news
LIGA ITALIA
Conte Momok bagi Ranieri
22 February 2020 10:33 WIB
berita
Pelatih Claudio Ranieri (kiri) dan Antonio Conte berpelukan dalam satu kesempatan.-Topskor.id/istimewa-
MILAN – Bagi Claudio Ranieri, sosok Antonio Conte bisa membuat ciut nyali. Bagaimana tidak, sudah 10 tahun terakhir, setiap kali bertemu dengan pelatih FC Internazionale tersebut, dia selalu pulang dengan tangan hampa.

Kemenangan terakhir dikecap Ranieri, ketika mengantarkan AS Roma ke kandang Atalanta BC, pada 29 November 2009. Tim asuhannya menorehkan skor 2-1. Mereka bersinggungan lagi ketika sama-sama pindah klub, Ranieri ke Inter dan Conte membesut  Juventus FC. Skuat Turin mencuri enam poin di musim 2011/12.




Baca Juga :
- Brescia Akan Mengundurkan Diri jika Seri A Dilanjutkan di Tengah Wabah Corona
- Rencana Barcelona: Bentuk Trio Messi, Neymar, dan Lautaro


Perang antara mereka berlanjut di daratan Inggris. Ada tiga pertandingan yang mempertemukan kedua pelatih yang pernah menjuarai Liga Primer itu. Ketika itu Ranieri bekerja untuk Leicester City dan Conte mengarahkan Chelsea. Keberuntungan belum juga berpihak kepada pria 68 tahun tersebut.

Minggu (23/2) atau Senin dini hari WIB, mereka akan berjumpa lagi di Stadion Giuseppe Meazza. Sepertinya jika melihat prestasi Inter, yang baru membawa pulang kemenangan 2-0 atas Ludogorets di fase 32 besar Liga Europa, peluang UC Sampdoria untuk mencuri tiga poin tipis.


Baca Juga :
- Milan Antisipasi Kepergian Ibra dengan Memburu Milik
- Lautaro Minta Nilai Kontrak Lebih Baik jika Inter Ingin Dirinya Tetap di Meazza


Menariknya, beberapa waktu lalu, Ranieri mengutarakan dukungan untuk Conte dalam persaingan menuju Scudetto. “Saya yakin hasil ini untuk Conte karena saya mengenalnya dan tahu, kalau bukan untuk Scudetto, Inter asuhannya akan terus berjuang. Romelu Lukaku, saya pernah bertemu di Liga Primer, dia sangat kuat. Dia bermain dengan baik untuk pelatih dan harmonis dengan rekan setim,” katanya.

Conte dan Lukaku merupakan dua kunci di balik deretan prestasi mengesankan I Nerazzurri. Kemarin di Razgard, pelatih menguji skema 4-3-1-2 di babak kedua, dari 3-5-2 di babak pertama. Perubahan itu nyatanya malah membuahkan kemenangan. Sepertinya tuan rumah akan mencoba menerapkan tersebut menyusul jawaban mengesankan dari tridente Lukaku-Lautaro Martinez-Christian Eriksen.

“Kami perlu bekerja untuk menemukan lebih banyak solusi saat pertandingan sedang berjalan. Ini ditentukan juga berdasarkan para pemain yang siap. Kami sudah punya acuan, tapi di saat yang sama mencari jawaban dalam situasi berbeda, seperti tiga penyerang atau dua penyerang plus trequartista seperti sekarang. Solusi ini mungkin bisa kembali berguna, kami punya ide dan ingin membawanya ke depan,” Conte menjelaskan.

Kemarin Lautaro memang belum menghasilkan gol, tapi tidak ada yang perlu dicemaskan. Dia tetap jadi pemain yang mencuri perhatian saat ini. Pujian dari bintang Barcelona, Lionel Messi, bisa jadi bahan bakar untuk penyerang muda Argentina itu. “Lautaro adalah pemain yang spektakuler, memiliki kualitas mengesankan, sangat kuat, hebat dalam duel satu  lawan  satu, mencetak banyak gol, di area dapat bersaing dengan siapa saja, bisa mencari peluang sendiri. Dia mirip Luis Suarez, dapat menggunakan badan dengan sangat baik dan piawai mempertahankan bola,” kata Messi.

Lautaro telah menciptakan gol dalam dua laga kandang terakhir. Seandainya mampu merobek gawang I Blucerchiati, dia akan jadi pemain Inter pertama yang menyarangkan gol dalam  tiga pertandingan di San Siro beruntun, sejak era Mauro Icardi pada Oktober 2018.*** Dari berbagai sumber

X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news