news
TOP INTERVIEW
Kenangan saat Membela Timnas, Widodo Ungkap Pemain Thailand yang Sering Berantem dengan Fakhri Husaini
18 April 2020 16:42 WIB
berita
Widodo Cahyono Putra / Foto:TopSkor.id / Ady Sesotya
JAKARTA - Widodo Cahyono Putro bisa dibilang salah satu striker timnas yang cukup disegani. Ia bahkan berhasil menembus skuat senior timnas Indonesia saat usianya baru menginjak 21 tahun.

Sebagai pemain timnas, kariernya memang tidak bergelimang trofi. Tapi paling tidak, ia jadi salah satu pemain yang meraih medali Emas, Perak, dan Perunggu bersama timnas pada ajang SEA Games. Berikut petikan wawancara TopSkor.id bersama Widodo, Sabtu (18/04/2020):




Baca Juga :
- Siapa Saja Empat Pemain Persebaya yang Terpapar Covid-19? Begini Jawaban Sekretaris Tim
- PSMS Mengeluarkan Hampir Rp700 juta untuk Satu Bulan Operasional: Kalau Dibilang Rugi Ya Rugi!


Masih ingat kapan kali pertama dipanggil tim nasional?

Pertama kali dipanggil untuk ajang Pra Olimpiade 1992 tahun 1990/91 untuk U-21 saat itu usia saya sekitar 20-an. Pelatihnya saat itu adalah Iswadi Idris. Tapi ada beberapa pelatih lainnya yang membantu seperti Ronny Pattinasarany dan Risdianto. Tapi seingat saya pelatih kepalanya Iswadi Idris. Lalu yang kedua dipanggil untuk SEA Games 1991.


Baca Juga :
- Persita soal Penundaan Liga 1: Siapa yang Bisa Pastikan Kondisi Pandemi Ini ke Depannya?
- CEO Bali United Bicara Kerugian Akibat Ditundanya Pelaksanaan Liga 1 2020


Bisa ceritakan proses pemanggilannya saat itu?
Mungkin saya dilihat dari kompetisi Galatama waktu itu. Saya di tim Warna Agung, tim kami posisinya buncit, juru kunci. Karena saya striker yang terdaftarnya di situ, jadi biarpun di papan bawah secara permainan setiap bermain saya selalu cetak gol walaupun kalah. Mungkin dari situ dilihat untuk kemudian dipanggil.

Bagaimana reaksi Anda kala dipanggil timnas?
Waktu itu Pra Olimpiade kan memang khusus U-21, saya tidak begitu kaget. Justru yang kaget itu waktu nama saya ada dalam skuat senior untuk SEA Games 1991. Saya tak menyangka saat itu bisa tembus ke senior, di usia yang bisa dibilang sangat muda saat itu.

Apa momen favorit Anda bersama timnas?
SEA Games 1991, waktu itu saya debut di senior dan saya bisa cetak gol, dua gol lawan Malaysia. Terus bisa membawa pulang medali emas. Dan yang kedua waktu cetak gol salto di Piala Asia 1996.

Itu gol favorit Anda?
Hanya salah satunya. Sebetulnya setiap gol bagi seorang striker itu berkesan. Saya hampir 10 tahun di timnas, mungkin yang paling berkesan dan bersejarah, ya itu gol salto di Piala Asia.

Rekan satu tim yang paling sering satu kamar dengan Anda di timnas?
Kalau saya sama siapa saja. Tapi rata-rata waktu di timnas itu kalau ada Rocky (Putiray) saya sama dia. Pada SEA Games 1997 di Jakarta, saya sama Bima Sakti. Jadi sama siapa saja, tidak pilih-pilih

Siapa tandeman favorit Anda?
Saya kan orangnya justru penyuplai. Saya lebih mengutamakan bagaimana tim bisa menang. Bukan bagaimana saya mencetak gol. Makanya apa artinya baju Merah Putih, Garuda di Dadaku. Artinya ketika sudah memakai baju itu, bukan bagaimana saya mencetak gol, tapi bagaimana saya bisa membantu tim ini menang. Itu dulu yang harus tertanam. Tapi memang itulah dulu yang kami pemain timnas tanamkan saat memperkuat timnas. Pemain selalu all out.

Kapan terakhir kali Anda mengenakan seragam timnas?

Tahun 1999 di SEA Games Brunei Darussalam. Kami posisi ketiga. Saya main rutin. Kami terakhir adu penalti untuk memperebutkan perunggu. Semifinal kalah sama Vietnam. Sepanjang karier di SEA Games sih sudah komplet, ada Emas (1991), Perak (1997), dan Perunggu (1999).

Lawan di Asia Tenggara yang paling ngeyel di mata Anda?

Waktu zaman saya ya Thailand. Pemain mereka yang saya ingat itu salah satunya Kiatisuk Senamuang. Juga ada Therdsak Chaiman. Itu dia yang sering "berantem" sama Fakhri Husaini kalau bertemu di lapangan.

Pelatih yang paling berperan bagi karier Anda?
Tentunya di awal adalah keluarga yang paling berperan. Kalau pelatih pertama di klub itu (Alm) Endang Witarsa di Warna Agung. Terus  berjalan waktu ada (Alm) Andi Teguh. Kesininya mah banyak. Ya yang paling membekas tentu almarhum Endang dan Andi Teguh. Kalau Endang, ya beliaulah yang membentuk fondasi saya sebagai pemain. Bagaimana dari nol dari warna Agung tim papan bawah, bisa memunculkan seorang Widodo Cahyono Putro.

Pelatih dengan metode paling berat atau berkesan dimata Anda?

Pada  zaman dulu itu ya Anatoly Polosin. Jadi waktu sama dia latihan itu satu hari tiga kali. Bisa dibayangkan itu selama tiga bulan. Tapi ya kami pemain ambil sisi positifnya saja, akhirnya ada hasilnya, juara. Pada zamannya itu mungkin sekarang tidak bisa diterapkan saat ini. Sepak bola kan berkembang, berubah. Metode kepelatihannya itu pasti berbeda.

Pesepak bola Asia Tenggara yang Anda paling kenal?
Ya salah satunya Fandi Ahmad (Singapura), dia striker bagus dan Varadaraju Sundramoorthy (Malaysia).

Striker lokal favorit saat masih muda?
Ya kebetulan saya itu main di kampung jarang publikasi, jadi sampai saya sekolah SMEA itu terakhir kurang mengikuti kompetisi. Jadi ya tahu-tahunya ya pas masuk di Warna Agung. Oh, ini striker dulu ini ini. Waktu zaman dulu, seperti mas Risdianto awalnya juga jarang sekali saya lihat permainan dia. Ricky Yakobi juga, karena memang kan susah, televisi juga dulu jarang yang punya.*05

news
Penulis
Furqon Al Fauzi
For me, Everyday it's a Game Day....