news
OPINI
Kehilangan Satu Testis, Tri Sempat Sengkarut
12 August 2020 10:24 WIB
berita
LEBIH dari 20 tahun tak bertemu. Sampai saat ini. Tapi saya tak pernah lupa. Triadnjanaadi Lokatanaya! Nama yang melekat di lapangan basket nasonal. 

Tri seangkatan AF Rinaldo, Felix Bendatu, Fictor Roring, Moh. Rifki, dan Suko Daryono. Mereka pilar Asaba Basketball Club sebelum diganti Aspac pada 1993. Tri pensiun pada 2005, setelah setahun membela Mitra Kalila.




Baca Juga :
- Sulit Cari Lapangan Latihan karena PSBB, Manajer Satria Muda: Nanti Pemain Malah Jadi Atlet Fitness
- Perbasi, IBL, dan BNPB Tandatangani MoU, Lanjutan IBL 2020 Dipastikan Tetap On Schedule


Selama 11 tahun Tri jadi pelanggan timnas bola basket. Sejak timnas junior 1988 hingga SEA Games 1999. Dua kali saya meliput penampilannya di SEA Games. Chiang Mai, Thailand 1995 dan Brunei 1999. Selebihnya di panggung Kobatama.

SEA Games Brunei 1999 pertemuan terakhir saya dengan Tri. Saya pindah desk dari olimpik ke sepak bola internasional. Saya lebih banyak berkutat di belakang meja. Praktis menjauh dari ingar bingar basket yang kala itu membumi lewat Kobatama.


Baca Juga :
- Prawira Bandung Tunggu Keputusan BNPB terkait Kelanjutan IBL
- Duduk Ngangkang Basic Instinct Pebasket Putri Ini Menarik Perhatian


Ketangkasannya Tri sebagai forward tak diragukan. Dedikasinya untuk Merah Putih pun demikian. Bahkan lebih. Mungkin tak banyak yang tahu. Tri harus kehilangan satu testis (maaf: biji kemaluan). Pengorbanan luar biasa.

Itu terjadi di SEA Games Singapura 1993. Tri mengalami benturan dengan pemain lawan. Tapi tidak dirasakan. Fight! Adrenalinnya masih kencang. Semangat juangnya tinggi. 

Selesai pertandingan baru terasa. Tri seperti dilempar badai. Testisnya terasa muter. Menghambat aliran darah. Tak sempat tertangani di Singapura. Karena sudah berada di bandara. Pas pesawat mau terbang ke Jakarta. 

"Sampai di Indonesia tidak dilanjutkan penanganannya. Akhirnya bengkak sebesar batu dan keras. Tak ada pilihan operasi dan diangkat satu testis," ujar Tri. 

Sempat drop, itu pasti. Mental jatuh. Itu manusiawi. Tak mudah menghadapi kenyataan pahit. Mungkin terpahit dalam hidupnya. Bahkan lebih dari itu. Pikiran jadi sengkarut. 

Hati Tri remuk. Dia marah dan kesal. Langit pun mau ditinju. Negara disalahkan. PP Perbasi disalahkan. Manajer tim dan ofisial juga. Hampir satu tahun dia bertempur melawan batinnya. Sulit untuk berdamai.

"Tapi begitu ngobrol sama bapak dan om yang tentara, semua berubah. Mereka bilang: kakekmu dulu berjuang. Mengorbankan nyawa di medan perang. Demi bangsa ini. Masa kamu baru segitu aja nyerah," tutur Tri yang mendapat nasihat.

Sontak, Tri bangkit. Mohon ampun kepada Tuhan. Juga ke semua orang yang sempat dimaki dalam hati. Tri sadar akan ujian. Dia akhirnya kembali ke lapangan basket.

"Jika negara memanggil, tinggalkan seua dan hadir serta bela bangsamu. Tanpa alasan. Panggilan negara adalah suara Tuhan yang wajib kita jalankan," ungkap Tri.

Selasa (11/8) malam, saya mendapat kabar Tri kembali dihantam badai. Dia tengah berjuang melawan diabetes. Saya mencari tahu kebenaran berita itu. "Iya benar," jawab coach Fictor Roring membalas pesan whatsapp saya.

Erly Bahtiar memperkuat info tersebut di grup Siwo PWI Pusat. "Ya, infonya bergulir cepat sekali. Jadi kita merespon dengan ide-ide liar," kata Erly yang melakukan penggalangan dana untuk pengobatan mantan pebasket nasional Tri Adnyana Adiloka lewat Jusraga (jurnalis peduli dan suka olahraga).

Alhamdulillah, ketika saya kontak, Tri sudah kembali ke rumah. Dia sempat menginap empat hari di rumah sakit. Progres luka operasinya cukup baik. Tinggal perawatan rutin. Kontrol gula darah. Semoga bisa kembali normal.

"Ini bagian dari ujian yang harus ita lewati dan nikmati," tutur Tri.

Sebagai insan olahraga harus siap hadapi risiko. Tri lama diserang diabetes. Persisnya 4 tahun setelah pensiun pada 2004. Tapi, mantan bosnya di Aspac, Kim Hong, serta rekan setimnya, terus mensupport.

Tapi, belakangan, dia tak bisa mengelak. Ada luka dan kena infeksi di kaki. Tindakannya: operasi! Untungnya tidak kena jaringan yang membuat risiko amputasi. 

Tri tidak menuntut negara memberi bantuan. Dia sadar negara juga diterjang badai krisis. Perang melawan pandemi virus corona. Dia hanya butuh doa untuk dikuatkan.

"Saat jadi pemain nasional dan pelatih, saya sudah mendapat uang saku dan fasilitasnya. Saat dipanggil membela negara. Setelah selasai ya kita kembali ke masyarakat," tuturnya. 

Tri lahir di Singaraja, Bali, 3 Oktober 1971, tampak tegar. Hatinya tangguh. Setangguh powernya di bawah ring basket. Dia bukan atlet cengeng. Itu setahu saya yang kenal Tri sejak 1990.

Ini bukan pertama dia dilempar badai. Tri sadar ini ujian yang harus dihadapi. Saya senang dia masih bisa melempar candaan nakalnya yang segar. Seperti dulu. Meski hanya suara dari ujung telepon. Sehat selalu Tri. Badai pasti berlalu!*

Salam Olahraga!


 

news
Penulis
Suryansyah