news
OTO SPORT
Transgender Ini Menjadi Pembalap Pertama dalam Balapan 24 Hours of Le Mans
15 June 2020 10:56 WIB
berita
Charlie Martin akan merintis jalan di motorsport pada tahun 2021
LE MANS - Charlie Martin akan merintis jalan di motorsport pada tahun 2021. Dia bertekad menjadi pembalap transgender pertama dalam lomba 24 Jam Le Mans yang bergengsi.

Seharusnya balapan Le Mans 24 Jam - puncak balap ketahanan digelar Sabtu (13/6). Tapi, ditunda gegara Covid-19 mendatangkan malapetaka. Mimpi Charlie Martin pun mungkin ditunda selama satu tahun. 




Baca Juga :
- Balap di Sirkuit Red Bull Ring, Austria, Sean Gelael Berharap Insiden pada Balapan Pertama Tak Terulang
- Mundurnya GP Amerika Serikat, Membuka Kesempatan Thailand, Malaysia, dan Argentina


Martin disarankan akan memulai rencana 12 bulan untuk berada di Prancis pada Juni 2021. Dia akan menjadi transgender pertama yang bersaing dalam perlombaan.

Balapan di Le Mans akan menyelesaikan perjalanan luar biasa bagi Martin,38 tahun, yang akhirnya menjadi dirinya yang autentik ketika ia bertransisi pada 2013.


Baca Juga :
- GP Ceko 2020 Digelar Tanpa Penonton
- Sean Gelael Berharap Tak Kehilangan Sentuhan dengan Kemudi Mobil


Akhir bulan ini Martin akan bergabung dengan Nurburgring Endurance Series Jerman. Tetapi mengakui matanya akan tertuju pada tahun depan.

“Dalam beberapa hal, Le Mans adalah hal paling sulit untuk dicapai karena membutuhkan begitu banyak waktu dan energi," kata Martin.

“Itu adalah sesuatu yang ingin saya lakukan sebagai individu. Tapi saya melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih besar dari itu," Martin menurutkan.

“Ini tentang menginspirasi orang lain, sehingga mereka dapat mencapai hal-hal yang ingin mereka lakukan, sehingga mereka dapat memiliki impian, ambisi, karier yang mereka inginkan dalam olahraga."  

"Kita semua bisa menjadi siapa kita sejak lahir dan melakukan apa pun yang kita inginkan dan bagi saya ini adalah tentang mempromosikan pesan itu."

Kembalinya Martin ke balap setelah transisinya jauh dari mulus. Selain dari kelompok teman dekatnya, ia disambut dengan ketakutan dari beberapa kalangan. Itu membuatnya mempertimbangkan apakah akan ada masa depan di motorsport.
 
“Pertama kali saya berjalan kembali ke paddock ketika saya, saya secara fisik gemetar," ujarnya.

“Saya benar-benar harus mendorong diri untuk keluar dari mobil saya dan menghadapi semua orang."

“Saya belum pernah melihat orang trans atau bahkan gay secara terbuka sejak saya berkompetisi di motorsport. Jadi saya tidak tahu bagaimana menerima atau tidak menerima orang."

“Ketika Anda memikirkan hal-hal berulang kali, Anda menginternalisasi ketakutan Anda dan itu menjadi semakin buruk."

“Salah satu hal yang paling saya sukai dari olahraga ini adalah komunitas, persahabatan, rasa memiliki. Tiba-tiba saya merasa tidak akan menjadi bagian dari itu. Itu membuat saya berpikir bahwa mungkin saya tidak memiliki masa depan di motorsport."

Tetapi Martin segera menyadari bahwa tanpa membebani identitas aslinya, kariernya bisa mulai melambung.

Dia menambahkan: "Ketika Anda pada dasarnya menyembunyikan sebagian besar dari siapa Anda, Anda harus berhati-hati. Anda menggunakan energi mental untuk mengatasinya, mengelolanya dan menekan pikiran dan emosi Anda."

“Saya menyadari telah melakukan sesuatu sepanjang hidup saya dan bagaimana menguras tenaga dan betapa melelahkannya secara psikologis," katanya.*
 

news
Penulis
Suryansyah