news
OPINI
Benzema Genius
10 July 2020 10:14 WIB
berita
ADA begitu banyak genius dan seringkali sulit untuk membedakannya. Dalam musik, jelas dalam karya seni ini ukurannya adalah lagu.

Film yang kita saksikan di bioskop atau di rumah di layar kaca, salah satu ukurannya adalah yang membuat kita merinding atau mungkin menangis.




Baca Juga :
- Sergio Ramos Ingin Dua Tahun Perpanjangan Kontrak, Madrid Hanya Bisa Kasih Satu Tahun
- Vinicius Junior Bisa Menjadi Korban Zinedine ZIdane Selanjutnya


Dalam lukisan, dapat diukur dengan usia dari goresan kanvas yang kemudian membuat banyak orang datang ke museum atau galeri hanya untuk melihatnya.

Bagaimana dengan sepak bola? Pemain genius akan selalu dibicarakan, diulas, dan dikenang selama berjalannya waktu. Dari fase dekade hingga abad. Mereka, para genius itu memiliki bakat luar biasa.


Baca Juga :
- Andrea Pirlo, Pilihan yang Imajinatif!
- Ketika Semua ke Ruang Ganti, Guardiola dan Zidane Malah Kembali ke Lapangan dan Ngobrol, Apa yang Mereka Bicarakan?


Pele, Diego Maradona, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Alfredo Di Stefano, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Roberto Baggio, Zinedine Zidane, dan masih banyak lagi barisan genius dalam sepak bola.

Semua memiliki klasifikasi yang sulit untuk dibedakan. Seorang genius mungkin lebih hebat dibandingkan dengan genius yang lain, tapi juga yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki lainnya.

Kita membutuhkan waktu sebagai parameter, membutuhkan momen sebagai pembeda, tapi tetap saja semua itu pada akhirnya bukan menjadi barometer pasti.

Ada begitu banyak ukuran. Gol indah, jumlah gol, jumlah assist, jumlah gelar, atau juga jumlah pertandingan yang dimainkan. Karim Benzema nama yang tidak semua orang setuju bahwa penyerang Real Madrid ini masuk dalam kategori genius.

Padahal, banyak momen yang membuat Benzema pantas dikategorikan sebagai pemain genius. Salah satu momennya adalah umpan tumit untuk gol Carlos Casemiro dalam laga lawan Espanyol.

Tumit, baik itu gol dengan tumit atau umpan dengan tumit adalah salah satu karya seni yang sudah ada dalam sejarah sepak bola.

Karya seni yang sudah ada selama 100 tahun lebih. Karya seni yang boleh jadi bisa dilakukan semua pemain tapi hanya segelintir yang memiliki keberanian membuatnya menjadi seni yang bisa dinikmati.

Dan, Benzema adalah salah satu dari sedikit yang mampu melakukan aksi yang disebut dengan Taconazo. Istilah tersebut diambil dari kata Tacon dalam bahasa Spanyol yang berarti “tumit”.

Benzema adalah genius. Ketika orang membicarakan tentang Benzema maka mereka akan mengingat aksi umpan tumit yang diciptakannya pada 28 Juni lalu di kandang Espanyol, umpan yang berada di balik gol Casemiro yang menentukan kemenangan Los Merengues.

Namun, tumit bukanlah satu-satunya tentang Benzema. Ukuran lainnya adalah waktu, kemampuan penyerang 32 tahun ini bertahan di Madrid sejak kali pertama datang hingga kini pun membuat bintang kelahiran Lyon ini masuk dalam kategori genius.

Genius adalah kemampuan seseorang dalam berpikir dan mencipta. Bagaimana Benzema mampu tetap berada di Madrid selama 11 tahun adalah sebuah fase yang istimewa.

Kamis (9/7) kemarin, Benzema tepat 11 tahun berada di Madrid sejak resmi menjadi pemain Los Merengues, menandatangani kontrak dan diperkenalkan pada 9 Juli 2009 silam.

Benzema selalu mampu bertahan, berdiri di kakinya, meski begitu banyak persaingan, kritik, dan hidup di Madrid sebagai pemain yang selalu terancam posisinya sebagai penyerang utama.

Ketika dia tiba di Madrid, kehadirannya bersamaan dengan kedatangan Cristiano Ronaldo. Benzema datang saat di Los Merengues masih ada Raul Gonzalez dan sudah ada Gonzalo Higuain.

Musim pertamanya pun ditandai pula dengan kehadiran Alvaro Negredo. Selanjutnya, ada sekitar 20 penyerang yang datang seperti Emanuel Adebayor, Alvaro Morata, Jose Callejon, Javier Hernandez, atau Vinicius Junior hingga Luca Jovic.

Meski demikian, dari semua dareretan pemain bintang tersebut, tidak ada yang dapat bertahan, mereka pergi dengan berbagai situasi, kecuali satu yaitu Benzema.

Benzema selalu mampu berkompromi dengan persaingan lini depan Madrid. Selama 11 tahun dia membawa Los Merengues meraih 4 gelar Liga Champions, 2 gelar La Liga, 2 Piala Raja, 3 Piala Super Eropa, 3 Piala Super Spanyol, dan 4 gelar Piala Dunia Klub.

Sejak debutnya pada 29 Agustus 2009 menghadapi Deportivo La Coruna, Benzema telah bermain dalam 508 pertandingan untuk Madrid, mencetak 244 gol untuk Los BLancos, dengan total 18 gelar tersebut.

Musim ini, jika Madrid kembali meraih gelar La Liga, mungkin gelar tersebut dapat dinamai dengan La Liga Karim (Benzema).

Nama Sergio Ramos, bek dan kapten Madrid belakangan ini memang muncul karena gol-gol yang diciptakan menjadi istimewa dengan mengukur posisinya sebagai bek, tapi Benzema yang mendominasi statistik dari pencapaian pasukan Zinedine Zidane.

Benzema memang tidak seperti CR7. Rekor gol Ronaldo di Madrid akan sulit disamai oleh pemain mana pun termasuk Benzema. Namun, musim ini dalam pancarian Madrid untuk gelar La Liga ke-34 dalam sejarah mereka, Benzema pemain yang paling “ter”.

Terbanyak dalam pertandingan (33 laga), tersering sebagai starter yaitu 32 laga, dan terbanyak pula dalam memberikan kemenangan untuk Madrid: 22 kemenangan.

Benzema juga memimpin dalam jumlah menit yaitu 2.829 menit, di atas Ramos, Casemiro, Thibaut Courtois, atau Raphael Varane. Dia adalah satu-satunya pemain dengan naluri menyerang yang paling banyak diturunkan Zidane pada musim ini di La Liga.

Benzema adalah penyerang terbaik Madrid saat ini dengan rapor golnya mencapai 17 gol dan tujuh assist di La Liga.

Benzema memang tidak mungkin menyamai pencapain gol tertingginya dalam semusim yang diciptakan pada 2011/12 yaitu 32 gol. Namun, setelah 11 tahun di Madrid, kemampuannya dalam mencetak gol tidak lagi diragukan.

Dengan 244 gol, Benzema masuk dalam daftar lima pencetak gol terbanyak Madrid sepanjang masa. Benzema adalah penyerang dengan karakter 9 yang selalu mendapat kepercayaan dari Zidane.

Zidane menyukai Benzema karena mampu bermain sebagai 9,5 atau mesin gol yang juga mampu membuka ruang dan menciptakan peluang bagi timnya.

Zidane dan Benzema mengenal Madrid dengan cara yang sama meski berbeda tahun. Ya, seperti Benzema, Zizou pun diperkenalkan kepada suporter Madrid pada 9 Juli 2001.

Karim, nama panggilannya yang berarti pemurah, baik hati, dan seorang teman. Ketika dia memberikan umpan tumit kepada Casemiro, itu sudah cukup menjelaskan makna dari namanya.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat