news
TOP OPINI FOOTBALL
Efek Domino Corona, Milan Defisit Parah dan Pemain Ganti Gaji, Semua Klub Bakal Kena Kok
26 March 2020 09:55 WIB
berita
FASE demi fase efek dari serangan virus Corona sedang berlangsung. Ini bicara di ranah sepak bola. Mulai dari penundaan satu-dua laga, pertandingan tanpa penonton, hingga penghentian kompetisi. Setelah itu klub mulai teriak mereka merugi karena tak ada pertandingan berarti tak ada pemasukan.

Pada prinsipnya, klub sama dengan perusahaan tapi dengan karakter yang lebih unik. Pada perusahaan konvensional, saat mengalami kerugian, karyawan langsung di-PHK atau sebelumnya mengalami pemotongan gaji. Di klub sepak bola, PHK juga ada tapi biayanya sangat mahal.




Baca Juga :
- Sinyal Kuat Merapat ke Inter, Giroud Tolak Tawaran Perpanjangan Kontrak Chelsea
- Awak Barca Ada Dua yang Positif Corona, Untung Bukan Anak Buahnya Setien


Pemotongan gaji jadi pilihan pahit yang harus diambil oleh manajemen klub. Di Eropa sudah ramai kalau AC Milan bakal sangat membatasi gaji para pemainnya. Artinya, para pemain Milan tidak menerima gaji normal dari yang biasanya masuk ke rekening mereka. Frase pemotongan gaji rasanya pun tidak tepat.

Paling pas disebut ganti gaji. Soalnya, dari payroll 115 juta euro per tahun yang biasanya dikeluarkan manajemen Milan, kini hanya 20 juta euro untuk tahun ini. Berlaku kepada semua pemain. Pastinya akan ada penghitungan proporsi oleh bagian keuangan tim. Gianluigi Donnarumma sebagai pemain bergaji tertinggi di milan pun langsung kecut.


Baca Juga :
- Urusan Transfer, Madrid Sibuk Sendiri Bereskan Situasi Internal Tim, Bikin Tidak Fokus
- Inter Menyerah! Mulai Pilih-pilih Pemain Barca yang Diambil untuk Transfer Lautaro


Biasanya dia terima 6 juta euro pertahun dan sekarang entah berapa yang diterimanya. Istilahnya, klub hanya mampu bayar untuk ongkos dan biaya hidup para pemain itu. Para pemain mau teriak pun tak bisa karena kas memang kosong. Jual aset pun tak bisa karena siapa yang mau beli.

Pilihannya hanya pasrah atau ngambek minta pindah tim. Khususnya untuk pemain bintang yang gajinya ganti karena Corona. Ya silakan saja kalau mau pindah tim dengan memakai banderol sesuai klausul pelepasan. Masalahnya, apa ada klub yang mau beli? Soalnya, klub lain pun menghadapi masalah yang sama dengan Milan.

Setajir-tajirnya klub pasti berdarah juga keuangannya karena tidak ada pertandingan. Tunggu saja berapa Juventus akan menggaji pemainnya. Di Italia, Juventus jadi klub dengan pengeluaran gaji terbesar yaitu 294 juta euro per tahun. Pastinya tak bisa sebesar itu lagi tapi masih tetap di atas Milan.

Tak terbayang berapa pengeluaran gaji tim kecil di Seri A. Macam Hellas Verona yang sebelum Corona mengeluarkan 25 juta euro untuk gaji pemain. Lalu, Brescia 28 juta euro. SPAL dan Udinese 30 juta euro. Ini efek domino Corona karena tidak terjadi di Seri A yang notabene negaranya paling menderita.

Di Spanyol pun demikian. FC Barcelona pun demikian. Sudah muncul pula di pemberitaan bahwa manajemen Barca hanya membayar gaji para pemainnya sebesar 30 persen dari gaji normal mereka. Pemotongan gaji itu redaksinya yang pas adalah 10-10 persen. Kalau dipotong 70 persen ya ganti gaji juga.

Terkesan sangat besar tapi itu sudah bagus jika melihat biaya gaji Barca per tahun. Merekalah yang paling tinggi yaitu 671 juta euro per tahun! Real Madrid 641 juta euro. Jika Barca hanya sanggup bayar 30 persennya, itu berarti masih di posisi kira-kira 200 juta euro per tahun.

Baru dari gaji sudah bikin puyeng manajemen semua klub akibat Corona. Bagaimana dengan kebijakan transfer pemain? Selama ini, fan masih senang dihibur dengan rencana transfer ini-itu klub-klub besar di Eropa padahal keuangan mereka sedang berdarah-darah. Istilahnya untuk level rumah tangga, untuk bisa makan saja sudah bagus.

Kabar bagus bagi tim yang tak ingin kehilangan pemain bintang mereka karena klub peminat langsung mundur saat banderol tak berubah. Bursa transfer pasti lesu dan komposisi pemain di musim depan sebagian besar akan sama saja. Mungkin tetap ada transfer tapi untuk pemain gratisan atau yang murah-murah.

Itulah mengapa, semua kompetisi top di Eropa terus memaksakan agar pertandingan kembali digulirkan. Mereka mulai mencari jadwal. Dengan adanya penetapan jadwal, titik cerah bisa dilihat. Lalu, harapannya pertandingan pun bisa dimainkan. Mau sependek apa sisa musimnya, pokoknya main.

Hak siar pasti turun angkanya, jumlah kedatangan ke stadion juga merosot, tapi ini jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Usai Corona, klub sepak bola mana pun, sementereng apa pun mereka, akan berubah menjadi sirkus yang mengharapkan tiket penjualan.

Seberapa lama bisa kembali ke posisi normal akan sangat ditentukan oleh secepat apa ekonomi Eropa bangkit. Pokoknya sekarang, masalah utama semua klub adalah waktu yang kian mepet jelang pergantian musim tapi Corona belum juga melandai kurvanya.*

D
Penulis
Dedhi Purnomo
BarC4!
news
news