news
OPINI
Meninggal karena Olahraga
19 July 2020 15:50 WIB
berita
GRUP-grup whatsapp (Wag) ramai mengabarkan kepergiannya. Berawal dari Wag Pengurus PWI Pusat. Tapi, saya tidak  'engeh'. Padahal ada fotonya. Saya masih asyik di depan laptop. Tugas rutin tiap pagi hari.

Kemudian di Wag Depok Media Center (DMC). Diduga kelelahan, pesepeda meninggal di pinggir jalan. Begitu judul berita di online Radar Depok. Berita itu dishare Jumat (17/7) pukul 16.43 WIB. 




Baca Juga :
- Mosi Tak Percaya Terhadap RSO, Forum Pengprov ISSI Gelar Munaslub
- Menpora Zainudin Amali Mendorong Penyandang Disabilitas untuk Berprestasi


Saya tidak membuka link berita itu. Saya pikir itu berita biasa. Grup DMC memang sarana teman-teman wartawan Depok diskusi. Pun berbagi informasi atau sharing link berita. Saya juga sering share link berita di grup itu.

Berselang 10 menit, muncul foto orang terkapar. Di sebelahnya ada sepeda. Orang itu pakai masker, helm, sarung tangan. Pokoknya lengkap. Satu menit kemudian, 16:56 dari pengirim yang sama tertulis caption. 


Baca Juga :
- Haus Gol, Haus Gelar, dan Haus Ilmu, Gelar Master pun Kini Disabet Lewandowski dari Pendidikan Tinggi Olahraga Polandia
- Menpora Zainudin Amali Akan Pimpin Peringatan Haornas Ke-37, Rabu (9/9)


"Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun. Mantan wartawan Republika meninggal dunia saat bersepeda di Jalan M Yasin, Cimanggis, Depok. Almarhum Hadi Mustofa Djuraid meninggal diduga kena serangan jatung."

Saya masih belum sadar. Kemudian muncul di grup yang sama. Berita dari Republika: Hadi Mustofa, Putra Tokoh Muhammadiyah Meninggal Dunia. Tertulis pukul 17.45. 

Saya buka link berita itu. Saya langsung berucap: Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun. Hadi Mustofa meninggal dunia. Saya mengenalnya ketika di Republika. Tapi, tak dekat. Hadi di Biro Jawa Timur dan ditarik ke Jakarta pada 1997. Pada 1994 akhir--setelah lulus kuliah di IISIP Jakarta- saya pamit dari Republika. Saya memilih bergabung ke Tribun Olahraga. Tabloid olahraga mingguan pertama di Indonesia. Saya merasa lebih cocok di media olahraga. 

Berita itu mengejutkan banyak orang. Hadi meninggal karena bersepeda. Dia menyusul abangnya, Husnus Djuraid, pemimpin redaksi Malang Post, yang meninggal tahun lalu, juga karena olahraga. Husnus Djuraid meninggal dunia saat ikut maraton. 

Olahraga tapi meninggal? Pertanyaan ini mengusik di kepala saya. Empat tahun lalu, teman sekantor saya juga meninggal karena berolahraga. Dia ambruk saat bermain bulutangkis. Hal yang sama sekitar tiga bulan lalu. Dialami tetangga saya. Pikiran jadi makin parno! Padahal saya sadar semua akan kembali kepada-Nya. Termasuk saya. Entah, besok, lusa atau kapan...

Olahraga pada prinsipnya untuk menjaga kebugaran. Pun kesehatan jantung. Kalau rutin dilakukan. Dengan benar dan teratur. Saat Anda berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen dari biasanya. Jantung memompa darah lebih cepat. Anda dapat merasakannya lewat jantung yang berdetak lebih cepat.

Namun olahraga bukan tanpa risiko. Aktivitas fisik berlebihan bisa menjadi penyebab hentinya jantung mendadak. Kita jangan paksakan kehendak. Hal ini diperkuat National Heart, Lung, and Blood Institute. Disebutkan henti jantung bisa terjadi saat olahraga berat pada orang yang memiliki masalah jantung.

Studi yang diterbitkan pada jurnal Circulation, meninjau kejadian henti jantung saat olahraga. Hasilnya, kasus henti jantung dapat terjadi selama latihan dan kurang lebih 1 jam setelah olahraga dilakukan, meskipun angka kejadiannya cukup jarang.

Dari studi tersebut, jenis latihan yang paling umum menyebabkan henti jantung adalah latihan di gym, lari, bersepeda, berenang, bermain bola basket, dan senam.

Dalam beberapa menit jantung berhenti berdetak, organ vital di dalam tubuh tidak mendapatkan darah kaya oksigen. Akibatnya, kerusakan otak dan kematian bisa terjadi. 

Seorang atlet pun meninggal dunia ketika sedang berolahraga. Masih ingat Antoinio Puerta? Gelandang Sevilla FC ini menghembuskan napas terakhirnya setelah pertandingan Sevilla berhadapan dengan Getafe, 25 Agustus 2007. Saat laga berjalan 30 menit, dia mengalami serangan jantung. Braaak...! Puerta terjatuh, pingsan di lapangan.

Contoh lain Reggie Lewis. Pebasket NBA ini meninggal dunia pada 1993. Reggie Lewis  pingsan di lapangan. Dia meninggal dunia di usia 27 tahun. Beredar rumor ia menggunakan kokain sebagai penyebab kematiannya. 

Hasil otopsi beberapa saat kemudian menyatakan ia bersih. Tidak menggunakan obat-obatan terlarang. Penyebab kematiannya adalah karena gagal jantung yang dialaminya.

Sama halnya dengan Hadi. Diduga karena serangan jantung. Apalagi dia bersepeda tanpa melepas masker. Mirip seperti seorang pemuda Cina yang jogging pakai masker, tiba-tiba terjatuh dan meninggal, Mei lalu.

Direktur Medis New York Road Runners, dr. Stuart Weiss mengatakan, saat berolahraga dengan masker akan mengubah dinamika sistem pernapasan. Semakin berbahaya jika bahan masker tidak nyaman dan sesak.

“Akan lebih sulit untuk bernapas. Itu dapat memengaruhi efektivitas olahraga,” katanya seperti dilansir dari The Wall Street Journal.

Sebenarnya olahraga justru bagus untuk mencegah penyakit jantung. Tinggal caranya yang harus diperhatikan. Tapi, orang acap memforsir dirinya untuk berolahraga berat. Padahal bisa saja ada kondisi yang mampu memicu serangan jantung.

Jenis olahraga yang bisa dilakukan untuk mencegah serangan jantung antara lain jalan cepat, bersepeda, atau berenang. Bila dilakukan 30 menit setiap hari, selain membakar lemak, kebiasaan tersebut mampu membuat pembuluh darah baru di jantung. Alhasil, dapat menghindari datangnya serangan jantung di kemudian hari.*

Salam olahraga
 

news
Penulis
Suryansyah