news
LIGA CHAMPIONS
Faktor Ini Membuat Keita Bermain Taktis
12 December 2019 13:15 WIB
berita
Dengan bermain sedikit ke dalam, gelandang Liverpool Naby Keita (kiri) justru mampu bermain lebih efektif. Itu ia buktikan saat melawan RB Salzburg pada laga terakhir Grup E Liga Champions, Selasa (10/12) malam lalu.
WALS-SIEZENHEIM - Pelatih Liverpool FC Juergen Klopp membuat keputusan berani saat menjadikan Naby Keita sebagai starter pada laga krusial Liga Champions di kandang FC Red Bull Salzburg, Selasa (10/12) malam. Sebelum pertandingan terakhir (keenam) di Grup E tersebut, The Reds selaku juara bertahan Liga Champions justru terancam tersingkir karena hanya unggul satu angka dari SSC Napoli dan tiga atas Salzburg.

Segudang pertanyaan muncul karena gelandang tengah, 24 tahun, itu baru tiga kali dimainkan di Liga Primer 2019/20 karena cedera otot. Keita juga baru sekali menjadi starter dalam empat bulan liga musim ini, akhir pekan lalu. Saat Liverpool menang 3-0 di kandang AFC Bournemouth itu, Keita bermain impresif dengan satu gol dan satu assist.  




Baca Juga :
- Keylor Navas Faktor yang Membuat PSG Favorit Meraih Gelar Liga Champions
- INFOGRAFIS: Madrid Harus Perbaiki Jumlah Gol jika Tidak Ingin Gagal Lagi


Klopp sejatinya masih memiliki James Milner atau Alex Oxlade-Chamberlain untuk duel di Red Bull Arena melawan Salzburg pada laga terakhir Grup E Liga Champions lalu. Namun, pelatih asal Jerman itu justru memilih Keita sebagai gelandang untuk melawan tim yang pernah dibelanya pada Juli 2014 sampai pertengahan 2016 itu.

Namun, Keita pun membuktikan bila Klopp tidak salah memilihnya menjadi gelandang kanan untuk pertandingan di kandang Salzburg itu. Tidak hanya dominan di lini tengah, Keita juga mampu mencetak satu dari dua gol (lainnya Mohamed Salah) tanpa balas Liverpool (2-0) pada duel di Red Bull Arena tersebut.


Baca Juga :
- Sergio Ramos Ingin Dua Tahun Perpanjangan Kontrak, Madrid Hanya Bisa Kasih Satu Tahun
- Vinicius Junior Bisa Menjadi Korban Zinedine ZIdane Selanjutnya


Kapasitas Keita sebagai gelandang memang terlihat dalam pertandingan itu. Ia mampu mengontrol penuh lini tengah Liverpool meskipun masih ada Jordan Henderson dan Georginio Wijnaldum. Keita mampu memanfaatkan banyaknya celah kosong di antara bek dan para gelandang Salzburg yang asik menyerang.

Statistik pun menegaskan vitalnya peran Keita di lini tengah Liverpool pada duel tersebut. Keita tidak hanya baik dalam bertahan tetapi juga menyerang.

Selain menyentuh bola sebanyak 61 kali, lima merebut bola dari lawan, dan tiga tekel sukses, Keita masih mampu melepaskan dua tembakan ke gawang dari lima percobaan. Keita juga sempat membuat dua peluang pada pertandingan tersebut.

Akurasi take-on (dribel lewati lawan) Keita mencapai 100 persen, empat sukses dari empat percobaan. Akurasi operannya juga sangat baik, 83 persen. Keita pun mampu memenangi delapan duel di permukaan lapangan.

Keberhasilan mencetak gol dalam dua pertandingan terakhir dalam rentang empat hari juga membuktikan Keita sudah menyatu dengan gaya permainan dan strategi yang diterapkan Klopp. Keita mampu menunjukkan ia bukan hanya bagus saat membawa bola namun juga tanpa bola, salah satu kelemahannya dulu. 

Seusai memastikan tiket ke 16 besar dengan mengalahkan Salzburg, Klopp menjelaskan perubahan taktik yang ia lakukan cocok dengan karakter permainan Keita. “Awalnya, saya selalu menurunkan Keita sedikit ke depan, membantu sayap. Lalu, kami mengubah formasi dari 4-3-3 menjadi 4-1-4-1. Dengan skema itu, saya ingin Keita bermain sebagai Nomor 10 dan terbukti mampu sangat baik melakukannya,” ujar Klopp.

Musim ini, Keita baru dimainkan 10 kali di semua kompetisi. Laga melawan Salzburg menjadi starter keduanya beruntun untuk kali pertama sejak Mei lalu. Keita dibeli dari klub Bundesliga, RB Leipzig, pada Agustus 2017 namun baru turun dengan seragam Liverpool pada Juli 2018. Kala itu, sesuai kesepakatan, Leipzig memang diizinkan untuk memakai jasa Keita satu musim lagi.

Namun begitu, cedera yang silih berganti membuat musim pertama Keita bersama Liverpool, 2018/19, sangat buruk. Ia absen dalam 14 laga The Reds karena cedera. Musim ini, Keita juga sempat cedera otot hingga absen dalam tujuh pertandingan.

Dengan performanya yang mulai impresif, Keita bisa menjadi opsi bagi Klopp di sektor tengah. Apalagi, di 16 besar nanti, Liverpool sebagai juara grup tidak lantas akan menemui lawan mudah. Mereka tidak akan melawan salah satu dari tiga klub Inggris lain yang juga lolos: Chelsea FC, Tottenham Hoptspur, dan Manchester City. Namun sebagai juara grup, The Reds dipastikan bakal melawan salah satu dari runner-up grup.

Yang menjadi masalah, sederet tim kuat musim ini lolos ke 16 besar Liga Champions bukan dengan status juara grup. Dengan begitu, Liverpool bisa saja bertemu dengan Real Madrid CF (juara 13 kali), Atletico Madrid, atau mantan klub asuhan Klopp, Borussia Dortmund. Yang pasti, The Reds tidak akan bertemu dengan Paris-Saint Germain (PSG), FC Bayern Muenchen, Juventus FC, Man. City, FC Barcelona, dan Valencia CF yang lolos sebagai juara grup.***TRI CAHYO NUGROHO DARI BERBAGAI SUMBER

 

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho