news
OPINI
Karut Marut PSSI 
05 June 2020 11:32 WIB
berita
Grafis TopSkor-Jupri Lubis
APAKAH PSSI perlu berganti nama menjadi PBKI (Persatuan Bola Kaki Indonesia)? Pasalnya, PSSI sudah 90 tahun berdiri di Republik Tercinta ini.

Istilah ganti nama atau ruwetan atau re-branding mungkin bisa menghilangkan kesialan di induk organisasi sepak bola Indonesia ini. 




Baca Juga :
- Kaki Striker Bali United Ini Sudah Gatal Ingin Kembali Merumput di Liga 1
- Luar Biasa! Boyolali Segera Miliki Lapangan Rumput Hybrid Mirip dengan Santiago Bernabeu


Tentu, dengan nama baru harapan baru pun bisa muncul demi tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih baik dari sebelumnya.

Belum hilang dalam ingatan mengenai masalah nepotisme, baik dalam tubuh PSSI maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga, yang baru-baru ini memunculkan polemik. 


Baca Juga :
- Persib Serius Kejar Gelar Juara Kompetisi Liga 1 Musim Ini
- Gian Zola: Pertahankan Rapor Positif Persib walau Liga 1 Tanpa Penonton


Kasus rangkap jabatan hingga mundurnya Direktur Utama PT LIB Cucu Somantri juga seakan menjadi lagu lama yang terus “diputar” sejak orde lama (ORLA) sampai sekarang.

Sekarang Liga 2 menuntut haknya dan menyuarakan untuk mengganti operator Liga. Beberapa klub Liga 2 mengusulkan untuk mendirikan PT Liga Indonesia Mandiri alasannya, agar mereka mendapat transparansi keuangan dan dinilai lebih adil. 

Gerakan dari bawah ini muncul juga dikarenakan diamnya Ketua Umum PSSI dan Komite Eksekutif (Exco) untuk menyelesaikan carut marut dalam tubuh induk organisasi sepak bola Indonesia saat ini. 

Federasi seakan tidak punya konsep ke Indonesiaan dalam mengurus bola yang seharusnya gampang dibuat susah.

Sesuai statuta FIFA, PSSI/PBKI adalah wadah tunggal dalam mengurus sepak bola di wilayah Indonesia. Artinya punya kekuasaan yang besar dan tinggal bagaimana niat pengurus PSSI untuk mengurus dan membawa sepak bola Indonesia ke jalan yang benar.

Ada 3 hal yang penting dilakukan PSSI:
1. Pembinaan
2. Perbaikan internal PSSI
3. Perbaikan cara kerja Liga sepak bola secara profesional.  

Apabila ketiga bagian di atas dikerjakan integritas dan professional, maka PSSI akan menjadi contoh Cabang Olahraga (cabor) lain untuk melakukan hal yang sama menuju olah raga Indonesia menjadi lebih baik. 

KLB atau ganti operator liga tidak akan ada artinya, apabila PSSI sendiri tidak professional menjalankan 3 hal yang penting saat ini.

Dan, jika PSSI tidak bisa mencari jalan dalam menyelesaikan persoalan yang mencuat akhir-akhir ini, maka Kongres Luar Biasa (KLB) adalah harga mutlak untuk mengganti semua pengurus lama yang berbau ORLA. 

Dan, mancari figur baru untuk mengurus bola seperti Erick Thohir atau Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang punya integritas sebagai Ketum PSSI, agar sepak bola indonesia bisa sejajar dengan negara lain.

Sekarang PSSI sedang kritis atau menjelang kematian karena salah urus dari awal. 

Harus semua pemangku kepentingan sepak bola, termasuk pemerintah wajib duduk bersama untuk mewujudkan PSSI yang dibanggakan.

Bravo PSSI!
 

news
Penulis
Suryansyah