news
SEA GAMES 2019
Mengukur Kekuatan Garuda Muda jelang Final SEA Games 2019
10 December 2019 13:45 WIB
berita
Bintang timnas U-23 Indonesia, Osvaldo Haay (tengah), Saddil Ramdani (kiri), dan Sani Rizki, ketika merayakan gol di SEA Games 2019.
MANILA – Inilah saatnya, atau harus menunggu lebih lama lagi. Timnas U-23 Indonesia sudah berada di titik terakhir pertarungan memperebutkan medali emas SEA Games 2019. Pasukan Indra Sjafri hanya tinggal menghadapi Vietnam, dalam final yang akan digelar hari ini di Stadion Rizal Memorial. Ya, Vietnam.

 


Baca Juga :
- Sudah Memiliki 32 Pemain, Serigala Margonda Mulai Berlatih 6 April
- Lima Duet Bek Terbaik Persija sejak Era ISL


“Saya tunggu Vietnam di final.” Itulah kalimat Indra Sjafri setelah Garuda Muda takluk dari Vietnam dalam fase grup, 1 Desember lalu. Dalam kekalahan 1-2 tersebut, Evan Dimas dan kawan-kawan unggul lebih dulu lewat gol yang diciptakan Sani Rizki Fauzi ketika laga telah berjalan 23 menit. Namun, gol Nguyen Thanh Chung pada menit ke-64 dan Nguyen Hoang Duc jelang laga berakhir, membuat Indonesia takluk dengan cara yang dramatis.

Itulah momen ketika Garuda Muda lengah. Gol menit terakhir praktis membuat mereka tidak memiliki waktu untuk memberikan perlawanan. Yang tersisa dari laga tersebut adalah sebuah pelajaran yang berharga. Namun, kisah atau perjalanan Garuda Muda bentukan Indra Sjafri belumlah berakhir. Wajah dan karakter “melawan” diperlihatkan dalam laga semifinal menghadapi Myanmar.


Baca Juga :
- Ryan D'Masiv Kalah di Detik-detik Akhir Lelang Barang Riko Simanjuntak
- Makna Tersembunyi dari Logo dan Nama Klub AA Tiga Naga 


Seperti di laga-laga sebelumnya sepanjang SEA Games, Garuda Muda selalu mampu mencetak gol lebih dulu. Kekuatan inlah yang juga diperlihatkan saat menghadapi Myanmar. Namun, jelang laga akan berakhir, dua gol Myanmar, yang salah satu golnya ditandai dengan tidak lengketnya penyelamatan kiper Nadeo Argaminata, memaksa laga dilanjutkan melalui perpanjangan waktu.

Dan, Garuda Muda tetap berhasil membuktikan mereka adalah tim yang mampu mengatasi tekanan dalam momen-momen krusial. Jadi, setelah enam pertandingan yang telah dilalui hingga membawa mereka ke final, Indra telah berhasil membentuk sebuah tim yang memang memiliki potensi sebagai juara.

Tim yang jelas pola serangannya: dengan 4-3-3 mengandalkan kekuatan serangan sayap. Selalu ada Egy Maulana dan Saddil Ramdani di antara sang mesin gol, Osvaldo Haay. Lalu ada “joker” Sani Rizki Fauzi. Menghadapi Myanmar, Rizki, pencetak satu-satunya gol Indonesia lawan Vietnam, mampu memberikan perbedaan dalam serangan tim setelah masuk sebagai cadangan.

Lalu, serangan dari kedua sayap pun bukan hanya dari Saddil dan Egy. Tidak jarang momen serangan Indonesia juga dirancang dari barisan bek, seperti Asnawi Mangkualam, yang aktif membantu serangan khususnya dalam fase perpanjangan waktu ketika menghadapi Myanmar.

Di sisi lain, lapangan tengah Garuda Muda terdiri dari pemain kreatif: Evan Dimas, dan pemain petarung, seperti Zulfiandi atau Syahrian Abimanyu. Garuda Muda juga memiliki sejumlah pemain alternatif yang dapat menambah daya serang, di antaranya Witan Sulaiman atau Feby Eka Putra.

Dengan kekuatan inilah kemudian timnas Indonesia menorehkan total 21 gol hingga semifinal. Namun, Garuda Muda harus waspada karena yang mereka hadapi juga tim yang produktif, bahkan memiliki angka yang sama dengan Garuda Muda. “Kami dan Vietnam sama-sama mencetak 21 gol dan sama-sama kemasukan empat gol,” kata Indra, mengingatkan.

Jika Garuda Muda memiliki Osvaldo, Vietnam pun punya sosok Ha Duc Chinh. Keduanya, hingga jelang final ini telah menorehkan masing-masing delapan gol. Duel final ini berarti pula menjadi persaingan keduanya dalam meraih gelar pencetak gol terbanyak SEA Games 2019.

Meski demikian, pertahanan Indonesia harus mewaspadai kemampuan Vietnam yang mampu menorehkan gol ketika laga akan berakhir. Dari 21 gol yang diciptakan Vietnam, lima gol di antaranya mereka ciptakan di atas menit ke-80.

Nguyen Trong Hung, menit ke-83 lawan Brunei, Nguyen Trong Hoang (83) dan Nguyen Quang Hai (90+) ke gawang Laos, Nguyen Hoang Duc, menit ke-90+ lawan Indonesia, dan Ha Duc Chinh menit ke-85 ke gawang Singapura. Karena itulah, membuat pertahanan yang kuat juga  kunci Garuda Muda meraih emas, hari ini.* M. Ramdan/M.Pratama

I
Penulis
Irfan Sudrajat
news
news