news
MOTOGP
Inilah yang Dilakukan Tim Pabrikan Yamaha untuk Angkat Performa
15 January 2020 13:20 WIB
berita
Maverick Vinales (kiri) dan Valentino Rossi kemungkinan besar akan berbagi informasi teknis untuk mendongkrak performa Yamaha YZR-M1 milik Tim Monster Energy Yamaha MotoGP, musim ini.
LESMO – Hasil buruk yang diperoleh tim pabrikan Yamaha dalam beberapa musim terakhir MotoGP membuat mereka terhentak. Belum lama ini, Prinsipal Tim Monster Energy Yamaha MotoGP Lin Jarvis mengatakan bahwa Valentino Rossi bakal mencoba metode yang digunakan oleh Maverick Vinales dalam mengendarai Yamaha YZR-M1 pada MotoGP 2020. Itu dilakukan dalam upaya pembalap veteran tersebut meningkatkan performanya di level tertinggi.

Salah satu metode yang diikuti Rossi adalah mengganti kru beberapa area penting di timnya. Mengubah cara mengendarai M1 juga diyakini dapat membuat Rossi tampil lebih cepat di semua trek. Hal itu sudah mulai ia lakukan pada pengujung musim lalu dan itu terbukti berhasil karena catatan waktunya sedikit lebih baik.




Baca Juga :
- Fabio Quartararo Bisa Bersaing untuk Gelar Juara di Musim 2020
- Tanpa Rossi, Begini Line Up Balapan Virtual MotoGP Mugello


“Hal terpenting saat ini adalah mengembangkan motor. Jika Anda melihat kecepatan tertinggi kami, itu sudah cukup. Tetapi kami memiliki masalah pada daya cengkeram dan itu hal yang perlu kami perbaiki. Kami juga masih kesulitan dengan sistem elektronik. Ada banyak hal yang juga perlu diselesaikan,” kata Jarvis.

Sepanjang tahun lalu, Yamaha juga melakukan beberapa perubahan dengan mendatangkan Takahiro Sumi sebagai Manajer Proyek MotoGP yang baru. Begitu juga dengan merekrut kembali desainer sasis Kazuhisa Takano. Mereka juga membajak ahli sistem kelistrikan Ducati, Marco Frigerio, yang dianggap mengenal seluk beluk unit kontrol elektronik (ECU) standar MotoGP lansiran Magneti Marelli.


Baca Juga :
- Gagal Tampil! The Doctor Tak Jadi Ikut Balapan Virtual MotoGP
- Marc Marquez Ragukan Keputusan Pensiun Jorge Lorenzo karena Alasan Ini


“Kami bekerja pada basis motor dan masukan dari para pembalap. Pada kasus Maverick, jelas menunjukkan ada indikasi masalah teknis. Kami mulai kehilangan arah setelah 2016, ketika para rival mampu tetap berada di jalur yang tepat dan bekerja lebih baik. Tapi sekarang, perlahan kami mulai kembali ke jalur yang benar,” ujar Jarvis.

Pada awal musim lalu, Vinales sempat kesulitan untuk bersaing di barisan terdepan karena tak cocok dengan setelan M1. Tetapi, ia mulai menunjukkan kecepatan ketika Yamaha melakukan beberapa perubahan pada pertengahan musim. Itu berhasil membuat Vinales meraih dua kemenangan dari total tujuh podium yang direbutnya.

Menurut Jarvis, salah satu kunci terbaik untuk meningkatkan performa adalah kru Vinales dan kru Rossi bekerja sama untuk mengembangkan motor. Ia mengatakan selama ini mereka bekerja masing-masing dan menutup-nutupi data. Itu membuat peningkatan M1 berjalan lambat dan tertinggal jauh dari para rival terkuat.

“Rossi dan kami semua merasa bahwa ini saat yang tepat untuk melakukan perubahan. Pendatang baru di MotoGP tak memiliki pengalaman, tapi mereka mampu beradaptasi dengan cepat. Ini merupakan peluang besar untuk memulai sesuatu yang baru dan mengubah cara kerja, serta komunikasi,” kata Jarvis.

Pada pengujung musim lalu, Rossi mengumumkan David Munoz untuk menjadi kepala kru yang baru menggantikan Silvano Galbusera. Munoz merupakan kepala kru Francesco Bagnaia saat masih di Moto2. Langkah ini dianggap berani sekaligus berisiko karena Munoz belum memiliki pengalaman menangani tim di kelas tertinggi.

“Munoz masih 41 tahun dan sejauh ini dia memiliki catatan bagus. Dia kepala kru Pecco (sapaan akrab Bagnaia) ketika menjuarai Moto2 pada 2018. Dia telah bekerja untuk VR46 (akademi balap milik Rossi) selama tiga tahun. Sebelum itu, dia bekerja untuk tim Sito Pons,” kata Jarvis.***MUHAMAD FADLI RAMADAN DARI BERBAGAI SUMBER

 

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news