news
LIGA INGGRIS
Statistik Tottenham Sangat Buruk untuk Hal Ini
21 December 2019 14:00 WIB
berita
Gelandang serang Spurs Christian Eriksen tidak lagi produktif dalam mengeksekusi bola-bola mati.
LONDON - Gol sundulan Jan Vertonghen ke gawang Wolverhampton Wanderers dalam Laga Primer di Molineux akhir pekan lalu terasa istimewa. Bukan karena gol itu dicetak pada injury time dan jadi penentu kemenangan 2-1 Tottenham Hotspur. Bukan juga karena bek tengah asal Belgia itu jarang mencetak gol. Gol itu jadi istimewa karena dibuat dari situasi bola mati alias set piece.

Maklum, mencetak gol dari bola mati adalah sesuatu yang tidak biasa bagi Tottenham di Liga Primer musim ini. Gol yang dibuat Vertonghen dengan memanfaatkan tendangan pojok Christian Eriksen itu hanya gol set piece ketiga yang ditorehkan The Lilywhites di kompetisi elite Inggris itu musim ini.




Baca Juga :
- Inilah Tiga Pemain Tercepat MU Musim Ini Menurut Daniel James
- Inilah Klub-klub yang Paling Dirugikan jika Kompetisi Musim Ini Dibatalkan karena Wabah Corona


Hanya Chelsea FC (2 gol), Crystal Palace (1 gol), dan Watford FC (0 gol) yang mencetak gol set piece lebih sedikit daripada Tottenham musim ini. Fakta ini kontras dengan musim lalu saat itu Spurs mencetak 16 gol dari bola mati di Liga Primer. Catatan ini hanya kalah dari tim juara Liverpool FC yang membukukan 11 gol set piece.

Kelemahan dalam memanfaatkan bola-bola mati boleh dibilang salah satu faktor yang menyebabkan Tottenham sempat terpuruk di Liga Primer musim ini. Pasalnya, dampak dari set piece di kompetisi elite Inggris ini semakin besar. Dalam lima tahun terakhir, porsi tendangan pojok yang berbuah gol terus mengalami peningkatan.


Baca Juga :
- Man City Klub Inggris Pertama yang Tidak Merumahkan Karyawan di Tengah Wabah Corona
- Tevez: Pemain Bisa Hidup Nyaman Selama Enam Bulan atau Setahun Tanpa Dibayar


Peningkatan ini memang tidak besar (dari 3% menjadi 4%). Tapi, gol-gol set piece itu bisa jadi pembeda dan bisa mengangkat sebuah tim dari peringkat kelima klasemen ke urutan keempat (zona Liga Champions) atau dari peringkat ke-18 (zona degradasi) ke peringkat ke-17 (zona aman). 

Menurunnya kemampuan Tottenham mencetak gol dari bola mati juga tidak terlepas dari pergantian eksekutor. Bek kanan Kieran Trippier yang jadi spesialis tendangan pojok dan tendangan bebas telah dijual ke Atletico Madrid musim panas lalu. Eriksen yang tidak kalah piawai mengeksekusi bola-bola mati, lebih sering jadi cadangan.

Winger Erik Lamela adalah spesialis bola mati lainnya yang dimiliki Tottenham. Tapi, dia absen sejak Oktober lalu karena cedera hamstring. Ironisnya, striker Harry Kane yang selalu jadi eksekutor tendangan bebas langsung, tidak bisa dibilang spesialis.

Dari 33 tendangan bebas langsung yang dilakukan sepanjang kariernya di Liga Primer dan Liga Champions, hanya satu yang berbuah gol. Itu terjadi lawan Aston Villa pada November 2014 dan bola masuk ke gawang lantaran berubah arah setelah membentur lawan sehingga lebih layak disebut gol bunuh diri. Tak heran jika kemudian Tottenham tercatat sebagai tim dengan angka ekspektasi gol (xG) paling rendah di antara ke-20 tim di Liga Primer musim ini.*RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

Ekspektasi Gol dari Bola Mati di Liga Primer 2019/20
Burnley                      8,84
Southampton             7,81
Bournemouth             7,55
Everton                      6,58
West Ham                  6,45
Leicester                    6,33
Man City                     6,3
Man Utd                      5,55
Liverpool                     5,17
Sheffield Utd               5,06
Aston Villa                  4,81
Brighton                     4,62
Wolves                       4,6
Chelsea                      4,58
Arsenal                       4,2
Watford                       3,23
Palace                         3,12
Newcastle                   3,02
Norwich                       2,82
Tottenham                   2,27

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news