news
LIGA 2
Sriwijaya FC Rombak 99 Persen Skuat, Ambrizal antara Jadi Asisten Pelatih atau Pemain
09 January 2020 15:15 WIB
berita
PALEMBANG - Sriwijaya FC (SFC) salah satu tim pengoleksi trofi juara terbanyak di sepak bola Indonesia, namun nasib tim raksasa ini dalam dua musim terakhir sedang tidak bagus. Setelah terdegradasi di musim 2018, SFC gagal bangkit dan tak bisa promosi ke Liga 1 di musim 2019. Laskar Wong Kito, julukan SFC, harus berjuang lagi di Liga 2 2020 agar bisa promosi ke Liga 1 musim 2021 mendatang.

Manajemen SFC pun langsung berbenah diri agar prestasi Elang Andalas bisa terbang tinggi lagi, manajemen berusaha semaksimal mungkin agar SFC bisa bangkit di 2020. Manajemen menilai, tidak ada cara lain selain melakukan perombakan total tim hingga 99 persen, baik dari jajaran pelatih hingga komposisi pemain direvisi.




Baca Juga :
- Mantan Pemain Asing Persebaya Ini Sebut Negaranya Aman dari Covid-19 dan Bawa Timnya Juara
- Lima Derbi Sumatera Menjadi Momok Pelatih Semen Padang 


Sejauh ini pemain lama yang dipertahankan baru Ahmad Ihwan, sementara Ambrizal masih fifty-fifty akan dijadikan asisten pelatih atau pemain. "Kami mengambil hikmah dari satu musim kemarin, untuk mengevaluasi dan memperbaiki di musim 2020 ini," kata Direktur Teknik SFC, Indrayadi, Selasa (7/1).

Demi kebangkitan di musim 2020, manajemen SFC mengadaptasi perjuangan Persik yang mampu menembus Liga 1 dengan kondisi tim dan finansial seadanya. Untuk itulah salah satu langkah yang dilakukan manajemen SFC yaitu mengambil pelatih yang berhasil membawa Persik juara, Budiarjo Thalib untuk menukangi SFC.


Baca Juga :
- Trisula Maut Sriwijaya FC Belum Dipatenkan 
- Pernah Bawa SFC Berprestasi, Rahmad Darmawan Masih Dinanti


“Kami belajar dari Persik, yang dengan modal kecil, biaya kecil, bukan pemain top, banyak pemain muda tapi bisa menjadi tim solid bahkan juara. Berangkat dari situ kami mengambil pelajaran,” ucap mantan pelatih kiper SFC itu.

Manajemen sudah sepakat dengan finansial yang tidak terlalu besar, dan memilih pemain yang mau bekerja keras, serta pelatih yang bisa memberikan motivasi lebih. Serta, pelatih yang bisa mengangkat performa pemain muda. “Ya, kami akan coba dengan range budget yang tidak besar, tapi pemain mau bekerja. Artinya dengan low budget tapi tim bisa kuat,” kata Indrayadi.

Manajemen SFC bisa dibilang yang paling jor-joran untuk masalah bonus dan gaji musim lalu. Gaji tidak pernah telat, bonus selalu lancar. Namun sayang tidak menjamin SFC lolos Liga 1.

Demi bangkit, SFC juga memutar balik persentase komposisi pemain muda dan senior. Musim lalu, SFC diperkuat 80 persen pemain senior. Di musim 2020, 70 sampai 80 persen pemain muda selebihnya pemain senior.

Karena banyak pemain senior di musim lalu menjadi salah satu faktor SFC kalah  dalam urusan ketahanan fisik dibanding tim-tim lain yang dihuni banyak pemain muda. Bahkan Indrayadi mengatakan, SFC musim lalu yang notabenenya tim papan atas harus kalah melawan tim papan bawah. Padahal secara kualitas dan finansial tim SFC lebih baik dibandingkan tim tersebut.

 

Sriwijaya Mania Setia

Di sisi lain, geliat kekecewaan juga tersirat di kalangan kelompok suporter SFC. Namun hebatnya, luka hati suporter SFC akibat timnya gagal ke kasta tertinggi, tidak membuat suporter meninggalkan tim kebanggaannya.

“Kami tidak putus asa dan tetap optimistis SFC masih bisa bangkit, musim kemarin karena tidak nasib saja. Padahal tinggal selangkah lagi,” kata Ketua Kelompok Suporter Sriwijaya Mania (S-Man), Edi Ismail.***AGUSTIAN PRATAMA

R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news