news
OTO SPORT
Dekade 2000-an Masa Keemasan Aep Dadang
01 August 2020 14:37 WIB
berita
Aep Dadang sekarang ikon Royal Enfield jenis Himalayan -Topskor.id/Arief NK
BANDUNG -  Dekade 2000-an menjadi masa keemas crosser nasional asal Jabar, Aep Dadang. Bahkan, 1 Agustus 2004 silam, di hadapan sembilan ribu penonton, pembalap kelahiran Soreang, Kabupaten Bandung dengan bendera Pertamina Enduro 2T itu tampil memukau pada Kejuaraan.

Motocross Seri Gudang Garam International yang berlangsung di Sirkuit Permanen Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Mengendarai motor Kawasaki KX 2T, kala itu  Aep menempati urutan pertama dengan meraih total nilai 47 di kelas bergengsi Specil Engine 125 cc.




Baca Juga :
-
-


Nilai tersebut diraihnya setelah melakukan lomba sebanyak dua motto. Pada motto pertama, Aep hanya menempati urutan kedua dengan nilai 22.

Ini setelah kalah cepat oleh sesama timnya asal Australia, Aaron Klanjscek yang berhasil menempati urutan pertama. Lantas di motto kedua Aep mengambil alih posisi dan meninggalkan Aaron dalam lomba selama 25 menit ditambah 2 Laps. Dalam motto kedua ini Aep meraih poin 25.


Baca Juga :
-
-


Sebetulnya antara Aep dengan Aaron sama-sama meraih total poin 47. Namun sesuai peraturan hanya motto kedualah  sebagai penentu kemenangan bagi pembalap. Dengan demikian posisi akhirnya direbut pembalap asal Australia itu.

Dalam kejuaraan tersebut Tim Pertamina menurunkan empat pembalap terpilih. Selain Aep Dadang dan Aaron Klansjcek, juga ada nama crosser kondang macam, Deny Orlando dan Hendra Kumala.

Tapi, Hendro gagal menempati posisi lima besar lantaran terganggu kerusakan pada kendaraannya. Sedangkan Deny Orlando menempati posisi ketiga dengan total nilai, 40 selama 25 menit ditambah dua putaran.

Kendati begitu untuk menempati rangking nasional, Aep Dadang harus berjuang lebih keras. Pasalnya, rangking pertama saat itu ditempati Deny Orlando yang

sudah mengumpulkan poin 168. Sedangkan Aep masih berada di posisi ketiga dengan nilai, 150. Posisi Aep juga terjepit, Endrich PM dari Sumatera Barat yang berckokol di posisi kedua dengan nilai 152.

Untuk mengejar target rangking pertama  Aep tinggal membutuhkan 16 hingga 20 poin lagi dari tiga seri yang tersisa. Usai lomba Aep mengatakan cukup puas dengan raihan peringkat pertama Seri Gudang Garam tersebut.

Menurutnya, ini berkat kematangannya dalam menguasai setiap medan. "Sebetulnya medan di Bandung tak jauh berbeda dengan medan di beberapa tempat sebelumnya. Bagi saya tak ada bedanya hanya tinggal kitanya saja yang harus sigap dalam setiap menghadapi rintangan," tuturnya usa Lomba ketika itu.

Kini setelah pensiun Aep Dadang tetap tidak meninggalkan hobi yang membesarkan namanya. Terakhir, ia  hadir pada  even As Indonesia As One Super  Adventure Jambore Royal Enfield  Indonesia 1/2018.

Aep hadir   ini atas undangan  REBORN untuk sesi test rider motor Royal Enfield jenis Himalayan. Motor jenis Himalayan ini merupakan motor keluaran Royal Enfield untuk para petualangan yang hobi adventure ke pegunungan dan sejak sekarang Aep Dadang menjadi  ikon untuk Royal Enfield Himalayan.

“Ini saya pertama kalinya mengendarai motor jenis adventure, setelah saya coba mesinnya soft dan cocok untuk jenis sport di adventure, hanya saja penggunaannya kita harus bisa menyesuaikan dengan kultur alam, banyak kelebihan jenis motor Himalayan ini,” kata Aep.*

A
Penulis
Arief N K