news
UMUM
Rahmad Darmawan: Cukup Teco, Indra Sjafri, dan Fakhri Husaini
06 December 2019 13:50 WIB
berita
Pelatih dengan Nama Besar Sebaiknya Fokus pada Pembinaan

Tawaran dari klub Cina belum serius, Shin Taeyong masih sabar menunggu keputusan PSSI.




Baca Juga :
- Pengakuan Mengejutkan Rizky Ridho: Dulu Bonek, Kini Jadi Pemain Utama Persebaya
- Kaki Striker Bali United Ini Sudah Gatal Ingin Kembali Merumput di Liga 1


JAKARTA - Pelatih baru timnas Indonesia hingga kini masih digodok. Diketahui ada beberapa nama pelatih yang sudah muncul untuk menukangi timnas Indonesia yaitu Shin Tae Yong, Luis Milla, dan kabar terbaru PSSI sedang dalam pendekatan dengan pelatih asal Belanda, Ruud Gullit.

Polemik untuk memilih pelatih timnas yang baru membuat keresahan bagi mantan pelatih Tira Persikabo, Rahmad Darmawan. RD, sapaan akrabnya, menilai kualitas dan prestasi timnas bukan hanya persoalan mengenai pelatih semata.


Baca Juga :
- Luar Biasa! Boyolali Segera Miliki Lapangan Rumput Hybrid Mirip dengan Santiago Bernabeu
- Persib Serius Kejar Gelar Juara Kompetisi Liga 1 Musim Ini


Banyak aspek yang sebenarnya mempengaruhi kinerja para pemain Garuda saat pertandingan. Termasuk masalah utamanya kompetisi harus berjalan dengan baik.

RD juga mengungkapkan jika memang pelatih top dunia itu datang, dia harus fokus terlebih dahulu pada pengembangan sepak bola usia muda. Memberi fundamental teknik, taktik, hingga pada aspek mental. Lalu federasi memfasilitasi dengan menjalankan kompetisi yang berjenjang dan berkualitas. Itulah yang dinilai RD sangat dibutuhkan timnas saat ini.

Pelatih asal lampung itu menilai walaupun timnas menghadirkan pelatih sekelas Jose Mourinho dengan kondisi seperti ini tidak akan ada perkembangan yang signifikan. Saat jadwal kompetisi yang padat dan pemain harus membela timnas, latihan terhadap pemain di timnas tidak akan proporsional sehingga bukan peak performance yang didapat dalam pertandingan melainkan kelelahan fisik.

“Saya sering protes terhadap kebijakan pemanggilan pemain timnas dengan waktu lebih lama dari ketentuan FIFA Match Day, karena saya worry pelatih akan melakukan improvisasi program yang saat pemain masuk TC beban kelelahannya berbeda, karena Liga kita main dalam waktu tidak tetap ( Sabtu-Minggu) seperti Premier atau LaLiga misalnya,” ucap RD.

Sejatinya jika semua aspek dalam kompetisi lokal sudah berjalan dengan baik, RD menilai banyak kualitas pelatih di Liga 1 yang cocok menukangi timnas Indonesia. Terlebih mereka tentu lebih memahami karakter pemain-pemain Indonesia. “Kalau soal pelatih timnas, cukup coach Teco (Stefano Cugurra), coach Indra Sjafri, dan coach Fakhri Husaeni yang lebih paham dengan kualitas dan budaya sepak bola kita. Sedangkan, pelatih dengan nama besar sebaiknya fokus pada pembinaan,” ucap RD.

Keresahan mengenai terlalu berkutiknya federasi dengan pelatih baru ini juga disoroti oleh Liestiadi. Mantan pelatih Bandung United itu mengaku lebih setuju jika PSSI dan PT LIB lebih serius dalam meningkatkan dan memperbaiki kualitas Liga.

“Mulai fasilitas/infrastruktur, finansial, akademi (youth development), wasit-wasit yang bertugas di Liga, jadwal kompetensi yang proposional dengan agenda FIFA Match, hingga peningkatan kualitas pelatih dan wasit lokal dengan kursus berstandard Internasional (AFC/FIFA),” kata Liestiadi.

Liestiadi juga menyatakan seharusnya Indonesia bisa belajar dengan liga luar. Sebagai pembanding,  timnas Jerman dan Spanyol yang selalu menggunakan pelatih lokal tetapi berprestasi internasional seperti piala Dunia dan Eropa. Hal itu terjadi salah satunya karena mereka mempunya kompetisi top level yang baik dan terencana sejak awal.*NIZAR GALANG GANDHIMAR

 

R
Penulis
Rizki Haerullah