news
OPINI
Sepeda Jadi Primadona, Tapi Harus SMART
02 July 2020 17:09 WIB
berita
Sepeda saat ini lagi booming/grafis-topskor-Triyadi
Godaan Pria Zaman New Normal
1. Harta
2. Takhta
3. Sepeda

Ilustrasi di atas beredar di WhatsApp. Ada plesetan lucu dan menggelitik. Poin 3 disebut sepeda. Bukan wanita. Tiga godaan terbesar bagi laki-laki sejatinya: harta, takhta, dan wanita. 




Baca Juga :
- Jalani Rapid Test, Persik Kediri Siap Kembali ke Lapangan
- Arema Optimistis Bakal Cepat Beradaptasi dengan New Normal dalam Lanjutan Liga 1


Banyak fakta yang membuktikan pepatah itu nyata. Ketika seorang lelaki tergoda tiga hal tersebut, niscaya ia akan kehilangan arah. Luluh meleleh tak berdaya.

Saya tertawa kecil ketika wanita diganti sepeda. Apakah sepeda bisa meluluhkan pria seperti wanita? Pesan itu saya pikir bukan menyamakan wanita dengan sepeda. Saya melihatnya karena faktor kekinian. Banjirnya pegowes pemula jelang era New Normal.  


Baca Juga :
- Bonek Galang Dana untuk Beli Ambulans dengan Tujuan Sosial, Universitas Muhammadiyah Ikut Menyumbang
- Jika Benar Ada Pemain Timnas Indonesia Positif Covid-19, Ini Saran Sesmenpora RI


Plesetan itu mungkin bisa disebut meme. Bukan sekadar bentuk ekspresi. Tapi juga informasi dan memiliki fungsi. Meme tidak hanya mengandung humor. Bisa sentilan, kritik serta ungkapan. Fenomena terkini yang sedang hangat. 

Sepeda saat ini lagi booming. Bersepeda menjadi primadona di tengah pandemi. Pelakunya tak mengenal usia. Mulai anak muda hingga orang dewasa. Menghabiskan waktu di pagi atau malam hari. 

Rabu (1/7) malam pukul 22.00 WIB saya pulang dari kantor di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Saya terpanah oleh sekelompok remaja. Ada sekitar 10 orang. Mereka dengan santai bergowes. Sayangnya, tanpa masker.

Minggu lalu, anak saya merengek minta sepeda. Padahal dia sudah punya. Meski sudah usang. "Kita perbaiki saja sepedanya," saya menyarankan. 

Si bungsu anak saya tampak menolak. "Teman-teman sepedanya baru. Masa saya pakai sepeda lama. Nggak ngetren," jawabnya. 

Sejak PSBB diberlakukan, sekolah diliburkan. Banyak orang jenuh. Termasuk anak saya. Menghirup udara segar dengan bersepeda jadi pilihan. Bersepeda memiliki manfaat bagi kebugaran tubuh. Terlebih saat Pandemi Covid-19. Bersepeda menghindari kerumunan. Juga kontak dengan orang lain atau social distancing.

Saya juga penggemar sepeda. Sejak kecil. Sepeda BMX baru saya permak. Kedua rem di sisi kiri-kanan setang saya copot. Gear-nya saya ganti torpedo. Pedal diputar ke belakang bisa 'ngerem'. Lebih praktis. 

Dari Kemayoran bergowes ke Monas. Rutin tiap minggu pagi. Bukan sekadar bergowes. Tapi sedikit atraksi. Mengekspresikan diri, penyaluran kemarahan, dan adrenalin. Dua-tiga orang tidur di aspal. Saya jumping dengan sepeda. Kadang roda depan saya copot. Saya gowes dengan satu ban belakang. 

Sekarang saya pilih jogging di tengah menjamurnya pegowes pemula. Industri sepeda sampai kelabakan. Demand-nya tinggi. Bukan hanya di Indonesia. Tapi dunia. Masyarakat Eropa bersepeda karena pandemi corona. Di Barcelona sepeda sudah jadi moda tranportasi. Orang beraktivitas dengan bersepeda. Kerja, hangout bersepeda.

Warga Amerika percaya di masa pandemi, bersepeda lebih aman daripada menggunakan transportasi umum. Studi Trek Bicycle mencatat, 85 persen orang pilih bersepeda. Mereka pilih bersepeda untuk menghindari penularan virus corona. 

Moda transportasi umum seperti kereta bawah tanah dan bus, risiko penularan cukup besar karena ramainya orang yang berkumpul. Orang berusaha hindari itu. New York misalnya. Kebetulan jalur sepeda sepanjang 2.092 km, terbesar di AS. 

Sekarang trennya sepeda lipat Tern. Lebih praktis. Bisa ditenteng jika kita naik kereta atau bus. Tern diakui produknya. Kualitas dan teknologi yang baik dan berkembang. Mungkin pas untuk bepergian jarak jauh di masa pandemi virus corona.

Di Indonesia, juga mendadak demam bersepeda. Setiap sore di GBK Senayan, kembali dipenuhi pegowes. Bahkan hingga malam. Apakah di tengah mewabahnya virus Corona aman bersepeda?

Virus corona belum terusir dari bumi. Semakin meningkat tiap hari kasusnya. Bukti wabahnya tidak bisa dianggap remeh. Apalagi penyebaran virus ini dapat dilakukan melalui udara dan lingkungan yang tidak steril. Kasus positif Covid-19 di Indonesia, Rabu (2/7) bertambah 1.624. Total kasus positif  virus corona menjadi 59.394. 

Bagi penikmat pesepeda, lama tak gowes bikin dengkul gatel. Apalagi tiga bulan WFH (Working From Home). Kerja di rumah bikin jenuh. Di satu sisi, tubuh harus tetap fit. 

Pakai masker itu wajib. Jaga jarak, jaga kondisi saat bersepeda. Minum cukup air dan cairan. Jangan sampai dehidrasi. Itu kata Ede Surya, ketua umum IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

Ede Surya memprediksi puncak pandemi Covid-19 jatuh pada pertengahan bulan Juli 2020. Dia mengatakan puncak pandemi ini bisa diperlambat dengan memperpanjang PSBB.

Intinya: bersepeda saat ini- sendiri atau berkelompok- itu sehat. Perlu dilakukan. Tapi tetap perhatikan protokol kesehatan. Jangan anggap enteng pandemi corona. Dalam sepekan ini laporan dari Gugus Tugas disebutkan di atas 1000 kasus positif. 

Di satu sisi ada yang beranggapan bersepeda menjadi salah satu energi yang bisa menangkal virus. Di sisi lain menyebutkan bersepeda tidak menjamin akan selamat dari penyebaran virus. Publik pesepeda sedikit kebingungan.

Sejak wabah Covid-19 merebak berbagai pakar kesehatan dan pegiat sepeda yang peduli akan kondisi tersebut sudah menyampaikan pendapat. Saran dan anjurannya melalui media baik media cetak, elektronika, media berbasis digital, aplikasi atau media sosial.

Dokter Aristi Prajwalita yang juga pakar kesehatan menyebut bergowes itu harus SMART: Solo riding, Masker, Arm/glove, Rute sepi, Timing sunyi.

Solo riding paling aman. 4-5 orang juga aman asal memperhatikan protokol kesehatan. Pemakaian masker jadi wajib karena penyebaran virus lewat hidung dan mulut. Arm/glove atau sarung tangan serta pelengkapan lainnya jangan diabaikan. Dianjurkan mencari jalur atau rute yang sepi. Terakhir timing bersepeda di kala kondisi jalan masih sepi bukan jam sibuk.*Suryansyah
 


 

news
Penulis
Suryansyah