news
INFOGRAFIS
INFOGRAFIS: Klopp si Normal yang Spesial Pengubah Sejarah Liverpool
26 June 2020 14:07 WIB
berita
Sejak menangani Liverpool, Juergen Klopp telah melakukan sejumlah perubahan starter -Topskor/Grafis: Triyadi
LIVERPOOL – Juergen Klopp datang untuk memberikan trofi Liga Primer kepada Liverpool. Ketika kali pertama pria asal Jerman ini diperkenalkan sebagai pengganti Brendan Rodgers pada Oktober 2015, mimpi penantian gelar sejak 1989/90 itu pun dimulai.

I am the normal one,” kata Klopp dalam konferensi pers. Kalimat ini menjadi bagian yang menarik dalam momen kehadiran mantan pelatih Borussia Dortmund tersebut.




Baca Juga :
- Bukan Liverpudlian, Aryn Williams Sebut Liga Inggris Masih Greget Meski Liverpool Sudah Juara
- Mohamed Salah Ungkap Perpecahan yang Terjadi dalam Skuat Liverpool Sebelum Pastikan Gelar Liga Primer


Kalimat yang kemudian mengingatkan tentang Jose Mourinho ketika kali pertama datang ke Chelsea dengan mengatakan dirinya sebagai “The Special One”.

Klopp telah membedakan dirinya dengan Mourinho. Namun, untuk semua harapan Liverpool, Klopp harus melakukan tugasnya sebagai pelatih dengan cara yang “tidak normal”.


Baca Juga :
- Leicester Terancam Terlempar dari Empat Besar, Vardy Krisis Gol
- Man City Makin Ganas di Stadion Etihad, Real Madrid Harus Hati-Hati


Yang paling kentara tentu soal lini depan, tentang tiadanya posisi penyerang murni dalam proses revolusi yang dilakukan Klopp di Anfield.

Starter pertama Klopp di Liverpool adalah seperti ini: Sigmon Mignolet sebagai kiper, empat beknya adalah Nathan Clyne, Martin Skrtel, Mamadou Sakho, dan Alberto Moreno. Di tengah ada Lucas Leiva dan Emre Can.

Dengan pola 4-2-3-1, tiga gelandang di depannya adalah Adam Lallana, Philippe Coutinho, dan James Milner. Sedangkan penyerangnya adalah Divock Origi.

Ya, itulah line-up kali pertama Liverpool di bawah asuhan Klopp, pada laga pertama pelatih ini sebagai pelatih menggantikan Rodgers yang dipecat. Dengan formasi tersebut, Liverpool hanya imbang 0-0 lawan Tottenham Hotspur, pada 17 Oktober 2015.

Namun, Klopp kemudian melakukan sejumalh perubahan. Di antaranya mengubah duet jantung pertahanan dengan menempatkan Kolo Toure dan Dejan Lovren. Skrtel dan Sakho pun harus menunggu di bangku cadangan.

Dalam pola 4-2-3-1, Klopp menggeser Coutinho ke sayap kiri, sedangkan di tengah ditempatkan Roberto Firmino dan Lallana di kanan. Untuk penyerang, Klopp menurunkan Daniel Sturridge sebagai targetman.

Liverpool mengakhiri 2015/16 ini di peringkat ke delapan. Ada sejumlah momentum kemenangan yang membuat musim ini memberikan rapor positif bagi Klopp, di antaranya mengalahkan Manchester City dala dua pertemuan, 4-1 dan 3-0.

Musim berikutnya, kehadiran Georginio Wijnaldum menambah kekuatan lini tengah Liverpool, plus kehadiran Sadio Mane. Pada musim inilah dimulai pola “tanpa penyerang murni”. Klopp menempatkan Firmino sebagai trio lini depan bersama Mane di kanan dan Coutinho di kiri.

Dari tiga trio tersebut, Coutinho menjadi pemain yang kemudian sebagai korban dari revolusi Klopp pada 2017/18. Klopp membutuhkan pemain depan dengan kemampuan mencetak gol yang dapat bermain di sayap. Pemain yang bisa menerapkan strategi Gegenpressing.

Kehadiran Mohamed Salah menjadi momentum dimulainya trio Mane-Firmino-Salah pada 2017/18. Klopp pun menambah banteng pertahanannya dengan mendatangkan Virgil Van Dijk.

Meski demikian, dengan perubahan ini, Liverpool hanya meraih posisi keempat dalam dua musim beruntun (2016-2018). Walau gagal meraih gelar Liga Primer tapi trio Salah, Firmino, Mane, menjadi tridente mesin gol yang produktif.

Dengan situasi positif ini pula, kekuatan Liverpool lebih banyak terlihat dalam ajang Eropa di mana Liverpool berhasil ke final Liga Europa dan final Liga Champions.

Meski demikian, mereka gagal di dua final tersebut. Performa tersebut tetap membuat pendukung Liverpool terus bermimpi dan mereka hanya membutuhkan satu momen saja untuk juara.

Dan, Klopp membutuhkan empat musim untuk memberikan trofi kepada Liverpool. Tepatnya sebagai juara Liga Champions 2018/19 setelah mengalahkan Tottenham di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid (Spanyol). Sukses ini pun diikuti dengan trofi lainnya yaitu Piala Super Eropa dan trofi Piala Dunia Klub.

Kini, pada musim kelima, Klopp akhirnya berhasil memberikan trofi yang sudah lama dinantikan pendukung Liverpool: Liga Primer. Klopp kini adalah The Normal One yang special. “Kami ingin mengukir sejarah kami sendiri di Liverpool,” kata Klopp di awal musim 2019/20 ini. Dan, sejarah itu pun telah berhasil diukirnya.

Musim ini, dari 31 laga, Liverpool meraih 28 kemenangan atau 90 persen dari total laga yang dimainkan di Liga Primer tersebut. Mereka hanya mengalami satu kekalahan dan imbang dua kali.

Rata-rata gol yang diciptakan per pertandingan mencapai 2,5 gol dan hanya kemasukan rata-rata 0,7 gol. Faktanya, statistik tersebut tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan musim lalu.

Ketika Liga Primer 2018/19 berakhir, Liverpool total meraih 30 kemenangan, 7 imbang, dan satu kekalahan. Mereka rata-rata mencetak 2,2 gol per laga dan kemasukan 0,7 gol per pertandingan.

Rapor musim ini lebih baik dibandingkan dengan 2017/18 ketika Liverpool meraih 21 kemenangan setelah musimm berakhir atau sekitar 55 persen dari total laga (38 laga) Liga Primer musim ini.

Mereka mengalami lima kekalahan dan imbang 12 kali. Tapi, rata-rata gol Liverpool dengan terbentuknya trio Salah, Mane, dan Firmino meningkat menjadi 2,4 gol per pertandingan sedangkan kemasukannya 1,1 gol per laga.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat