news
OPINI
Satu Trofi Liga Primer setelah 30 Tahun Belum Cukup
27 June 2020 08:23 WIB
berita
LIVERPOOL akhirnya merengkuh trofi Liga Primer. Kepastian gelar tersebut memang bukan di Stadion Anfield, bahkan pasukan Juergen Klopp memastikan gelar yang telah dinantikan selama 30 tahun ini tanpa harus melangkah ke lapangan.

Faktor Juergen Klopp tentu menjadi yang paling dominan sebagai salah satu kunci sukses The Reds ini. Pelatih asal Jerman tersebut tidak hanya memberikan ide (teknik atau strategi dan semacamnya) melainkan juga untuk semangat yang ditansformasikan kepada timnya.




Baca Juga :
- Bukan Liverpudlian, Aryn Williams Sebut Liga Inggris Masih Greget Meski Liverpool Sudah Juara
- Tolak Bertepuk Tangan buat Liverpool Saat Guard of Honour, Bernardo Silva Dielu-elukan Suporter Manchester City


Kita dapat juga dapat mengatakan bahwa jawaban dari kunci sukses Liverpool ada di bawah mistar dengan kehadiran kiper asal Brasil, Alisson Becker. Musim ini, perjalanan Alisson pun tidak mudah karena dia sempat tidak bermain karena cedera.

Sukses Liverpool musim ini juga ditandai dengan performa bek Virgil Van Dijk di jantung pertahanan. Dialah poin perubahan di pertahanan Liverpool, dengan kekuatan bertahan dan kepemimpinannya.


Baca Juga :
- Leicester Terancam Terlempar dari Empat Besar, Vardy Krisis Gol
- Man City Makin Ganas di Stadion Etihad, Real Madrid Harus Hati-Hati


Musim ini dapat dilihat dengan jelas di klasemen bahwa Liverpool hanya kemasukan 21 gol, yang membuat mereka tampil sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit dibandingkan dengan klub Liga Primer lainnya.

Bahkan, Van Dijk merupakan top scorer terbanyak setelah trio lini depan Liverpool, meski dia hanya mencetak 4 gol.

Sukses Liverpool musim ini pun ditandai dengan duet bek sayap yaitu Trent Alexander-Arnold di kanan dan Andy Robertson di kiri. Sejujurnya, ini adalah penemuan Klopp yang paling istimewa dan di luar dari perkiraan.

Tidak ada yang memperkirakan bahwa keduanya memiliki peran yang begitu seimbang sebagai bek sayap. Kehadiran keduanya dalam starter bahkan seperti sudah ada sebelum fan Liverpool menyadarinya.

Bayangkan, di antara kedua bek sayap ini, telah tercipta 20 assist. 12 assist diciptakan Arnold dan 8 assist dari kaki Robertson. Keduanya adalah dasar yang paling fundamental dalam permainan Liverpool dalam perjuangan meraih gelar Liga Primer.

Bersama Klopp pula, sosok Jordan Henderson menjadi mudah terlihat sebagai pemimpin rekannya baik di dalam maupun di luar lapangan. Jauh sebelumnya, selalu sangat sulit untuk mencari kapten fantastis seperti Steven Gerrard.

Terakhir tentu saja trio lini depan, Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane. Antara ketiganya telah tercipta 40 gol dari total 70 gol yang diciptakan Liverpool musim ini. Salah 17 gol, Mane 15 gol, dan Firmino 8 assist dengan tujuh assist pula diciptakannya.

Pencipta alam semesta ini telah menentukan bahwa Liverpool juara. Penantian 30 tahun hanya tinggal menjadi penantian yang indah. Kini, mampukah Liverpool memanfaatkan momentum ini untuk dijadikan titik tolak berikutnya?

Satu trofi Liga Primer tentu tidak sepadan dengan penantian 30 tahun. Jadi, Liverpool sejatinya masih terus “menunggu” gelar dan menjadikan penantian tiga dekade tersebut sebagai motif, pengingat, dalam menyongsung musim depan. The Reds harus juara Liga Primer lagi musim depan.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat