news
OPINI
Berpikirlah Lautaro! Jangan Sampai Jadi Sayap Patah seperti Coutinho-Griezmann, Posisi Striker di Barca itu Fatamorgana
26 May 2020 12:12 WIB
berita
SANGAT mudah mengukur kesuksesan sebuah transfer. Lihat saja apakah pemain yang dibeli mampu memberikan kontribusi signifikan atau tidak. Makin bagus dia bermain, makin sukseslah transfer itu. Kinerjanya pun bisa diukur dari gol dan assist bagi pemain depan atau jumlah kebobolan untuk pemain belakang.

Setelah melihat itu, tengoklah berapa harga jualnya. Makin murah, makin sukses pula. Di titik tertinggi, sudah gratis tapi bisa memberikan kontribusi luar biasa bagi tim itu. Contohnya pun banyak. Berbanding terbalik dengan itu berarti indikator kegagalan sebuah transfer.




Baca Juga :
- Diajak Mayweather Jr Sparring Jam 1 Pagi, Petinju Tak Populer Ini Tarung sampai Subuh
- Pemain Veteran Asal Jepang Ini Ogah Pulang Kampung, Mau Bawa Huesca Promosi ke La Liga


Mahal tapi tak berkontribusi maksimal, digaji tinggi, sering cedera, dan pada akhirnya susah dijual. Cicilan pelunasan jalan terus tapi pemain itu teronggok begitu saja tanpa bisa diharapkan lagi. Untuk situasi negatif ini, FC Barcelona langganan mengalaminya. Bisa dibilang, merekalah klub yang paling merugi untuk urusan transfer.

Setidaknya, ada tiga nama yang sudah bikin malu Barca karena dianggap tak becus membeli pemain. Philippe Coutinho yang dibeli pada Januari 2018 dari Liverpool seharga 145 juta euro. Inilah pembelian termahal Barca dan jadi apa sekarang. Lalu, Ousmane Dembele 125 juta euro dari Borussia Dortmund di Juni 2018.


Baca Juga :
- Semangat! Lukaku Unggah Ajakan untuk Bangkit dan Menggapai Peluang Kemenangan
- Inter Dapatkan Pemain Muda Asal Swiss, Peremajaan Skuat juga Dijalankan Manajemen


Lebih sering cedera ketimbang mencetak gol atau bermain di pertandingan. Terakhir, Antoine Griezmann 120 juta euro dari Atletico Madrid di Juni 2019. Griezmann sebenarnya jauh lebih baik daripada Coutinho dan Dembele tapi tetap belum memuaskan. Jika ada tawaran yang bagus bisa saja Griezmann dilepas.

Padahal, dia belum diberi kesempatan sebanyak Coutinho atau Dembele. Tidak adil juga jika Griezmann buru-buru dijual karena dianggap tak cocok dengan Lionel Messi. Ada analisis yang sangat masuk akal yang bisa jadi landasan mengapa Coutinho dan Griezmann tidak moncer.

Para pelatih Barca, baik itu Ernersto Valverde dan Quique Setien tidak memberikan posisi paling nyaman bagi kedua pemain di skuat. Coutinho begitu gemilang saat di Liverpool atau timnas Brasil tatkala bermain di belakang striker. Begitu pula di awal penampilannya di Bayern Munchen.

Sedangkan di Barca, Coutinho dilempar ke sayap. Penampilannya seperti terasingkan dan tak terkoneksi dengan pemain lain. Jika menerima bola, pasti hilang atau tak sampai ke rekannya jika dioper. Griezmann masih lebih bagus meski tetap tidak optimal karena di Atletico Madrid dia main di tengah bukan di sayap seperti di Barca.

Messi menginginkan Luis Suarez tetap di tengah sehingga posisi tengah depan jadi tak tergantikan. Tak masalah sebenarnya karena Barca tinggal mencari winger murni untuk membantu Suarez. Ya Dembele itu tapi kondisinya payah dan tak bisa diharapkan lagi di tim.

Pernah punya Malcom yang potensial tapi dilepas karena dibeli bukan atas keinginan Valverde melainkan Direktur Teknik, Eric Abidal. Kini, Barca ramai diberitakan ingin lagi mencari striker murni. Pemain yang diburu adalah Lautaro Martinez, kesayangan FC Internazionale.

Segala cara diupayakan di tengah keterbatasan likuiditas Barca akibat pandemi virus Corona. Uang plus pemain ini-itu diajukan tapi sejauh ini Inter masih bisa bertahan meski entah sampai kapan. Lautaro sendiri adalah pemain tengah. Pelatih Antonio Conte menempatkannya di depan untuk berduet dengan Romelu Lukaku.

Formasi Inter yang 3-5-2 itu sangat memungkinkan Conte memakai dua striker. Untuk sayap, diserahkan kepada full back atau gelandang di belakangnya. Sedangkan formasi 4-3-3 milik Barca jelas hanya memakai satu striker. Terbayang sudah di mana Lautaro akan bermain selama Suarez masih ada.

Ya, Lautaro akan terdampar di sayap. Dia bakal senasib dengan Coutinho dan Griezmann meski kampanye Barca meneriakkan Lautaro akan jadi pengganti Suarez. Kemungkinan besar itu tidak terjadi karena lagi-lagi Messi yang akan meminta langsung kepada Setien agar Suarez tetap di tengah.

Striker asal Uruguay itu memang sudah 33 tahun. Pada Januari 2021 jadi 34 tahun. Mungkin baru musim depan mulai tak sering dimainkan. Artinya, Lautaro harus menanti semusim agar bisa jadi pengganti Suarez di posisi tengah. Sebelum itu, Lautaro pun akan “disekolahkan” di sayap.

Jika jelek, ujung-ujungnya dihujat lalu dijual padahal job desk-nya bukanlah sebagai winger. Inilah yang dialami duluan oleh Coutinho dan Griezmann. Striker yang dijadikan sayap dan telah dianggap patah. Sebaiknya, Lautaro pikir-pikir dululan sebelum ke Barca. Jangan sampai bernasib sama dengan Coutinho dan Griezmann.

Jika Barca ingin mencari pengganti Suarez, ya sudah, Lautaro datang saja musim depan. Jadi, dia langsung bermain di tengah saat Suarez sudah tak ada. Sehingga, Messi tak punya pilihan selain menerima Lautaro di tengah. Jika, pelatih Barca ingin tetap Messi di sayap. Soalnya, ada kemungkinan pula Messi yang akan kembali ke tengah.

Sulit memang situasinya. Posisi striker di Barca itu seperti fatamorgana bagi para penyerang luar. Terlihat ada tapi saat sudah bergabung, peran itu abadi milik Suarez atau Messi. Akhirnya, mereka pun terlempar jadi sayap lalu patah. Jadi, pikir-pikir dululah Lautaro sebelum memutuskan untuk pindah ke Barca!***

D
Penulis
Dedhi Purnomo
BarC4!