news
OPINI
Pioli Jangan Hanya Jadi Tukang Reparasi Tim di Milan tapi Harus Lebih dari Itu di Musim Depan
23 July 2020 11:30 WIB
berita
EKSPEKTASI tinggi mengiringi AC Milan saat hendak memulai musim 2019/20. Pelatih Marco Giampaolo dianggap bisa membawa Milan ke posisi yang jauh lebih terhormat. Sederet pemain pun didatangkan. Ada yang pinjaman dan ada pula yang pembelian mahal untuk ukuran Milan macam Lucas Paqueta yang nilainya 38 juta euro.

Belum lagi pemain-pemain yang dianggap bakal hebat di Milan macam Rafael Leao, Ismael Bennacer, Rade Krunic, Ante Rebic, dan Leo Duarte. Sayang, Giampaolo seperti tak bisa mengoptimalkan materi yang ada. Di awalan musim, masih juga pemain lama yang diturunkan.




Baca Juga :
- Belagu! Eks Juara Dunia Ini Bilang Lomachenko dan Golovkin Sudah Lewat Masa Puncak
- Bikin Ngiler! Madrid Menggoda Juventus, Dybala Mau Ditebus Uang Tiga Digit Plus Isco-Kroos


Giampaolo pun hanya seumur jagung. Dia hanya menjalani tujuh pertandingan dengan catatan tiga menang dan empat kalah. Manajemen Milan pun bertindak cepat dengan memecat Giampaolo dan menggantikannya dengan Stefano Pioli. Ini pun dikritik lantaran Pioli dianggap sebagai pelatih semenjana yang bakal bikin Milan sama saja.

Anggapan itu pun tak salah jika merujuk pada catatan pertandingan Milan. Di 10 laga awal bersama Pioli, Milan pun masih terseok-seok. Tepatnya, saat masih di kalender 2019. Dari 10 pertandingan itu, Milan hanya menang tiga kali. Lalu, imbang tiga kali dan ada empat kekalahan termasuk yang dihajar Atalanta 0-5.


Baca Juga :
- Efek Pirlo! Mourinho Bisa Boyong Tiga Pemain Juventus Ini yang Mau Dilepas, Memang Butuh
- Aman! Liverpool Segera Dapatkan Bek Kiri Olympiacos untuk Melapis Andy Robertson


Awan gelap Milan mulai menyingkir saat berganti tahun. Ditandai dengan kedatangan Zlatan Ibrahimovic, Pioli pun seperti sudah menemui masalah mendasar di Milan dan langsung ditangani. Utamanya, bagaimana membuat para pemain mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya.

Kalender 2020 dibuka Milan dengan hasil 0-0 lawan Sampdoria. Setelah itu, Milan menorehkan empat kemenangan beruntun. Ibrahimovic jadi jimat Milan tapi Theo Hernandez juga memperlihatkan kepemimpinannya dan Ante Rebic ternyata sangat tajam. Pemain pinjaman Eintracht Frankfurt itu pun menyumbangkan tiga gol.

Seri A yang terhenti karena pandemi Covid 19 itu dijadikan Pioli sebagai momen untuk makin mematangkan strateginya. Pioli seakan sedang memasuki fase ketiga dalam kiprahnya sebagai pelatih Milan. Pertama, mencari apa yang jadi masalah di tim selama periode 2019.

Lalu, sejak awal 2020 hingga terhenti karena pandemi, Pioli mereparasi para pemain, permainan, dan strategi Milan. Kini, di fase ketiga setelah musim digelar lagi, Milan sudah beres. Ibarat mobil yang baru keluar bengkel setelah menjalani perbaikan dan perawatan, Milan pun melaju kencang.

Catatan pertandingan tak bisa bohong. Milan menjalani sembilan laga Seri A tanpa kekalahan. Bahkan, hanya dua kali imbang. Memang, Milan tersingkir di Coppa Italia oleh Juventus tapi hasilnya pun 0-0 alias tidak kalah di laga kedua pasca pandemi. Pioli memainkan siapa pun tetap bisa membuat Milan melaju kencang.

Di tangan Pioli, Milan tampil dengan skema 4-2-3-1 yang jelas sangat fleksibel. Tiap pemain punya kesempatan berada di depan gawang lawan dan mencetak gol. Ini bisa dilihat dari persebaran gol Milan yang cukup merata. Para pemain Milan pun terlihat kompak dan solid di lapangan.

Ini berkat kebersamaan yang dibangun Pioli selama melatih Milan. Hasil dari perjalanan beberapa bulan sebelumnya inilah yang bisa dilihat sekarang. Mereparasi bisa juga membenahi apa yang tidak pada tempatnya lalu dirapikan. Pioli menjalani semuanya dengan sepenuh hati dan tulus.

Namun, manajemen Milan tetap menganggap Pioli hanya tukang reparasi. Buktinya, manajemen Milan selama berbulan-bulan sibuk mengurus perekrutan Ralf Rangnick, pelatih asal Jerman yang kini menjabat sebagai Direktur Pengembangan Red Bull. Beritanya sudah gembar-gembor. Pioli sama sekali tak dianggap.

Di ujung kisah, Rangnick batal, barulah manajemen Milan menoleh ke Pioli. Kontrak pun diperpanjang hingga 2022. Artinya, pelatih yang dianggap hanya tukang reparasi ini tetap melanjutkan pekerjaannya di Milan. Pioli pun menerima saja karena dia memang ingin sekali membawa Milan kembali berprestasi.

Namun, Pioli pun jangan juga mau saja dianggap sebagai tukang reparasi. Pioli harus terus menjaga Milan tetap di jalur kemenangan. Pertama, bawa Milan finis di posisi kelima klasemen akhir dengan menyapu bersih tiga laga di depan dengan kemenangan. Dengan begitu, Milan pun akan langsung duduk di fase grup Liga Europa 2020/21.

Selanjutanya, Pioli jangan silau di bursa transfer. Soalnya, materi yang ada saat ini sudah bagus dan akan sangat benar jika dipertahankan. Bahkan, untuk pemain macam Giacomo Bonaventura dan Samu Castillejo yang tadinya sudah tinggal angkat koper, alangkah baiknya diberi kesempatan lagi.

Lalu, jaga pemain tengah macam Bennacer dan Franck Kessie karena sudah ketahuan kontribusi mereka untuk tim. Ibrahimovic sudah pasti harus tetap berada di Milan. Dia pemimpin tim dan masih tajam meski sudah tua banget untuk ukuran striker. Termasuk jaga habis-habisan Gianluigi Donnarumma karena dia juga ikon Milan.

Jika Milan ingin meningkatkan kualitas tim, maka tanyalah kepada Pioli, pemain mana saja yang bisa disingkirkan. Pastinya Pioli tak akan sembarangan membuang pemain. Bisa saja dia belum menemukan cara terbaik untuk Paqueta dan Leo Duarte. Atau, belum pula mendapatkan kemampuan terbaik dari Davide Calabria dan Andrea Conti.

Dengan jarak yang tak terlalu jauh antara berakhirnya musim 2019/20 dan dimulainya musim 2020/21, penting bagi Pioli untuk terus membuat Milan solid. Salah satu caranya adalah dengan tidak aneh-aneh di bursa transfer. Kejar pemain itu-itu yang bisa bikin pemain lama terusik jika pemain baru jadi didatangkan.

Bolehlah pakai cara lama Milan yaitu pinjam sana-sini atau datangkan pemain gratisan atau murah meriah. Siapa tahu malah bisa bagus di tangan Pioli. Malah, bisa saja Pioli jadi tak bertuah lagi jika Milan mendatangkan pemain bintang yang mahal-mahal. Soal ini, Piolli pernah mengalaminya di FC Internazionale.

Di Inter, Pioli dianggap gagal. Datang 8 November 2016 dan dipecat 9 Mei 2017. Padahal, saat itu banyak pemain bintang di Inter. Kontestan lain di Seri A pasti berbenah tapi Milan lagi bagus sekali dan sebaiknya ini saja yang dipertahankan. Malah, jika Pioli mempertahankan skuat yang sekarang, hasilnya bisa saja lebih bagus lagi.

Soalnya, para pemain akan merasa sangat dihargai sang pelatih dan akan terus memberikan kemampuan maksimalnya di tiap laga. Itulah mengapa Pioli jangan mau dianggap sebagai tukang reparasi. Teruskan performa Milan seperti ini, maka dia akan dipandang jauh lebih terhormat.***

D
Penulis
Dedhi Purnomo
BarC4!