news
LIGA INGGRIS
Ketika Masih Main di Arsenal, Arteta Pernah Diminta Guardiola Membeberkan Kekuatan Chelsea
01 August 2020 17:57 WIB
berita
Mikel Arteta (kanan) ketika masih sebagai asisten pelatih Josep Guardiola di Manchester City dan kini dia memiliki peluang meraih trofi Piala FA, malam ini saat menghadapi Frank Lampard -Topskor.id/Grafis: Triyadi
LONDON – Menjadi pelatih Arsenal memang sebuah peningkatan karier bagi Mikel Arteta. Hanya sedikit pelatih yang mendapatkan kehormatan duduk di kursi kepelatihan The Gunners.

Tapi, ketika itu pula, tidak banyak pelatih yang berani mengambil tawaran melatih klub asal London ini.




Baca Juga :
- Muncul Transfer Wilfried Zaha ke Arsenal di Klub Malam
- Lacazette Menuju Atletico Madrid, Saat Aubameyang Bakal Dapat Kontrak Baru di Arsenal


Melatih Arsenal, berarti pula menangani sebuah tim yang masih kental dengan filosofi yang ditinggalkan Arsene “The Professor” Wenger.

Dan, melatih The Gunners, berarti pula harus tahan banting karena tuntutan yang begitu tinggi serta citra tim ini yang performanya dinilai tidak pernah konsisten.


Baca Juga :
- Andrea Pirlo, Pilihan yang Imajinatif!
- Preview Man City vs Real Madrid: The Citizens 146 Gol, Los Merengues 98 Gol, Siaran Langsung SCTV, Sabtu (8/8) Pukul 02.00 WIB


Arteta menerima tantangan tersebut pada 22 Desember lalu, menggantikan Unai Emery yang dipecat. Dia datang dengan status tanpa pengalaman sebagai pelatih kepala.

Meski demikian, satu-satunya predikat yang membuatnya disegani sebagai pelatih adalah predikatnya sebagai mantan asisten Josep Guardiola.

Dengan kehadiran Arteta, London menjadi semakin menarik karena pada awal musim ini, ada sosok pelatih yang juga baru dalam menapaki kariernya yaitu Frank Lampard.

Tepatnya pada 4 Juli 2019, Lampard resmi diangkat sebagai pelatih baru Chelsea menggantikan Maurizio Sarri.

Arteta tahu apa saja tugas sebagai pelatih. Bukan hanya 100 persen tenggelam dalam taktik atau strategi, melainkan juga sesekali menjadi pengintai terkait kekuatan calon lawannya.

Situasi ini yang dipelajarinya dari Guardiola. Arteta sudah mengenal Pep sejak di Akademi Barcelona. Namun, saat itu, Pep sudah masuk menjadi bagian dari tim senior Barca dan Arteta lebih muda 11 tahun.

Sejak saat itulah, Arteta dan Pep selalu berhubungan. Lalu, ada momen ketika Arteta masih sebagai pemain Arsenal, Guardiola mengontaknya dan meminta dirinya untuk memberikan informasi kekuatan klub sekota Arsenal, Chelsea.

Saat itu, Pep yang masih sebagai pelatih Barcelona, memang akan tampil menghadapi Chelsea dalam semifinal Liga Champions 2011/12.

“Informasinya mengenai Chelsea kepada saya ketika itu memperlihatkan dia memiliki bakat sebagai pelatih,” kata Guardiola bercerita, pada Desember lalu saat Arteta memutuskan menerima tawaran Arsenal.

Jika Arteta belajar dengan menyerap ilmu di samping Guardiola, Lampard justru sendirian, mulai mengawali kariernya sebagai pelatih di Derby County.

Total, Lampard tampil dalam 110 pertandingan sebagai pelatih (57 dengan Derby dan 53 dengan Chelsea). Dari jumlah tersebut, dia meraih 53 kemenangan, 26 kali imbang, dan timnya mengalami 31 kekalahan.

Persentase kemenangannya sebagai pelatih mencapai 48,2 persen. Namun demikian, jika hanya melihat performanya bersama The Blues, Lampard memiliki rapor yang cukup mengesankan.

Dari 53 pertandingan tersebut, dia membawa Cesar Azpilicueta dan kawan-kawan meraih 29 kemenangan, 9 kali imbang, dan mengalami 15 kekalahan. Dengan demikian, persentase suksesnya mencapai 54,7 persen.

Tentu saja, jam terbang Lampard jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Arteta. Meski demikian, jika melihat persentase sukses yang diraih pria asal Spanyol tersebut, rapornya pun mengesankan.

Dalam 27 pertandingan sebagai pelatih Arsenal sejak Desember lalu itu, kemenangan The Gunners di bawah asuhan Arteta mencapai 55,56 persen setelah meraih 15 kemenangan, 6 kali imbang, dan mengalami 6 kekalahan pula.

Hanya memang, jam terbang Lampard praktis membuatnya selangkah lebih sukses dibandingkan dengan Arteta. Dari posisi klub di klasemen Liga Primer contohnya, Lampard membawa The Blues ke empat besar sedangkan Arsenal gagal tampil di ajang Eropa setelah mengakhiri musim di posisi ke-8.

Mengalahkan Guardiola

Karena itu, trofi Piala FA ini menjadi satu-satunya tiket bagi Arsenal untuk tampil di ajang Liga Europa musim depan. Kini, kedua pelatih tersebut akan bertemu di Stadion Wembley.

Keduanya adalah pelatih dengan label generasi baru. Arteta akan berusia 38 tahun 128 hari pada final nanti sedangkan Lampard 42 tahun 42hari. Keduanya adalah pelatih termuda di Liga Primer saat ini.

Keduanya sama-sama memiliki peluang besar untuk merengkuh trofi pertama dalam karier mereka sebagai pelatih di klub masing-masing.

Bagi Arteta, gelar di Piala FA ini menegaskan dirinya memang pelatih dengan kemampuan seperti Guardiola.

Apalagi, dalam perjalanan membawa Arsenal hingga ke final, tim yang dikalahkannya adalah Manchester City, timnya Guardiola pada semifinal 18 Juli lalu, dalam kemenangan 2-0.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat