news
OPINI
Rangnick Terlalu Indah untuk Milan, Tetap Butuh Proses meski Hanya Semusim
07 June 2020 12:43 WIB
berita
BELUM datang tapi sudah bikin ramai. Itulah situasi yang cocok dialamatkan untuk Ralf Rangnick yang haqul yakin bakal datang ke markas AC Milan untuk melakukan perubahan besar-besaran. Saat ini, Rangnick menjabat sebagai Direktur Pengembangan Pemain Muda RedBull yang bermarkas di Wina, Austria.

Ini macam induk dari beberapa klub yang sahamnya dimiliki mayoritas oleh Red Bull. Dari kantornya, Rangnick membuat kebijakan untuk Red Bull Salzburg (Austria), New York Red Bull (AS), RB Leipzig (Jerman), dan RB Brasil (Brasil). Pria 61 tahun inilah yang akan jadi nahkoda teknis Milan.




Baca Juga :
- Aneh! Pelatih Mallorca Ini Pakai Gestur Rasialis untuk Panggil Pemainnya Sendiri
- Cetak Hattrick Assist, Messi Samakan Pencapaian dengan Dua Bintang Bundesliga Ini


Tak sekadar pelatih tapi juga merangkap sebagai direktur teknik dan direktur olahraga. CEO Milan, Ivan Gazidis ingin mengadopsi sistem di klub-klub Inggris yang menyatukan semua urusan teknis ke satu orang pejabat. Apalagi, Gazidis pernah sembilan tahun jadi CEO Arsenal di mana Arsene Wenger punya wewenang yang sangat besar.

Kini, cara yang sama akan diberlakukan di Milan dan Rangnick yang akan jadi orang pertama yang mengemban tugas sedemikian besar itu. Pada tahapan ini, semuanya jadi serba pas. Media yang terus mencari tahu soal Rangnick dan Milan selalu menemukan bahan berita baru.


Baca Juga :
- Klasemen Terbaru Bundesliga; Empat Tim Makin Ketat Bersaing Jadi Juara, Seru Banget!
- Klasemen Terbaru La Liga; Madrid-Barca Tak Berubah, Atletico Masuk Empat Besar


Semua berujung pada ekspektasi manajemen dan fan Milan yang begitu tinggi saat Rangnick sudah bertugas nanti. Memang, Rangnick saat ini terasa begitu indah untuk Milan. Pria asal Jerman itu diakui punya visi yang sangat jelas untuk membentuk karakter tim yang berisikan pemain muda yang belum populer.

Nantinya, mereka akan digodok dalam satu tim sehingga bisa menghasilkan permainan bagus. Dari berbagai pemberitaan, Milan tampak narsis dengan mengaitkan diri mereka kepada Rangnick. Saat ini, pemberitaan seputar Milan pastilah soal pemain yang sudah diminta Rangnick untuk dibeli.

Lalu, pemain mana saja yang ada di tim saat ini yang jangan dijual. Ada lima pemain dan mereka adalah Gianluigi Donnarumma, Theo Hernandez, Alessio Romagnoli, Ismael Bennacer, dan Hakan Calhanoglu. Kelima pemain ini akan dipadukan dengan para pemain yang sudah dipesan Rangnick ke Gazidis.

Para pemain itu adalah Nikola Milenkovic (bek tengah Fiorentina), Robin Koch (bek tengah Freiburg), Luka Jovic (striker Real Madrid), Dominik Szoboszlai (gelandang RB Salzburg), Florentino Luis (gelandang bertahan SL Benfica), Denzel Dumfries (bek kanan PSV Eindhoven), dan Marcel Sabitzer (gelandang RB Leipzig).

Praktis, hanya Jovic yang populer meski juga punya predikat pemain gagal di Madrid. Dari proyeksi ini seperti memperlihatkan betapa Rangnick punya visi hebat bagaimana membangun sebuah tim. Hal indah soal Rangnick lainnya adalah tokoh anutannya. Ya, Rangnick sangat mengidolakan Arrigo Sacchi, pelatih legendaris Milan.

Sacchi dikenal pelatih yang doyan menerapkan strategi menyerang. Saat didaulat jadi pelatih Milan, strategi itu langsung dipakai Sacchi yang kala itu banyak diragukan. Ternyata, Sacchi langsung membawa Milan juara Seri A 1987/88.

Dua faktor inilah yang melambungkan ekspektasi manajemen dan fan Milan bahwa Rangnick bisa secara instan mengubah Milan. Secara teori dan prediksi sah saja. Seperti halnya, teori dan prediksi yang mengatakan sebaliknya. Artinya, seinstan apa pun, sebuah proses harus tetap dijalani.

Apalagi, sepak bola sangat dinamis. Apa yang terjadi di masa lalu tak bisa persis diduplikasikan di kondisi terkini. Ada perubahan zaman yang sangat memengaruhinya. Berharap tentu boleh banget. Buat apa mendatangkan Rangnick jika tak punya harapan tinggi.

Tapi, terlalu tinggi rasanya juga tidak tepat. Antitesisnya, tak semua pelatih dengan ekspektasi tinggi bisa langsung memberikan hasil instan. Josep Guardiola dari Bayern Munchen ke Manchester City langsung jadi musim pertamanya tanpa gelar. Ada pula Jose Mourinho ke Manchester United tapi berujung pemecatan.

Bahkan, Jurgen Klopp yang begitu hebatnya mengubah Liverpool jadi klub terkuat di dunia pun perlu proses. Ya, proses jadi kata yang tak boleh dilupakan oleh manajemen dan fan klub di mana pun. Di era sepak bola yang sudah sangat modern ini, proses jadi hal yang paling mendasar.

Tentu, banyak sekali yang ingin Milan bangkit dan jadi salah satu tim papan atas di Seri A. bahkan, fan klub lain juga menginginkan itu. Tujuannya, agar Seri A makin semarak dengan kembalinya tim klasik macam Milan ke persaingan tangga juara. Meski begitu, Rangnick sepertinya belum bisa mewujudkan itu di musim perdananya.

Setidaknya, semusimlah Rangnick berproses di Milan untuk mencari formulasi yang paling tepat. Lalu, di musim keduanya Milan bisa melesat. Apalagi, Rangnick nantinya akan jadi direktur saja dan posisi pelatih bakal diberikan kepada Julian Nagelsmann, pelatih RB Leipzig saat ini.

Dari rencana ini saja, bisa digambarkan bahwa Rangnick akan menjalani sebuah proses terlebih dahulu di Milan. Di musim pertamanya dia ingin meletakkan fondasi tim lalu, tongkat estafet diberikan kepada Nagelsmann di musim kedua. Jika Rangnick saja ingin berproses, maka jangan kaget jika di musim depan Milan belum moncer.

Ibaratnya, Milan adalah sebuah rumah yang sedang direnovasi. Jika sudah jadi akan terlihat rumah yang indah dan menarik perhatian mereka yang lewat. Marilah menikmati proses ini sebagai bagian dari perjalanan sebuah klub.***

D
Penulis
Dedhi Purnomo
BarC4!