news
UMUM
Alasan Bateri Ponsel Mati & Ancaman dari Penguntit, Sprinter Ini Bakal Absen di Olimpiade Tokyo
17 July 2020 17:16 WIB
berita
Deajah Stevens akan absen di Olimpiade Tokyo 2021 karena gagal dalam tiga tes narkoba
MINNESOTA - Sprinter Deajah Stevens akan absen di Olimpiade Tokyo 2021. Dia gagal dalam tiga tes narkoba. 

Deajah Stevens mengklaim bahwa ia telah mengganti nomornya setelah ancaman penguntit dan gagal menyadari bahwa teleponnya kehabisan daya.




Baca Juga :
- Impian The Minions Menjadi Juara Olimpiade Muncul Setelah Menonton Kemenangan Hendra Setiawan/Markis Kido di Beijing 2008
- Mohammad Ahsan Tegaskan Belum Mau Pensiun Usai Olimpiade Tokyo Tahun Depan


Mantan juara Amerika lari 200 meter itu dilarang selama 18 bulan karena kehilangan kunjungan dari pejabat Unit Integritas Atletik di Hollywood Barat dan Oregon tahun lalu. Deajah Stevens gagal meyakinkan badan pemerintahan bahwa dia tidak mendengar mereka di pintu dan secara tidak sengaja membiarkan ponselnya kehabisan daya.

Wanita berusia 25 tahun itu mengklaim bahwa dia tidak berada di salah satu tempat tinggal yang dinyatakannya selama pengujian 60 menit. Deajah Stevens mengindar karena dilecehkan oleh orang tak dikenal lewat pesan teks. Dia berulang kali membuat nomor baru untuk melanjutkan menghubunginya ketika dia mengganti nomornya.


Baca Juga :
- Obor Olimpiade Pun Padam Gegara Virus Corona
- Ricky Subagja Yakin Ganda Putra Bulutangkis Indonesia Bisa Raih Emas di Olimpiade Tokyo


Stevens mengatakan bahwa pada satu kunjungan dari unit saat dia pergi untuk tinggal bersama tunangannya di Minnesota setelah mendapat ancaman dalam hidupnya. Dia menambahkan juga namanya telah dihapus dari direktori karena khawatir akan keselamatan pribadinya.

Selama upaya untuk melakukan tes oleh dua inspektur berpengalaman pada 5 Agustus lalu, Stevens mengatakan dia telah tidur dengan tunangannya di belakang rumahnya. Dia tidak mendengar bel pintu dari kamar tidur.

Stevens, yang finis ketujuh di final di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan kelima di Kejuaraan Dunia di London pada tahun berikutnya, dapat mengajukan banding atas keputusan tersebut di Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga.*

news
Penulis
Suryansyah