news
OPINI
Sudah Saatnya Klopp Punya Rencana B untuk Firmino
03 July 2020 15:26 WIB
berita
HIDUP tidak hanya untuk hari ini, tapi juga untuk hari esok. Apa yang terjadi kemarin, tetap tinggal di hari itu. Kita kemudian akan hidup di hari selanjutnya dengan membawa kenangan yang terjadi.

Saya bukanlah fan Liverpool tapi tentu jika harus memilih, saya akan memilih The Reds yang telah memastikan gelar Liga Primer, bukan tim yang kalah telak dengan empat gol tanpa balas dari Manchster City, Kamis (2/7) atau Jumat dini hari WIB.




Baca Juga :
- Manchester United Siapkan Rencana Jangka Panjang untuk Depak De Gea
- INFOGRAFIS: Pertempuran Liga Champions di Lisabon


Ada yang menilai kekalahan telak dari The Citizens tidak sedikit pun mengurangi bobot dari sukses pasukan Juergen Klopp di Stadion Etihad tersebut.

Benarkah? Saya akan menjawab bahwa masih ada enam pertandingan lain di sisa musim ini lalu berharap bahwa Liverpool dapat kembali ke trek kemenangan setelah kekalahan telak dari tim asuhan Josep Guardiola tersebut.


Baca Juga :
- Cetak Gol lawan Real Madrid, Gabriel Jesus Samai Rekor Dua Striker Legendaris Brasil di Liga Champions
- Mereka Sudah Lancang Membandingkannya dengan Van Dijk! Dua Kali Blunder lawan Man City, Varane Di-bully Fan Liverpool


Liverpool tetaplah seksi sebagai sebuah tim jika melihat deretan hasil dan performa mereka sepanjang musim ini bahkan sejak musim lalu yang ditandai pula dengan sukses mereka meraih gelar Liga Champions.

Tentu saja, kekalahan dari City tetap akan menjadi catatan dalam sejarah tim ini. Tim yang baru juara setelah penantian 30 tahun, malah digulung habis oleh rival mereka. Ini seperti makan nasi ketika lapar namun tiba-tiba kita mengigit batu di antara nasi tersebut.

Ini seperti suasana pesta di malam hari yang tiba-tiba terganggu karena listrik yang padam. Intinya, Liverpool memang tidak pernah benar-benar merasakan atmosfer yang sempurna.

Kekalahan dari City memang memberikan noda bagi sukses Liverpool, tapi dalam perspektif masa depan ini justru bisa menjadi positif. Kekalahan ini tidak akan dilupakan tapi juga bisa menjadikan pantulan untuk menghadapi hari esok.

Lagi pula, ironi seperti ini bukan kali pertama terjadi dalam perjalanan The Reds. Apakah takluk 0-4 dapat disejajarkan ironinya dengan insiden terpelesetnya Steven Gerrard pada 2013/14 silam? Mengapa tidak.

Dalam opini sebelumnya, saya menyebutkan bahwa satu gelar Liga Primer tidaklah cukup sebagai padanan dari penantian selama 30 tahun. Artinya, Klopp harus menjadikan trofi Liga Primer kembali sebagai target utama pada 2020/21.

Jika pemain City menyatakan bahwa kemenangan atas Liverpool sebagai salah satu landasan untuk mengukur kekuatan mereka di musim depan itu, kekalahan ini juga dapat dijadikan tembok pantulan bagi Mohamed Salah dan kawan-kawan sebagai pelajaran.

Liverpool harus memiliki sesuatu yang baru, yang lebih seksi dibandingkan dengan apa yang mereka miliki dalam empat atau tiga musim terakhir sejak kedatangan Klopp.

Untuk menantikan sesuatu yang baru, harus tahu dulu apa yang membuat Liverpool berbeda dibandingkan dengan klub Liga Primer lainnya sepanjang di bawah asuhan pelatih asal Jerman tersebut.

Liverpool menjadi tim yang seksi dalam hal ini yang selalu menjadi perhatian besar. Liverpool adalah tim yang tidak biasa karena mereka menempatkan posisi penyerang tengah bukan sebagai posisi yang harus ada.

Peran, karakter, hingga kemampuan teknik Roberto Firmino bukan menjadi rahasia umum lagi. Posisinya memang penyerang tengah tapi fungsinya justru bukan seperti itu.

Dalam sejarahnya, tidak ada klub peraih juara Liga Primer yang memiliki penyerang tengah dengan produktivitas begitu rendah kecuali Liverpool. Namun, ciri yang tidak biasa ini dapat dilihat pula sebagai keindahan dari The Reds asuhan Klopp.

Ketika Chelsea meraih gelar Liga Primer 2016/17 contohnya. Saat itu, The Blues memiliki mesin gol bernama Diego Costa yang menorehkan 20 gol sepanjang musim tersebut. Ketika Leicester City membuat kejutan dengan meraih trofi Liga Primer pada 2015/16, mereka memiliki Jamie Vardy yang mencetak 24 gol.

Dan, musim sebelumnya, Costa kembali mencetak 20 gol pada 2014/15 untuk membawa Chelsea meraih gelar Liga Primer. Ingat pula barisan nama seperti Robin Van Persie, Dimitar Berbatov, atau Didier Drogba, mereka mamu mencetak minimal 20 gol untuk membawa timnya juara Liga Primer.

Ketika City juara Liga Primer pada 2018/19 dan 2017/18, mereka memiliki Sergio Aguero yang di dalam usim tersebut masing-masing mencetak 21 gol.

Bahkan, sebenarnya dalam sejarah Liverpool sepanjang penantian gelar, mereka memiliki sejumlah mesin gol seperti Luis Suarez, Daniel Sturridge, Fernando Torres, hingga Michael Owen.

Klopp justru mengambil cara yang kontradiktif. Dia membawa Liverpool juara bersama penyerang tengah, Roberto Firmino, yang hanya mencetak delapan gol di Liga Primer. Yang menarik, semua gol tersebut diciptakan bintang asal Brasil ini dalam laga tandang dari 32 laga.

Firmino adalah penyerang tengah yang lebih berperan sebagai fasilitator dan konektor baik untuk Mohamed Salah dan Sadio Mane.

Firmino pemain yang sangat berharga karena itu jangan dijual. Hanya, kekalahan telak dari City memperlihatkan bahwa Klopp harus memiliki plan B di luar dari strategi yang selama ini diterapkannya.

Ya, tidak ada yang berubah dari Liverpool meski kalah telak dari City. Mereka tetap tim yang seksi dengan peran dari Firmino yang unik. Meski demikian, tetap saja selalu ada pertanyaan apa selanjutnya? Dan pertanyaan tersebut kini berubah menjadi lebih besar setelah apa yang terjadi di Etihad.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat