news
LIGA INGGRIS
Rivalitas Lama Pelatih Man. City dengan Madrid Muncul Lagi
18 December 2019 13:05 WIB
berita
Pelatih Man. City Josep Guardiola akan mendapatkan tantangan baru saat jumpa Madrid di 16 besar Liga Champions.
MANCHESTER - Perseteruan klasik antara Josep “Pep” Guardiola dengan Real Madrid kembali mencuat. Adalah hasil undian 16 Liga Champions yang mempertemukan Manchester City yang dilatih Guardiola dengan Madrid.

Guardiola, 48 tahun, memang sangat identik dengan FC Barcelona, musuh bebuyutan klub Ibu Kota Spanyol tersebut. Ia berasal dari Santpedor, sebuah kota di bagian tengah Katalunya. Tapi, dia lebih lekat dengan Barcelona, kota dengan penduduk terbanyak di wilayah tersebut. Di kota itu pula Guardiola memulai kariernya di dunia sepak bola hingga mencapai puncak prestasi.




Baca Juga :
- Houssem Aouar Mau Gabung Arsenal, Gelandang Kreatif Ini Cocok Gantikan Peran Mesut Ozil
- Tiba di Atetico, Luis Suarez Langsung Jumpa Pers: Tantangan Baru di Madrid Membuatnya Menjauh dari Catalonia


Saat memutuskan untuk beralih profesi dari pemain menjadi pelatih, Guardiola juga memulainya di Barcelona dengan menangani tim junior pada 2007. Setahun kemudian dia langsung diangkat sebagai pelatih tim senior dan kariernya langsung melejit hingga meraih reputasi sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia.

Pada saat bersamaan, Guardiola menjelma menjadi mimpi buruk bagi Madrid. Di bawah asuhannya, Barcelona merajai El Clasico di pentas domestik dan internasional. Los Azulgrana mencatatkan sembilan kemenangan, empat hasil imbang, dan hanya sekali kalah dalam 15 duel melawan Los Blancos.


Baca Juga :
- Kecam Barcelona, Lionel Messi Dapat Dukungan dari Bintang-Bintang Sepak Bola Dunia
- Turun Kasta! Pindah dari Barcelona ke Atletico, Gaji Luis Suarez Berkurang 70 Persen


Sebelum kehadiran Guardiola, Barcelona hanya sebuah klub yang lebih banyak berbicara di pentas domestik. Ketika Madrid telah mengoleksi enam Piala Champions di akhir 1960-an, Los Azulgrana belum meraih satu gelar pun di kancah elite Eropa itu. Situasi ini berlangsung hingga awal 1990-an.

Baru pada 1992 Barcelona mencicipi sukses di Piala Champions untuk kali pertama. Saat itu mereka ditangani oleh pelatih legendaris Johan Cruyff dan diperkuat sejumlah bintang top dunia seperti Ronald Koeman, Michael Laudrup, dan Hristo Stoichkov. Tim yang dijuluki The Dream Team itu dikapteni oleh Guardiola.

Ketika Guardiola kembali ke Camp Nou sebagai pelatih pada 2008, Barcelona memulai era keemasannya. Los Azulgrana bahkan mengawalinya dengan memenangi treble, La Liga, Piala Raja, dan Liga Champions pada musim debut Guardiola. Sukses itu jadi lebih manis lagi karena dilengkapi kemenangan 6-2 dalam El Clasico di Santiago Bernabeu.

“Tidak mudah meraih kemenangan di Bernabeu dan menang seperti ini lawan tim sekaliber Madrid adalah sesuatu yang luar biasa. Ini malam yang akan selalu dikenang,” kata Guardiola saat itu. “Ini salah satu hari yang paling menyenangkan dalam karier saya di sepak bola.”

Hingga saat ini, Guardiola masih menyebut kemenangan telak di kandang Madrid itu sebagai sukses terbesar dalam kariernya. Dia menegaskan hal itu ketika ditanya apakah keberhasilan meraih gelar Liga Primer bersama City untuk kali kedua beruntun musim lalu sebagai prestasi terbaik baginya.

Well, saya tidak akan bilang begitu karena gelar liga pertama saya bersama Barcelona, saat kami menang 6-2 di Bernabeu, sangat istimewa buat saya,” ujarnya. “Saat itu adalah musim pertama saya sebagai pelatih di kampung halaman saya bersama klub yang paling saya cintai.”

Sejak kehadiran Guardiola sebagai pelatih, Barcelona jadi klub yang jadi rival setara buat Madrid. Jurang prestasi antara kedua tim terbesar Spanyol itu kini menyempit. Barcelona bahkan memenangi delapan gelar La Liga dalam 11 musim terakhir dan Madrid hanya dua. 

Tapi, catatan positif Guardiola sebagai pelatih melawan Madrid terhenti setelah dia meninggalkan Barcelona. Pada 2014, Guardiola telah menjadi pelatih FC Bayern Muenchen kembali bertemu Los Blancos di semifinal Liga Champions. Hasilnya, Die Bayern kalah 0-1 di Bernabeu dan dipermalukan empat gol tanpa balas di Allianz Arena. 

Meski begitu, Guardiola akan selalu menjadi momok buat Madrid. Dia seperti Alex Ferguson bagi Liverpool FC. Sejak ditangani pelatih asal Skotlandia itulah Manchester United mampu mematahkan dominasi The Reds di Liga Primer. Karena itu pula laga City lawan Madrid boleh dibilang El Clasico mini. 

Berbeda dengan Guardiola yang punya rekor impresif lawan Madrid, City justru punya catatan negatif. The Citizens tidak pernah menang dalam empat duel melawan Los Blancos dengan dua kali imbang dan dua kali kalah.

Namun begitu, Man. City kini layak optimistis untuk bisa menyudahi catatan buruk itu bersama Guardiola. Apalagi statistik menunjukkan dari 17 duel melawan Madrid sebagai pelatih, Guardiola sembilan kali menang dan masing-masing empat kali imbang dan kalah.

“Madrid tim top dan tidak diragukan lagi bahwa ini hasil undian yang berat buat kami karena mereka telah memenangi kompetisi ini 13 kali. Jadi, Madrid adalah tim terbaik dalam sejarah kompetisi ini,” ucap Txiki Begiristain, Direktur Olahraga City. “Tapi, jika ingin jadi yang terbaik, Anda harus mengalahkan yang terbaik. Cara terbaik untuk memulainya adalah dengan mengalahkan Madrid.”***RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

 

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho