news
LIGA 1
Mengejutkan, Begini Rahasia Firman Utina Membawa Tim Juara
22 May 2020 20:20 WIB
berita
FIRMAN Utina dalam kenangan semasa berkostum Persib./Arief NK
BANDUNG - Nama Firman Utina di kancah sepak bola nasional jangan ditanya lagi. Pemain yang kerap bernomor punggung 15 ini, sarat dengan prestasi. Arema FC, Sriwijaya  FC, Persib dan terakhir Bhayangkara FC, ia bawa menjadi juara ISL.

Bahkan Persib,  ia telah mempersembahkan tiga gelar, ISL 2014, Piala Walikota Padang 2015 da Piala Presiden 2015. Gelar yang jarang terjadi hingga tiga gelar secara beruntun dalam rentang waktu tiga tahun.




Baca Juga :
- Robert Rene Alberts: soal Febri Diminati Muangthong, Murni Spekulasi yang Tidak Jelas
- Pulang ke Montenegro, Eks Pemain dan Pelatih Persib Ini Meraih Sertifikat Kepelatihan UEFA Pro


Dalam perbincangannya dengan Top Skor dan pernah dirlis lima tahun ke belakang,  Firman Utina membeberkan rahasia dan cara memberikan gelar bagi klub yang dibelanya. Intinya, kata dia, cita-cita dulu  yang akan diraihnya bersama klubnya jadi target awal.

“Rahasianya sebetulnya banyak. Tetapi yang pasti adalah setiap akan membela klub mana saja selalu dibarengi dengan cita-cita, keinginan keras dan kemauan untuk bisa memberikan yang terbaik. Terpenting niat dulu, lalu saya jabarkan dan saya buktikan  manakala kita bertanding,” kata Firman mengungkapkan.


Baca Juga :
- Umuh Muchtar Menggaransi Febri Tetap di Persib, meskipun Muangthong Tawarkan Gaji Besar
- Tanggapan Pelatih Persib soal Kompetisi Bergulir September: Tidak Ada yang Bisa Memprediksi


Namun, tentunya kadar kebahagiannya berbeda-beda karena empat klub yang ia bawa ke tangga juara juga berbeda-beda. Itu dirasakan Firman saat membela dari satu klub ke klub lain. Dan terakhir di klub Bhayangkara FC.

“Jelas berbeda sekali, sebab meraih gelar untuk Persib sepertinya sangat spesial. Kita tahu Persib sudah  19 tahun puasa gelar, dan ketika  juara ISL saya persembahkan, akan menjadi catatan saya sepanjang masa, karena gelar tersebut akhirnya kan bisa dinikmati oleh semuanya, masyarakat Jabar, manajemen tim, pemain dan juga bobotoh, gelar ini jelas sangat berkesan buat saya,” katanya mengungkapkan lagi.

Ia memang pemain profesional. Namun Persib menjadi satu-satunya klub yang dia bela cukup lama yakni empat musim. Ini sangat kontras dengan klub lain yang pernah dibelanya seperti Arema, SFC dan Bhayangkara FC yang tidak sampai empat musim.

“Yang pasti faktor suasananya yang membuat saya sangat kerasan di Persib. Meski banyak tantangannya namun tetap enjoy, setiap targetnya pun jelas, kita dituntut untuk kerja keras demi kemenangan. Manajemen, tim fight semua dan  semua pekerja keras. Apalagi bobotohnya sangat welcome kepada saya, meski si pemain itu pendatang tapi untuk membela Persib mereka sangat mendukung. Mereka juga tak sungkan untuk berbagi keluh kesah, kita sebagai pemain menanggapinya secara positif, dan akhirnya kita sama-sama enak setelah saling berkomunikasi,” ia memaparkan.

Konon, bakatnya sebagai jenderal di lapangan sedang ditularkan kepada sang anak.  Firman pun berharap darahnya bisa menular. Dan, ia pun memiliki cara agar anaknya kelak menjadi pemai besar seperti sang ayah.

“Motivasi yang paling penting bagi seumuran anak saya, adalah suka dan mengenal betul mengenal dulu sepak bola. Saya tanamkan bahwa di sepak bola tidak mudah, bagaimana di sepak bola harus bekerja keras, bahkan saya tekankan untuk tidak silau dengan popularitas bapaknya, semua harus dari bawah, itu saya tanamkan ke anak saya,” ujarnya menegaskan,

Seluruh masukannya buat sang anak lanjut Firman, adalah yang bagus-bagusnya teurtama tentang prestasi sepak bola Indonesia. Karena menurutnya, untuk pemain usia dini seperti sang anak, terpenting mengenali dulu.

“Iya,  saya sarankan tidak usah banyak dan ikut memikirkan, sebagai pemain usia dini saya bilang tugasnya latihan yang baik, saya kasih harapan juga bahwa  suatu saat sepakbola kita akan bagus masa depannya,” ia menegaskan lagi.

Firman juga berharap sepak bola Indonesia  ke depan lebih maju dan bergairah. Maklum, katanya, prestasi  sepak bola Indonesia saat ini masih berada di bawah kalah oleh negara yang baru berkembang sepak bolanya.

“Saran memang tidak ada,  hanya harapan saya, ada kemauan dan keinginan saja dari semua pihak untuk membangun kembali persepakbolaan di Indonesia, kalau semua satu persepsi semuanya akan beres,” kata mengakhiri percakapan. *

 

A
Penulis
Arief N K