news
BULUTANGKIS
Sony Dwi Kuncoro dan Ricky Karanda Soroti PBSI soal Sistem Degradasi di Pelatnas
21 May 2020 00:08 WIB
berita
Sony Dwi Kuncoro / Foto: IG Sony Dwi Kuncoro
JAKARTA – Keputusan Tontowi Ahmad pensiun dari dunia bulu tangkis pada Senin (18/5/2020) ternyata menimbulkan efek yang tidak terduga.

Efek itu timbul karena komentar Tontowi Ahmad yang mengaku didegradasi secara sepihak dengan status magang yang disematkan kepadanya pada akhir 2019.




Baca Juga :
- Ginting dan Jojo Belum Terbendung, Inilah Hasil Lengkap Hari Pertama Tunggal Putra Turnamen Internal PBSI
- INFOGRAFIS: Statistik Pertemuan Empat Legenda Bulu Tangkis Dunia: Lin Dan, Taufik, Peter Gade, Lee Chong Wei


Eks pasangan Liliyana Natsir tersebut merasa bahwa status magang sepatutnya disematkan kepada pemain junior, bukan pemain veteran dengan berbagai prestasi seperti dirinya.

Komentar Tontowi Ahmad itu ternyata memicu dua alumni Pelatnas Cipayung lain yang juga merasa mendapat perlakukan kurang adil dari PBSI.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Super Dan, Pebulu Tangkis Super yang Menyabet Seluruh Gelar Bergengsi
- Super Dan Pensiun! 4 Catatan Impresif Lin Dan Sepanjang Masa


Sony Dwi Kuncoro dan Ricky Karanda Suwardi adalah dua alumni Cipayung yang merasa dicampakkan meski telah berkontribusi dalam bulu tangkis Indonesia.

Melalui Instagram pribadinya, Sony Dwi Kuncoro menuliskan pengalaman 13 tahun bersama pelatnas yang berakhir tanpa tanda jasa apa pun dari PBSI.

Padahal, Sony Dwi Kuncoro tergolong atlet berprestasi di berbagai ajang internasional termasuk saat meraih medali perunggu Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Dalam sebuah postingan Instagram pada Selasa (19/5/2020), Sony Dwi Kuncoro bercertia tentang proses degradasi yang dialaminya pada tahun 2014.

Bagi Sony, proses degradasi yang terjadi kurang tepat. PBSI seperti tak menghargai pemain yang sudah 13 tahun menghuni Pelatnas, bahkan masih menduduki peringkat 15 dunia.

Kekecewaan Sony bertambah karena sikap PBSI yang tak transparan dalam mengumumkan keputusan degradasi dan terkesan enggan memberi penghormatan kepada atlet veteran.

Bahkan, pria 35 tahun itu pertama kali tahu keputusan degradasi terhadap dirinya justru dari koran. Saat menerima surat keputusan, ia dapat bukan langsung dari pengurus PBSI.

Sony pun berharap agar PBSI dapat memperbaiki proses degradasi ini sehingga dapat lebih menghargai perjuangan atlet selama berjuang untuk negara.

Komentar serupa juga diungkapkan oleh Ricky Karanda Suwardi yang kecewa dengan sistem degradasi PBSI kepadanya beberapa tahun lalu.

Delapan tahun berlatih di pelatnas, periode 2010-2018, seperti tidak berarti apa pun bagi PBSI yang melepas Ricky Karanda Suwardi hanya dengan sebuah pernyataan media.

"Pertama kali saya tahu berita tentang degradasi melalui media sosial. Beberapa hari saya tunggu tidak ada pembicaraan dari pengurus, maupun pelatih," Ricky mengungkapkan.

Sama seperti Sony Dwi Kuncoro, Ricky Karanda Suwardi pun berharap agar sistem degradasi ini bisa segera diperbaiki oleh PBSI.*Skor.id/Any Hidayati/05

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id