news
OPINI
Andrea Pirlo, Pilihan yang Imajinatif!
09 August 2020 10:19 WIB
berita
JOSEP Guardiola, Zinedine Zidane, dan hari ini resmi bisa ditambahkan dengan Andrea Pirlo.

Jika kita melihat deretan ketiga nama tersebut, hanya ada satu yang muncul dalam benak saya, mungkin juga dalam pikiran Anda. Kreator, kreativitas, fantasista, metronome?




Baca Juga :
- Siaran Langsung Liga Champions, SCTV: Inter Milan vs Real Madrid, Kamis (26/11) Pukul 03.00 WIB
- Bawa Barcelona ke 16 Besar Liga Champions, Oscar Mingueza Sudah Pantas Gantikan Peran Gerard Pique


Lihatlah, untuk satu nama dari mereka saja kita membutuhkan cukup banyak kata dalam menggambarkannya.

Mendengar bahwa Pirlo akhirnya diangkat sebagai pelatih Juventus sebenarnya mengejutkan. Apakah tidak terlalu cepat baginya melatih klub besar seperti Juventus?


Baca Juga :
- Kiper Lazio, Pepe Reina, Melewati Rekor Laga Xavi Hernandez di Kompetisi Eropa
- Pelatih Barcelona, Ronald Koeman Curhat kepada Pelatih Dynamo Kiev setelah Laga Berakhir


Seorang fan Andrea dalam media sosial menyampaikannya seperti ini: Saya lebih senang dengan Pirlo yang sebelumnya, saya takut dia menjadi bahan kritik dan cemoohan.

Tapi, dari jejak semua pemberitaan tentang Pirlo, ada kesaksian tentang allenatore baru Juve ini, yaitu pernyataan dari sahabatnya, Gennaro Gattuso, yang kini sebagai pelatih Napoli.

“Jangan tertipu dengan kulit luar. Pirlo itu setan berwajah malaikat,” kata Gattuso dalam buku biografi Pirlo yang berjudul I Think Therefor I Play.

Pep, Zizou, dan Pirlo. Lalu bisa dibandingkan dengan Diego Maradona, Alan Shearer, atau Thierry Henry yang pada masa kariernya bermain sebagai penyerang.

Pep, Zizou, dan Pirlo. Lalu bandingkan dengan Jaap Stam, Fabio Cannavaro, Tony Adams yang pada masa kariernya bermain sebagai bek.

Seperti Pep dan Zidane, mereka merupakan pemain bintang yang sangat sukses pada masa kariernya sebagai pemain.

Mungkin perbandingan ini terlalu cetek. Tapi, dalam semua pedoman tentang kepelatihan jelas sekali bahwa untuk menjadi pelatih, seseorang harus memiliki kreativitas yang tinggi. Dibutuhkan imaginasi mereka yang mampu mengatur irama permainan timnya bahkan dari lini pertahanan.

Dan, kebutuhan seperti itu sudah ada dan terbawa dengan sendirinya oleh mereka yang dulu bermain sebagai gelandang kreatif.

Tentu saja, bukan berarti pemain yang pada masa kariernya bermain sebagai bek sangat kecil kemungkinan suksesnya jika menjadi pelatih. Dengan latar belakangnya sebagai pemain kreatif, peluangnya untuk sukses di Juventus sangat terbuka.

Lalu, Guardiola adalah mantan pemain Barcelona yang sangat mengenal Barca, lalu dia pun sukses ketika langsung melatih Barcelona.

Zidane adalah legenda hidup Real Madrid lalu ketika langsung ditunjuk sebagai pelatih Madrid, dia pun sukses.

Frank Lampard mantan pemain Chelsea bahkan dia ikon klub ini, dan ketika menjadi pelatih The Blues musim ini, saya menilai dia juga sukses. Mikel Arteta adalah mantan pemain Arsenal dan dia pun dalam trek yang bagus saat ini bersama The Gunners.

Bahwa mereka yang memiliki imajinasi seorang pengatur serangan dari kedalaman, berpeluang besar untuk sukses. Pirlo seperti gasing yang berputar. Selama dia berputar pantulannya akan memberikan efek kepada semua yang berada di sekitarnya.

Dia memiliki kekuatan giroskop, titik putaran dalam mempertahankan orientasi. Yang harus dilakukan pemain Juventus kini adalah mengikuti pantulan putarannya.

Keputusan Juventus mengangkat Pirlo tidak dapat diukur dengan gelar yang harus diraih. Jika yang dibutuhkan Juventus adalah pelatih yang menjamin pasti meraih gelar, sebut saja Liga Champions, tidak ada pelatih yang seperti itu.

Tapi, Juventus ternyata tidak berpikir instan seperti itu. Pengangkatan Pirlo dapat dilihat juga sebagai langkah yang kontradiktif dari ambisi Juventus di Liga Champions, trofi ini memang menjadi impian La Vecchia Signora.

Mngangkat Pirlo sebagai pelatih kini tidak lagi relevan dikatikan dengan target gelar Liga Champions. Jelas, ini pun sebuah kejutan. Ternyata, Juventus mengambil jalan yang berbeda dalam memilih pelatih.

Bagi saya, ini bukan soal tepat atau tidak. Saya melihatnya sebagai sebuah langkah yang imajinatif dari Juventus dan itu menyenangkan.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat