news
OPINI
Manifesto Kontroversial BLM di Liga Inggris Beraroma Politik
25 June 2020 09:01 WIB
berita
Sepak bola Inggris gencar memerangi rasisme/Grafis TopSkor-Joe
SEPAK bola dan politik tidak pernah bergaul dengan baik. Kaus bertuliskan 'Black Lives Matter' (BLM) melegitimasi tujuan ekstrem gerakan ini.

Sepak bola Inggris gencar memerangi rasisme. Tetapi dengan mengesahkan manifesto kontroversial BLM, mengecewakan beberapa penggemar. Bahkan dinilai melanggar pedoman FIFA tentang mempolitisasi olahraga.




Baca Juga :
- Bukan Liverpudlian, Aryn Williams Sebut Liga Inggris Masih Greget Meski Liverpool Sudah Juara
- 'Threesome' Manchester United, Rashford, Martial, Greenwood Makin Menakutkan


Sepak bola Inggris kembali digulirkan pekan lalu. Seperti biasa, pertandingan terperosok dalam kontroversi. Bukan karena kegagalan teknologi garis gawang yang menyangkal gol Sheffield United melawan Aston Villa. Tetapi karena semua pemain mengenakan kaus bertuliskan 'Black Lives Matter' di bagian belakang. Bukan nama mereka, seperti biasanya.

Tentu ini kesepakatan semua aspek. Baik Liga Primer, klub, pelatih, pemain, operator pertandingan maupun pemerintah. Tapi, terkesan ada muatan politis yang dibungkus. Ada yang bilang seperti tergesa-gesa. Tanpa diskusi dengan penggemar. Ini bisa menjadi bumerang.


Baca Juga :
- Jadwal Lengkap Liga Inggris Minggu Ini, Leicester, Chelsea, MU, Wolves Bersaing Ketat di Zona Liga Champions
- INFOGRAFIS: Gol Bersejarah Aubameyang di Arsenal


Kemarahan di antara beberapa orang, karena dipaksa masuk ke suatu gerakan di mana mereka lebih suka untuk tidak terlibat, bisa diraba. Beberapa suporter berjanji untuk tidak membeli tiket musiman. 

Black Lives Matter bukan hanya tentang mencapai kesetaraan ras. Jika ya, maka itu akan menjadi akhir dari diskusi. BLM sebagai akibat dari kematian George Floyd-warga kulit hitam- Amerika Serikat yang dilutuhkan oleh seorang polisi berkulit putih di Minneapolis pada 25 Mei lalu.

Amerika Serikat gempar. Pulihan ribu orang berdemontrasi di lebih dari 75 kota di AS. Bahkan merembet ke bumi Eropa. Protes menyebar lebih jauh ke kota-kota di seluruh dunia termasuk London, Berlin dan Auckland. Media sosial dipenuhi dengan kotak-kotak hitam dan pesan dukungan pada 2 Juni, sehari dijuluki #BlackoutTuesday.

Tapi, seperti ada "kesepakatan" yang tidak terucap di antara para pelaku olahraga yang menabrak koridor melarang politik ada di lapangan.

FA berlindung pada komitmen untuk membongkar imperialisme, kapitalisme, supremasi kulit putih, patriarki dan struktur negara yang secara tidak proporsional membahayakan orang kulit hitam di Inggris dan di seluruh dunia.

Ini bukan hanya mengepalkan tangan dan mengambil lutut. Ini sesuatu yang sangat berbeda. FA dituding mengambil keputusan sendiri. Tanpa kompromi dengan kelompok suporter. FA dianggap sewenang-wenang untuk mempolitisasi olahraga. Keluar dari akal pikiran.

Setelah bertahun-tahun menggedor tentang politik-- yang tidak memiliki tempat di sepak bola-- dan menyangkal mereka yang ingin menggunakan platform untuk membuat suatu poin, pertanyaan harus ditanyakan, mengapa sekarang?

Ingat keributan ketika Paul Gascoigne menirukan permainan 'The Sash' dengan seruling ketika muncul untuk Rangers melawan Celtic? Meskipun Gazza akhirnya mengakui, "Saya tidak tahu apa itu ketika saya melakukannya."

Pun insiden pita kuning Pep Guardiola yang mendukung kemerdekaan Catalan pada tahun 2018? Pelatih Manchester City didenda 20.000 poundsterling akibat ulahnya.

Bagaimana dengan Robbie Fowler dari Liverpool, yang didenda 900 poundsterling lantaran menyatakan dukungannya untuk pemogokan pekerja dermaga di tahun 1997?

Semua itu momen lama dalam sepak bola. Tapi, diabadikan dalam aturan FIFA. Jelas dinyatakan bahwa peralatan "tidak boleh memiliki slogan, pernyataan, atau gambar politik, agama, atau pribadi."

Jika FIFA memiliki yurisdiksi nyata, lalu mengapa Liga Premier tiba-tiba memutuskan untuk membuat peraturan sendiri?

Belakangan muncul spanduk ofensif yang diterbangkan di langit Stadion Etihad ketika Manchester City melawan Burnley, Senin (22/6). Bertuliskan: White Lives Matter Burnley. Ini boleh jadi bentuk perlawanan Black Lives Matter. Kecemburuan rasisme.

Kontan, Clarets mengeluarkan pernyataan. Klub mengutuk pelaku pengibar spanduk. Klub melarang seumur hidup jika pelakunya diidentifikasi. Seorang fan mengklaim sebagai pelakunya. Namanya Jake Hepple, pendukung Burley. Tapi enggan meminta maaf.

Penyiar kondang Jessica Creighton bereaksi. Dia mengatakan kepada Laura Woods: “Spanduk tersebut benar-benar ketinggalan poin dari kampanye Black Lives Matter."

Kampanye itu tentang kesetaraan, tentang anti-rasisme. Tidak berpikir siapa pun dari komunitas kulit hitam yang menggunakan slogan itu mengatakan bahwa kehidupan hitam lebih penting daripada kehidupan orang lain. Apa yang mereka katakan adalah mereka ingin kehidupan hitam sama pentingnya dengan kehidupan semua orang.

“Saya tahu banyak orang mengatakan, 'jangan membawa politik ke dalam olahraga'. Tapi ini bukan politik, itu bukan pertanyaan," katanya.

Saya sependapat dengan argumen itu. Tidak ada yang bisa membantah sentimen itu. Tetapi implementasinya menunjukkan bahwa Liga Premier masih memiliki jalan panjang untuk berurusan dengan, atau bahkan memahami, rasisme dalam olahraga.

Dan untuk alasan apa pun, apakah itu melalui rasisme terbuka atau struktural, rasisme institusional, itu tidak terjadi sekarang. Semuanya tidak sama.*

news
Penulis
Suryansyah