news
LIGA 1
Persib Punya Empat Modal untuk Meraih Prestasi Musim 2019, namun Gagal. Ini Penyebabnya
28 December 2019 14:10 WIB
berita
Bobotoh jadi salah satu modal Persib untuk meraih prestasi, namun tuntutan mereka bisa jadi beban bagi pemain/Foto:TopSkor/Ady Sesotya
BANDUNG – Sosok pelatih hebat. Pemain dengan kualitas sepak bola mumpuni. Manajemen bagus. Dan suporter fanatik. Itu syarat utama meraih prestasi bagus di kompetisi Liga 1. Elemen-elemen tersebut dipercayai bisa mengantarkan sebuah tim ke gerbang juara.

Persib Bandung memiliki semuanya. Tradisi juara pun menyertai langkahnya selama ini pada pentas sepak bola nasional. Pada era kepelatihan Djadjang Nurdjaman misalnya, empat gelar disodorkan ke lemari prestasinya. Jauh sebelumnya, pelatih Indra M Thohir sukses membumikan gelar juara Liga Indonesia perdana.




Baca Juga :
- Kompetisi Berhenti, Fisioterapis Persib Perdalam Ilmu lewat Internet
- Lupakan Laga melawan Persita, Persib Terus Pantau Perkembangan Kondisi Pemain


"Atmosfer sepak bola yang panas, boleh jadi sebab utamanya. Tuntutan prestasi sangat tinggi. Setiap musim kompetisi harus bisa meraih gelar juara. Barangkali itu yang membebani langkah pemain Persib untuk bisa jadi juara dalam waktu yang singkat," kata Asep Kustiana, gelandang bertahan Persib era 1990-an, Jumat (27/12).

Fenomena itu benar adanya. Atmosfer sepak bola di Bandung memang sangat panas. Berbeda dengan daerah lainnya. Pemain yang beredar di Bandung, kerap dihantui beban mental yang berat karena tekanan datang dari semua penjuru mata angin.


Baca Juga :
- Duo Kembar Bagas-Bagus Sampaikan Simpati kepada Penyerang Persib Wander Luiz
- Sujana Masih Ingat dengan Cemoohan: Kalau Nendang Bola Jangan Pakai Gigi


Persib seolah-olah jadi "musuh bersama". Jargon “Asal bukan Persib” menggema sebelum kompetisi digulirkan dan jadi sasaran tembak  rival ketika kompetisi bergulir. Semua rival selalu punya energi lebih untuk mengalahkan Pangeran Biru.

Di sisi lain, bobotoh inginnya Maung Bandung selalu menang dalam tiap pertandingan. Main jelek dan kalah pasti di-bully. Ezechiel N’Douassel pernah jadi sasaran bully bobotoh ketika Maung Bandung manggung di markas Bali United. Itu yang diduga menjadi penyebab isu mundurnya N’Douassel mencuat belakangan ini.

Tidak aneh banyak pemain bintang di klub lain, ketika berseragam Maung Bandung gagal bersinar. Apa yang mereka hamparkan di Persib tidak sehebat aksinya di klub sebelumnya. Itu yang membuat Persib butuh waktu panjang untuk jadi juara. Buntutnya Persib tidak memiliki siklus juara per tiga tahun, lima tahun, atau tujuh tahun misalnya.

"Saya sudah bermain di banyak klub. Tapi soal tekanan, di Persib memang paling berat. Beda jauh dengan klub luar Bandung. Risiko itu, suka tidak suka, harus diterima pemain. Yang harus dilakukan bagaimana bisa keluar dari tekanan itu dan tampil kompetitif dalam setiap laga," kata legenda Persib Eka Ramdani kepada TopSkor.

Nama Besar

Khair Rifo, legenda Persib lainnya, membenarkan komentar koleganya. Denyut keseharian Persib memang khas. Jauh berbeda dengan Persija Jakarta atau PSMS Medan yang pernah dibelanya. Main di Persib, menurutnya, sangat susah. Tidak cukup nama besar dan kemampuan teknik semata.

"Yang pertama harus kuat adalah mentalnya lebih dulu. Kalau neggak kuat mental, percuma. Pesona Persib tidak bisa ditaklukkan hanya dengan kemampuan olah bola yang jempolan. Mental dan adaptasi yang bagus, harus jadi yang terdepan," ujar Rifo di Stadion Sidolig, Bandung.

"Harapan saya pemain baru yang akan datang nanti benar-benar bermental baja. Kuat melawan tekanan dan beban mental. Syukur-syukur adaptasinya cepat. Jadi mereka bisa langsung nyekrup dengan langgam permainan Persib," Rifo menambahkan.*Dani Wihara

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id
news
news