news
INFOGRAFIS
Striker Juventus Itu Tetap Berlatih ketika Liburan
28 December 2019 19:49 WIB
berita
TURIN – Jejak digital ketika Cristiano Ronaldo melepaskan medali perak yang didapatkan saat final Piala Super Italia 2019, Minggu (22/1), akan sulit dihapus. 

Wajah menahan marah dan kecewa menegaskan kalau dia tidak suka dikalahkan di laga pamungkas. Sepanjang karier, striker Juventus FC itu mengenakan medali emas 21 kali dalam 29 kesempatan. 




Baca Juga :
- Keren! Ronaldo Tambah Mobil Mewah, Harganya Bikin Geleng Kepala
- Godin Kecam Otoritas Sepak Bola Italia, Inter vs Juventus Bisa Membantu Penyebaran COVID-19


Emosi Ronaldo terguncang karena kegagalan terakhir di final dialami lima tahun silam, di Piala Super Spanyol, lawan Atletico Mardrid. Kali ini pil pahit dihadiahkan oleh SS Lazio. Gol tunggal Paulo Dybala tidak cukup untuk memboyong gelar. 

“Saya selalu bilang, trofi adalah trofi dan saya suka untuk memenanginya. Saya adalah satu-satunya pesepak bola yang menjuarai Seri A, La Liga dan Liga Primer. Dulu ibu saya selalu memberi tekanan dengan berkata, ‘Besok, Anda harus menang dan mencetak gol.’ Saya mengerti kenapa dia melakukan itu,” ujarnya dalam wawancara kepada DAZN. 


Baca Juga :
- Pemain Juventus Sepakat Tak Gajian 4 Bulan
- Tiga Pemain Terpapar, Juventus Makin Takut, Untung Ronaldo Negatif


“Saya menyukai semuanya tentang Juve, saya senang berada di sini dan ingin memenangi banyak piala.”

Bagi siapapun kekalahan akan selalu membekas. CR7 pun memilih berlibur ke Dubai dengan keluarga kecilnya untuk melupakan sejenak kenangan buruk itu. Dia pun mengubah amarah menjadi motivasi untuk bangkit.

Penyerang tersebut  bahkan menyediakan waktu khusus untuk latihan di tengah liburannya. Ada satu sesi di mana dia menggembleng kekuatan tubuh bersama petenis papan atas dunia, Novak Djokovic. Pesepak bola asal Portugal itu ingin lebih fit dan trengginas untuk menaklukkan semua kompetisi tahun depan.

“Saya gemar berlatih. Jika Anda kurang suka, itu sangat sulit. Saya melakukan apa yang saya suka dan saya dibayar untuk itu. Kritik merupakan bagian dari permainan, Anda harus terus menjadi positif, sepak bola seperti itu. Saya tahu siapa saya dan pada akhirnya mereka akan bilang ‘bravo’,” attaccante 34 tahun itu mengungkapkan. 

Setelah trofi pertama terbang ke pelukan Lazio, Ronaldo bergerak ke target berikutnya. Bagaimanapun ini adalah tahun penting dan kekasih Georgina itu menutup dengan trofi Piala Eropa 2020. Sederet gelar dibutuhkan untuk menambah koleksi Bola Emas dan menyamai raihan rival utamanya, Lionel Messi, yang memeluk enam piala prestisius itu. 

Pelatih Maurizio Sarri mesti membantunya untuk kembali jadi pesepak bola terbaik di dunia. Untuk tahun ini, pengakuan tersebut hanya diberikan oleh sepak bola Italia.

 “Pemain paling kuat di Seri A? Untuk saat ini saya, karena saya yang mendapat penghargaan itu. Terima kasih untuk teman-teman yang memilih saya. Tahun depan saya tidak tahu, akan ada banyak pilihan,” kata Ronaldo.

Cristiano masih merasa dirinya sebagai pemain nomor satu dan ingin membuktikannya dengan segera menjadi juara di kompetisi Eropa. 

Etos kerja tinggi, karisma, segudang pengalaman juara merupakan beberapa kriteria yang diperlukan seorang pelatih. Ronaldo memiliki itu semua. Tapi dia tidak tertarik untuk menularkan ilmu dan meramu taktik. 

“Pada saat ini saya tidak tertarik menjadi pelatih, mungkin saja suatu saat nanti pikiran saya berubah. Saya lebih taktik atau memotivasi? Tentu saja memotivasi. Saya senang bermain sepak bola. Saya akan menekankan itu kepada tim, juga keindahan permainan dan motivasi,” CR7 menuturkan.

 “Sekarang saya makin terpacu untuk meraih trofi dan terus berada di level tinggi, saya masih ingin bermain dalam jangka waktu yang lama.”*FABIANA DELLA VALLE DARI TURIN

news
Penulis
Suryansyah
news
news