news
OPINI
Lanjutan Liga 1 dan Liga 2, Bisakah Jadi Panggung Pemain Muda Demi Kepentingan Piala Dunia U-20 2021?
06 June 2020 06:00 WIB
berita
RENCANA PSSI dan klub-klub Tanah Air melanjutkan kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 2020 layak diapresiasi.

Untuk kompetisi Liga 1, rencananya dimulai September 2020 mendatang dan seluruh pertandingan akan dimainkan di Pulau Jawa.




Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Empat Petinggi Klub Liga 1 Ungkap Alasan Menolak Kompetisi Dilanjutkan
- Pengakuan Mengejutkan Rizky Ridho: Dulu Bonek, Kini Jadi Pemain Utama Persebaya


Pada kompetisi Liga 2, PSSI menawarkan opsi home tournament. Formatnya dibagi empat grup dengan masing-masing grup diisi enam tim dan dimulai sekitar bulan Oktober 2020.

Belum ada keputusan memang, tapi sepertinya rapat Exco PSSI tinggal ketuk palu untuk melanjutkan kompetisi.


Baca Juga :
- Bukan Liverpudlian, Aryn Williams Sebut Liga Inggris Masih Greget Meski Liverpool Sudah Juara
- Siswanto Terancam Melupakan Panasnya Atmosfer Kompetisi Liga 2


Patut diacungi jempol karena di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda negeri ini, PSSI dan klub-klub masih bersemangat menyiapkan konsep terbaik untuk lanjutan kompetisi.

Meskipun, meminjam istilah almarhum Sutan Bhatoegana, terus terang agak “ngeri-ngeri sedap” juga mendengar kabar ini.

Sedap, tentunya karena kompetisi akan bergulir, dan sepak bola Tanah Air kembali bergairah. Dan idealnya, klub-klub bisa membayar gaji para pemainnya. 

Yakni melalui pemasukan dari subsidi yang ditingkatkan hingga Rp 800 juta untuk Liga 1 dan Rp 200 juta untuk Liga 2.

Ini belum termasuk bagi-bagi kue hak siar yang sebaiknya juga ditambah. Maklum, kondisi masing-masing klub berbeda. Ada yang banyak sponsor dan finansialnya kuat, ada juga yang kembang kempis.

Apalagi semua pertandingan akan digelar tanpa penonton sehingga tidak ada pemasukan dari tiket pertandingan.

Tapi tetap ngeri juga, karena kita berencana menggelar kompetisi di tengah wabah virus corona yang belum mereda.  

Pulau Jawa, tempat akan digelarnya lanjutan kompetisi Liga 1 maupun Liga 2, masih menjadi episentrum wabah virus corona. Bahkan Kota Surabaya sudah masuk zona hitam.

Ini berbeda dengan negara-negara lain seperti Jerman dan Korea Selatan yang sudah menggulirkan kompetisi setelah wabah corona mulai mereda.

Atau, negara-negara tetangga kita seperti Thailand dan Vietnam yang mulai bersiap menggulirkan kompetisi setelah melihat melambatnya perkembangan virus corona.

Dengan kata lain, kita memilih melanjutkan kompetisi lebih karena faktor kebutuhan. Klub butuh pemasukan, pemain butuh main dan digaji, suporter butuh hiburan.

Dan satu lagi tujuan yang tegas disebut oleh PSSI meski agak menimbulkan pertanyaan. Yakni, demi kepentingan timnas U-19 yang akan berlaga pada Piala Dunia U-20 2021 saat kita jadi tuan rumah.

Matangkan Protokoler Kesehatan

Apa pun, yang jelas, sebelum menjalankan lanjutan kompetisi, yang paling utama untuk dimatangkan adalah protokoler kesehatan.

Kebetulan dokter timnas Syarif Alwi sudah mempersiapkan protokoler berstandar FIFA yang menyesuaikan dengan konsep new normal.

Itu yang harus didukung dan dipraktikkan semua pihak yang terlibat dalam kompetisi. Namun, untuk mewujudkannya memang butuh biaya besar. Terutama untuk menggelar rapid test sebelum pertandingan.

Sekadar gambaran, taruhlah jika dipukul rata, biaya rapid test di rumah-rumah sakit Jakarta sekitar Rp 500 ribu-an per orang.

Padahal, dalam satu tim termasuk pelatih dan ofisial bisa terdiri dari 50 orang. Kompetisi Liga 1 saja ada 18 klub, belum ditambah Liga 2 dengan 24 klub. Sudah siapkan PSSI?

Juga, hal lain yang perlu dibahas lebih dulu dan dikhawatirkan oleh pemain adalah permasalahan kontrak.

Tentu pemain tidak mau tragedi pemotongan hingga 75 persen terulang, sebaliknya klub juga perlu berhitung lagi soal klausul kontrak.

Terkait hal ini, PSSI berjanji menyiapkan payung hukum terkait kontrak kepada pemain dan pelatih.

Serta, akan dibahas dalam diskusi dengan APPI (Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) dan Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI).

Semoga saja tercapai kesepakatan yang baik antara pelatih, pemain, ofisial, klub, PSSI, dan PT Liga Indonesia Baru terkait kontrak ini, sehingga tidak ada lagi yang merasa dirugikan.

 

Paksa Klub Turunkan Pemain Muda

Kembali ke tujuan “demi kepentingan lebih besar”,  timnas U-19, yang akan berlaga pada Piala Dunia U-20 2021 seperti diucapkan Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi.

Interpretasinya memang agak sumir. Kalau yang dimaksud adalah agar pemain timnas U-19 bisa mengasah diri dengan mengikuti kompetisi, sepertinya sulit mewujudkannya.

Sebab, klub-klub tentunya ingin menurunkan pemain terbaiknya demi meraih juara. Bukan pemain-pemain yang masih hijau meski berstatus anggota timnas U-19.

Kecuali, ada aturan yang “memaksa” klub menurunkan pemain muda seperti yang diterapkan pada kompetisi Liga 1 2017 lalu.

Ini juga harus dibahas dengan klub-klub kontestan Liga 1 dan Liga 2. Sebab, kalau tidak ada aturan mengikat, sah-sah saja klub tidak menurunkan para pemain mudanya.

Selain itu, pelatih timnas U-19 Shin Tae Yong juga harus merelakan pemainnya yang sedang menjalani TC dipanggil ke klub masing-masing untuk ikut kompetisi. 

Kemudian jika yang dimaksud adalah untuk kepentingan promosi atau kampanye kesiapan Indonesia menggelar Piala Dunia U-20-21, artinya jangan sampai hal-hal memalukan terjadi sepanjang kompetisi bergulir.

Okelah klub tidak menurunkan pemain muda, tapi fair play tetap harus dikedepankan. Tunjukkan bahwa kompetisi Indonesia berkualitas. Suporter juga harus taat aturan.

Sehingga, dunia memandang kita mampu menyelenggarakan pentas sepak bola paling akbar sedunia untuk level usia 19 tahun itu.***

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id