini belum mempunyai satu grand design yang baku dan yang bisa kita jadikan sebagai pedoman untuk kebugaran masyarakat maupun untuk prestasi olahraga kita," ucapnya. 

Pembinaa olaharaga nasional lanjut Menpora, tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Harus berkesinambungan. Grand design sangat penting untuk pembinaan olahraga. 

"Tanpa itu jangan olahraga kita bisa berkembang dan maju. Karena itu butuh masukan dari publik atau masyarakat. Terutama para stake holders olahraga itu sendiri, sehingga grand design jadi milik kita bersama," tegasnya.

Sementara itu, staf khusus Kemenpora Mahfudin Nigara menyebut apa yang dilakukan Menpora adalah sebuah langkah kanan. Langkah yang benar. Selama ini menurutnya belum ada yang melakukannya. 

"Grand design ini perlu diuji oleh publik. Bagaimana kita melihat sesuatu dalam proses yang benar. Grand design ini sebuah awalan yang baik dan benar," tutur Nigara.

Itulah sebabnya, lanjut Nigara, kenapa Kemenpora akhirnya berpikir bahwa pembinaan olahraga dan juga pembugaran masyarakat melalui olahraga harus lakukan dengan design yang benar, komprehensif, jangka panjang dan berkesinambungan.*
 

news
Penulis
Suryansyah