news
OPINI
Kematian Floyd Menyayat Hati Mayweather, Pogba hingga Balotelli
03 June 2020 14:33 WIB
berita
Hentikan rasisme/grafis-TopSkor-Triyadi
GEORGE Floyd mendadak tenar. Amerika Serikat dibuat geger. Presiden Donald Trump pun gusar. 

Amerika dilanda masalah. Kerusuhan di mana-mana. Rakyat bagian marah. Kekerasan menyebar ke 40 kota di seluruh Amerika. Kebanyakan yang bergerak masyarakat kulit hitam atau afro Afrika. Pun tidak sedikit yang berkulit putih. Toko-toko dijarah. 




Baca Juga :
- Apes! Bruno Fernandes dan Pogba Tabrakan, Terancam Absen Pertandingan MU
- Solskjaer Punya Delapan Laga Sisa Menyelamatkan MU Musim Ini


Donald Trump terpaksa menurunkan tentara. Tak kurang 17.000 Garda Nasional. Dilengkapi dengan senjata. Jam malam diberlakukan di beberapa kota.

Tapi, rakyat tak gentar. Gelombang demontrasi malah lebih besar. Sudah seminggu demontrasi digelar. Bahkan menguasai media sosial seperti Instagram maupun Twitter. Tuntutannya: keadilan untuk Floyd!


Baca Juga :
- Petinju Thailand Ini Patahkan Rekor Tak Terkalahkan Mayweather
- Preview Tottenham vs Man. United: Debut Kane setelah Cedera, Martial Siap Tempur


Siapa sesungguhnya Floyd?
Floyd adalah bintang basket dan American football. Yakni saat masih SMA di Texas. Pria kulit hitam ini baru pindah ke Minneapolis lima tahun lalu.

Namun naas nasibnya. Pria berusia 46 tahun itu tewas karena tindakan oknum polisi Minneapolis yang berlebihan. 

Floyd memarkir mobil tidak jauh dari sebuah toko di pojok jalan. Dia membeli rokok mentol. Tapi, uang lembaran 20 dolar AS (Rp 290 ribu) yang digunakannya dicurigai palsu.

Penjaga toko itu menelepon 911. Ia melaporkan: baru saja ada pembeli rokok mentol dengan uang palsu. 

"Apakah orangnya kulit hitam, kulit berwarna, Latin atau Asia?" tanya petugas 911.

"Ya...begitu," jawab petugas toko.

"Ya begitu bagaimana?" tanya petugas lagi. Sambil mengulangi pertanyaan detil warna kulit tadi.

"Iya. Afro American," jawab penjaga toko pada 25 Mei siang.

Tak lama berselang, polisi datang. Polisi minta Floyd pindah ke mobil polisi. Menolak. Lalu diborgol. Dibawa ke arah mobil polisi. Floyd tidak membawa apa-apa --apalagi senjata.

Lalu Floyd dijatuhkan. Derek Chauvin, seorang polisi berkulit putih, menekan leher Flyod dengan lututnya.

Floyd merontah dan berteriak. "Lututmu di leher saya. Saya tak bisa bernapas... Mama... Mama." 

Maut akhirnya merenggut Floyd. Adegan itu direkam temannya. Tersebar luas. Viral. Dihitunglah berapa lama lutut Chauvin menekan leher Floyd: 8 menit lebih.

Tindakan polisi kulit putih itu dikecam habis --termasuk oleh para pimpinan polisi di semua negara bagian. ”Tidak ada pelajaran seperti itu di pendidikan polisi,” kata mereka.

Kematian Floyd memicu kerusuhan. Bahkan merembet ke pelosok dunia. Floyd juga telah menyayat hati insan olahraga. Terutama mereka yang berkulit hitam. 

Petinju legendaris Floyd Mayweather rela mencairkan cek senilai 88.500 dolar AS atau sekitar Rp 1,27 miliar. Uang itu untuk ongkos pemakaman Floyd. 

"Dia mengadakan tiga pemakaman, mungkin bahkan empat, tapi saya akan mengurus semuanya," kata Mayweather. 

Pembalap Inggris Lewis Hamilton juga berempati. Juara dunia F1 ini mendesak pembalap lainnya untuk tidak duduk diam. Dia menyerukan perjuangan melawan rasisme.

Hamilton memposting foto tangan kanan yang mengepal di akun Instagramnya. Gambar itu simbol dari gerakan Black Power untuk mendukung Floyd.

Mario Balotelli, bintang Brescia, juga tak ketinggalan. Balotelli mengunggah pose berlutut sambil mengepalkan tangan di akun Instagram miliknya.

Ia pernah menulis pesan kritis kepada para pelaku rasial di Liga Italia. "Saya tidak menentang monyet karena saya sangat yakin monyet lebih pintar dari pelaku rasial," tulis Balotelli.

Bintang Manchester United, Paul Pogba dan Marcus Rashford juga mengutuk aksi kekerasan itu. Pogba menyatakan muak dengan perkara-perkara rasial yang menjadi alasan ketidakadilan bagi orang-orang kulit hitam.

Penggawa Borussia Dortmund Jadon Sancho merayakan salah satu golnya di laga melawan Paderborn, Senin (1/6/2020), dengan menunjukkan kalimat Justice for George Floyd di kausnya. 

Legenda NBA Michael Jordan juga ikut menyuarakan protes terhadap dugaan aksi rasialisme yang dilakukan Chauvin. Dia bahkan menangis dalam menyampaikan isi hatinya.

Sejumlah elite olahraga lainnya juga menyuarakan protes keras. Mulai dari LeBron James, Serena Williams, dan terakhir Felix Auger Aliassime. 

Mereka mendesak rasisme dan diskriminasi dihentikan. Tidak boleh ada tempat di manapun. Masih ada jalan yang lebih baik untuk mencapai kesetaraan. Bukan dengan kebencian. Tragedi Floyd jadi pelajaran berharga.*

news
Penulis
Suryansyah